My First Flight

Akhirnya… bisa merasakan juga naik pesawat.

Pesawat pertama di Juanda menuju Sepinggan adalah Citilink. Malam sebelumnya, ada pemotretan dengan teman-teman MEET UP di Jonas.

17663387_410673542629658_4261134902306537472_n

Setelah itu, menginap di kos Sally sudah dengan membawa alat tempur untuk travelling. Nah, di sini saya baru sadar kalau saya butuh ‘tas travel’. Yah, meskipun bukan traveller sejati… sepertinya itu barang wajib. Soalnya pas di bandara, semuanya bawa mentereng, saya cuma tas butut…

Continue reading

Advertisements

Pendakian

Jam dinding ruang tamuku menunjukkan angka 13.30 dan saat ini di luar sedang hujan. Di ruang tamu ini aku tidak sendiri, aku ditemani oleh kelima temanku yang lain. Mereka saat ini sedang duduk lesu memandang cangkir kopi masing-masing yang tadi dibuatkan oleh ibuku. Seharusnya, mereka sudah menyeruput cangkir masing-masing seakan takut kopi di dalamnya menjadi dingin. Begitu pula tangan-tangan lincah itu, harusnya mereka sudah menggerayangi toples kaca kuno milik nenekku yang selalu terisi dengan rengginang dan kacang kulit serta mengisi piring plastik dengan kulit-kulitnya.

Continue reading

Coelho, Paulo. 2014. Sang Pemenang Berdiri Sendirian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

51mrRLizGuL._SX347_BO1,204,203,200_

Aku seperti kodok yang direbus tadi. Aku tidak menyadari perubahannya. Kukira semua baik-baik saja, keadaan buruk pasti berlalu, tinggal menunggu waktu. Aku siap mati karena telah kehilangan hal terpenting dalam hidupku, tapi bukannya bereaksi, aku malah duduk berendam dengan apatis dalam air yang lama-lama makin panas.

 

Manusia tidak pernah puas. Kalau mereka punya sedikit, mereka ingin lebih. Kalau mereka punya banyak, mereka tetap ingin mebih. Begitu mereka punya lebih banyak, mereka berharap bisa bahagia dengan sedikit barang, tapi tidak mampu berusaha berubah.

 

Cara terbaik melihat manusia adalah dari langit tinggi. Hanya saat itulah kita bisa memahami betapa kecilnya diri kita.

 

 

Kalau kau yakin akan menang, kau akan menang.

 

 

Pertaruhkan semuanya atas nama kesempatan dan jauhi segala sesuatu yang membuatmu terjebak di zona nyaman.

 

 

Dia berkata, kita semua dikelilingi orang yang penuh percaya diri dan telah mencapai kejayaan, tapi mereka tidak bahagia. Mereka berada di puncak karier dan takut akan jatuh.

Superman Return

It’s the UFC weigh in.

Checking on the fighters’ weights.

Cameras from all around the world.

They’re focusing on…

Fighter Choo Sunghoon.

People have gathered to see the fighters.

Sunghoon’s family is here too.

He began as a young judoka.

He became the best in Asia.

He entered MMA in 2004.

Sunghoon began judo at the age of 3.

He conquered Korea and Japan.

He didn’t give in prejudices of this world.

And became a true champion in his own right.

He had countless fights.

He jumped into the world of MMA.

He became the K-1 champion in 2006 and conquered as a fighter.

He continued to succeed with his family’s support.

He never gave up and gave it his all.

It made everyone cry.

Now he’s on the world stage.

However.

After winning his debut fight.

He lost 4 straight.

Then he took a 2 year 8 month break.

Now.

He’s the father of 4-year-old Sarang.

Everyone’s saying he should retire.

He’s a 40-year-old veteran fighter.

However.

Sunghoon didn’t stop training.

He had a family that believed in him.

To be a great father for his loving daughter.

He’s decided to get back in the octagon.

“I counted. It’s my first win in 5 years. It took 5 years. That’s a long time.”

“You get hurt. Why do you want to do it so badly?”

“I’ve lived in the world of winners ever since I was young. Words can’t explain how happy I am when I win.”

“It must feel totally different.”

“Yes, it’s a totally different feeling. Also, having people which are happy for me… My body gets torn to bits but I feel happy.”

“Right.”

“A lot of people support me.”

“That’s true.”

“I’m not alone. I want to be stronger.”

Kata-kata Punya Cara Tersendiri dalam Membunuh Seseorang

Cara belajarku bukan seperti ini.

Ya, secara bertahun-tahun saya ditempa belajar di sekolah dan kuliah, ditemukan dengan bermacam-macam karakter guru. Ada yang penyabar, santai, sampai yang killer. Ajaibnya, untuk guru yang killer sekalipun saya bisa menerima bahkan kagum. Pernah suatu ketika, di saat teman-teman sekelas ketakutan hingga mempengaruhi nilai ujian mereka, justru saya sebaliknya. Nilai saya ‘outstanding’ untuk mata pelajaran guru saya yang killer itu. Semangat saya tinggi.

Dibandingkan dengan apa yang terjadi saat ini, semuanya berubah total. Saya ditemukan dengan ‘guru’ yang killer namun kenyataannya saya selalu terlihat bodoh. Saya pun sadar, ada perbedaan yang sangat mencolok.

Bahwa, sebenarnya letak metode pembelajaran tidak tergantung dari seberapa killernya sang guru. 
Bahwa keterbukaan untuk membagi ilmu, kerendahan hati untuk membuka kesempatan belajar akan memberi keleluasaan bagi sang murid untuk mempelajari sesuatu, bahkan dari kesalahannya.
Bahwa kesalahan sekalipun, merupakan sebuah pelajaran tersendiri.
Bahwa sebuah pujian dan kalimat koreksi akan lebih membekas di kepala dibandingkan cercaan yang justru membekasnya di hati. Seperti kalimat ‘kamu sudah baik di aspek ini tapi kamu kurang di aspek ini’ akan lebih bermakna ketimbang kalimat ‘kamu gimana sih, kamu tahu gak salahmu di mana? Kamu sudah belajar apa belum?’ Yang pada akhirnya membuat si pembelajar akan melakukan sesuatu berdasarkan rasa takut akan ditegur, bukan karena ingin benar.

Karena hal itulah, seorang pembelajar akan menutup kesempatannya dengan memasukkan paham ‘aku tidak bisa, aku bodoh’. Maka, seorang guru haruslah berhati-hati, sebuah kata-kata bisa membunuh seseorang dengan caranya sendiri. Tetaplah menebar kebaikan, seperti kata seorang sahabat: ‘dengan melakukan kebaikan, sebenarnya seseorang sedang  membuka dua pintu kebaikan lainnya. Sebaliknya, dengan melakukan keburukan, dia sedang menutup dua pintu kebaikannya’.