Category Archives: Uncategorized

The Unanswered Question (2)

His name is Mr. Ridwan. I don’t know why I must remember his name. It is like a scar inside me. He made me never come home. Okay, it is more like I feel dissapointed to my parents just why they let a person like Mr. Ridwan, who is a stranger, torture me with his riddiculous conversation. He made me like a third person with these sentences:

“I came here because you popping out in my dream like a lost girl, going here and there without no destination.”

“You must have a trusted friend who help you through your difficult time and I can be that person.”

(What the hell, who are you?)

And some laughs for me. In front of me. And I didn’t understand why my parents trust this riddiculous person.

I left unproper words, painted in my room just to show how angry I am. I left home without words. I fight many times with my mother. I don’t let her come to my place. I warn her I need some comfort place where I never disturbed by some “home and family problems”. I never let her disturbed me via social media. Even I blocked her WhatsApp account. I did that for my mental health because everytine she did unecessary misscalls I feel annoyed. Like a bomb that want to boom.

I must say to Mr. Ridwan, wherever he is, he success to make me not coming home. I don’t know what my plan either.

The Unanswered Question

Mistakes are always forgivable, if one has the courage to admit them.

– Bruce Lee


So here I am again. Let me give you my another boring story.

Suddenly, in early Sunday morning, when I still on my bed and sleep, my brother wake me up. He said to me that there was an old man want to meet me. I asked him to tell the old man that our parents were out but my brother said that the guest insist to meet me.

I woke up lazily and made an effortless to wash my face and change my clothes. Suddenly my parents were also in livingroom. The awkward mode inside me awakened because I think my parents already gone to their event.

The guest asked me to sit in an empty chair. Although he was the guest… I mean I knew where I must sit! Then he introduced himself. I remembered his name. Then he asked me to close my eyes and think whether he good or bad person. I knew something wrong. I did close my eyes but just for a while. I opened them not in a supposed time. Then he asked why I opened my eyes. I just asked in my mind, why closed them when we intoducing ourselves to a new person? Riddiculous, I think.

He said, “When you introducing yourself to a new person, you need to shake each other hand and close your eyes to think whether the person good or bad.” Who’s agree with his opinion? That’s crazy thing I ever heard. I mean, imagine that you meet new friends and really do that!

I’ll write the other part to tell you what the guest purpose to meet me. Believe me, it’ll be crazier.

My First Flight

Akhirnya… bisa merasakan juga naik pesawat.

Pesawat pertama di Juanda menuju Sepinggan adalah Citilink. Malam sebelumnya, ada pemotretan dengan teman-teman MEET UP di Jonas.

17663387_410673542629658_4261134902306537472_n

Setelah itu, menginap di kos Sally sudah dengan membawa alat tempur untuk travelling. Nah, di sini saya baru sadar kalau saya butuh ‘tas travel’. Yah, meskipun bukan traveller sejati… sepertinya itu barang wajib. Soalnya pas di bandara, semuanya bawa mentereng, saya cuma tas butut…

Continue reading My First Flight

Pendakian

Jam dinding ruang tamuku menunjukkan angka 13.30 dan saat ini di luar sedang hujan. Di ruang tamu ini aku tidak sendiri, aku ditemani oleh kelima temanku yang lain. Mereka saat ini sedang duduk lesu memandang cangkir kopi masing-masing yang tadi dibuatkan oleh ibuku. Seharusnya, mereka sudah menyeruput cangkir masing-masing seakan takut kopi di dalamnya menjadi dingin. Begitu pula tangan-tangan lincah itu, harusnya mereka sudah menggerayangi toples kaca kuno milik nenekku yang selalu terisi dengan rengginang dan kacang kulit serta mengisi piring plastik dengan kulit-kulitnya.

Continue reading Pendakian

Kata-kata Punya Cara Tersendiri dalam Membunuh Seseorang

Cara belajarku bukan seperti ini.

Ya, secara bertahun-tahun saya ditempa belajar di sekolah dan kuliah, ditemukan dengan bermacam-macam karakter guru. Ada yang penyabar, santai, sampai yang killer. Ajaibnya, untuk guru yang killer sekalipun saya bisa menerima bahkan kagum. Pernah suatu ketika, di saat teman-teman sekelas ketakutan hingga mempengaruhi nilai ujian mereka, justru saya sebaliknya. Nilai saya ‘outstanding’ untuk mata pelajaran guru saya yang killer itu. Semangat saya tinggi.

Dibandingkan dengan apa yang terjadi saat ini, semuanya berubah total. Saya ditemukan dengan ‘guru’ yang killer namun kenyataannya saya selalu terlihat bodoh. Saya pun sadar, ada perbedaan yang sangat mencolok.

Bahwa, sebenarnya letak metode pembelajaran tidak tergantung dari seberapa killernya sang guru. 
Bahwa keterbukaan untuk membagi ilmu, kerendahan hati untuk membuka kesempatan belajar akan memberi keleluasaan bagi sang murid untuk mempelajari sesuatu, bahkan dari kesalahannya.
Bahwa kesalahan sekalipun, merupakan sebuah pelajaran tersendiri.
Bahwa sebuah pujian dan kalimat koreksi akan lebih membekas di kepala dibandingkan cercaan yang justru membekasnya di hati. Seperti kalimat ‘kamu sudah baik di aspek ini tapi kamu kurang di aspek ini’ akan lebih bermakna ketimbang kalimat ‘kamu gimana sih, kamu tahu gak salahmu di mana? Kamu sudah belajar apa belum?’ Yang pada akhirnya membuat si pembelajar akan melakukan sesuatu berdasarkan rasa takut akan ditegur, bukan karena ingin benar.

Karena hal itulah, seorang pembelajar akan menutup kesempatannya dengan memasukkan paham ‘aku tidak bisa, aku bodoh’. Maka, seorang guru haruslah berhati-hati, sebuah kata-kata bisa membunuh seseorang dengan caranya sendiri. Tetaplah menebar kebaikan, seperti kata seorang sahabat: ‘dengan melakukan kebaikan, sebenarnya seseorang sedang  membuka dua pintu kebaikan lainnya. Sebaliknya, dengan melakukan keburukan, dia sedang menutup dua pintu kebaikannya’.