Category Archives: Competition

OASE DI TENGAH PADANG PASIR

(Pernah diikutkan dalam Lomba PT. Rohto Laboratories Indonesia)

 

Hari ini aku duduk di samping sahabatku, Wira, di tempat yang tak biasanya. Ia tak pernah mengajakku ke tempat ini. Tempat ini begitu hijau, teduh, dan jauh dari keramaian. Beberapa menit yang lalu Wira tiba-tiba saja datang padaku mengajakku pergi dengan motor balapnya. Seperti biasa, ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, tanpa penjelasan apapun. Aku tahu, saat seperti itu adalah saat sulit baginya. Pasti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

Continue reading OASE DI TENGAH PADANG PASIR

New Heartbeat

(pernah diikutkan dalam lomba Menulis Berbagi)

Tahun lalu merupakan tahun terakhir dalam studiku. Tahun terakhir itu adalah kegiatan studi profesi, pengabdian penuh di Rumah Sakit. Kalau ditanya ruang apa yang meninggalkan kesan dalam satu tahun itu, aku tidak bisa menjawab dengan pasti karena setiap ruangan memiliki cerita tersendiri. Namun ada suatu cerita yang membekas selama aku dan teman-teman sedang praktik di ruang observasi jantung atau ICCU, sebuah ruang kritis yang menurutku spesial. Pasien yang dirawat di sini biasanya adalah para pasien yang sudah menjalani operasi jantung dan belum siap untuk ditempatkan di ruangan biasa. Mereka butuh observasi secara ketat melalui sebuah monitor yang terhubung entah bagaimana caranya dengan kabel-kabel dan sadapan yang ditempelkan di dada kiri pasien. Dari monitor yang ditempatkan di nurse station, para petugas medis bisa melihat irama jantung tanpa harus datang ke ruang pasien.

Continue reading New Heartbeat

Sederhana dan Bersyukur

(Pernah diikutkan dalam Giveaway Tell Them All)

Pertanyaan yang sederhana, ‘sepenting apakah sebuah materi untuk manusia?’ Jaman sekarang sorotan media kita selalu mempertontonkan bagaimana pentingnya status seseorang. Mulai sosok seorang artis dan pejabat negara kita yang bergaya hidup mewah, memiliki tas ratusan juta rupiah, sepatu dan mobil yang bermerk.

Continue reading Sederhana dan Bersyukur

Book Addict Is The New Sexy

*tulisan ini diikutkan dalam LOMBA BLOG ULANG TAHUN KE-5 PENERBIT ‘STILETTO BOOK’*

Melalui tulisan ini saya ingin flash back sebentar kenapa saya berani ikut kampanye ini. Tentunya karena punya hobi membaca, saya percaya diri untuk memposting tulisan ini dan semoga lewat tulisan ini saya bisa menggerakkan teman-teman untuk memulai budaya gemar membaca.

Continue reading Book Addict Is The New Sexy

One Day Three Autumns

BONUS COVER

(Finalis lomba fanfiction ‘Under Oppa Spell’ yang diselenggarakan oleh Cassiopeia Surabaya)

1. Author : Kiky Rose

2. Genre : Friendship Rating: PG-15/Teens

3. Cast : Yunho, Jaejoong, Junsu, Yoochun & Changmin


Hei kalian.

Maafkan aku. Mungkin ini akan menjadi pesan terakhir yang kalian terima dariku.

Aku cuma ingin mengatakan, aku senang bekerjasama dengan kalian.

Kalau mungkin ~yah, aku tidak benar-benar mengharapkan~ ada yang ingin kalian katakan kepadaku, temui aku di tempat yang dulu sering kita datangi untuk mengisi waktu luang. Tempat yang mirip dengan drama Micky ~haha… mungkin saja kalian sedang ingin menyampaikan sesuatu… sebelum aku benar-benar memutuskan pikiran gilaku.

Aku tunggu kalian sebelum jam 12 malam ini.

Sekali lagi, senang bertemu kalian…

Yunho membaca lagi pesan yang akan ia kirimkan kepada keempat teman dekatnya. Butuh berhari-hari untuk merangkai kata-kata di ponselnya itu. Ia tidak bisa merangkai dengan baik kalimat panjang yang merupakan sebuah petunjuk tersembunyi.

Send

Yunho mengirim juga sekumpulan petunjuk ambigu yang telah ia baca berulang-ulang. Ia sendiri tidak yakin keempat temannya bisa mengerti apa yang dimaksudkannya. Setelah menerima pesan operator bahwa pengiriman pesannya berhasil, ia menon-aktifkan ponselnya dan memasukkannya ke dalam kantong.

“Ah, aku tidak yakin para idiot itu mengerti maksudku…”

Terdengar suara gaduh dari ruangan lain diiringi dengan suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

“Hyung! Apa maksudmu mengirim pesan ini? Ini nomormu kan?” tanya Changmin sambil menunjukkan ponselnya.

“Iya,” jawab Yunho tenang.

“Apa maksudmu, sih? Dan kalau kubaca dari pesanmu, tampaknya kau mengirimnya ke banyak orang? ‘kalian’ ini siapa saja?”

“Aku butuh bantuanmu,” ucap Yunho serius, membuat Changmin tidak berkutik. Yunho tahu dia tidak mungkin menyembunyikan ini semua di hadapan Changmin yang tinggal satu dorm dengannya.

“Kau mengirim pesan ini kepada yang lainnya?” Yunho mengangguk.

Sementara itu, di suatu set drama, seorang manajer artis berdiri di belakang kamera sambil menggenggam ponsel. Ia memperhatikan artisnya yang sedang serius berakting dengan lawan mainnya. Si manajer ini tidak pernah menyangka bahwa anak didiknya memiliki bakat akting yang mengagumkan. Yoochun, nama artis yang ia kelola itu awalnya memasuki dunia akting karena sekedar mempromosikan grup lamanya, sebelum dia dan kedua temannya yang lain memutuskan untuk keluar dari manajemen lama mereka.

“Gamsahamnida, hyung,” ucap Yoochun menerima sebotol air mineral pemberian manajernya.

“Ini sudah take ke berapa, Yoochun-ah, dan kamu masih saja salah. Aku rasa kau kelelahan, apa aku perlu mengatakan kepada sutradara bahwa kau membutuhkan istirahat? Kita pulang saja?”

“Tidak, tidak… kalau aku pulang maka aku akan menumpuk pekerjaanku. Aku baik-baik saja, hanya kurang konsentrasi. Berikan aku waktu untuk menghafal script sebentar. Oh ya, mana ponselku?”

Yoochun menerima ponselnya setelah ia meneguk air mineral. Kegiatannya terhenti dan ia membaca pesan di ponselnya dengan serius. “Eh… hyung, tampaknya kau benar sepertinya… aku… butuh menunda syuting untuk hari ini… bisakah kau atur? Mian, merepotkanmu…”

“Apa kau sakit?”

“Tidak, tidak, aku jelaskan nanti saja, ya, hyung. Aku… buru-buru, oke?” Yoochun menepuk pundak manajernya, “Maafkan kelakuanku kali ini, tapi ini demi sahabatku, hyung…” kemudian ia berlari sambil memencet ponselnya. Yoochun merasa sial bahwa hari ini ia benar-benar harus menunda syutingnya dan meninggalkan area syuting tanpa etika. Ditambah lagi, hari ini ia tidak membawa mobil pribadinya.

Di ujung lain, Junsu sedang mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Ia memencet handsfree yang ia pasang di telinganya begitu ponselnya berbunyi.

“Yeoboseyo?”

Junsu sedang menerima panggilan dari Yoochun yang sekarang berbicara dengan sangat tidak santai, “Iya, iya, Micky! Tenanglah! Aku juga sudah menerima pesan dari Yunho. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi kalau kau ingin menanyakannya, tapi sekarang aku sedang menuju dorm mereka. Kau di mana?”

Junsu mengubah tujuannya di GPS yang terpasang di dashboard dan melenggang menuju lokasi syuting Yoochun. “Oke, aku akan menjemputmu, tunggu aku. Aku sudah menghubungi Jaejoong dan dia tidak begitu tertarik dengan hal ini, aish… aku bertengkar dengannya gara-gara hal ini. Apa sebenarnya yang dipikirkan Yunho? Pokoknya tunggu aku, kita akan bertemu dengan Changmin di dorm-nya.”

Beberapa menit selanjutnya, mobil Junsu pun terlihat mendekati Yoochun. Si pemilik mobil pun membukakan pintunya, “Cepatlah masuk, kita bahas sambil jalan!” Yoochun menuruti perintah temannya itu. “Aku sedang berada di lokasi drama musikal ketika menerima pesan itu. Untung saja hari ini hanya latihan pembacaan naskah pertama!”

“Aku juga sedang syuting… tapi aku lebih memikirkan hal lain, apa… tidak apa-apa kita terlihat mengunjungi dorm mereka? Kau tahu maksudku…” ucap Yoochun mengisyaratkan tentang perseteruan grup mereka.

“Aku akan memarkir mobil jauh dari dorm mereka.”

Sisa perjalanan itu mereka lalui dengan diam, namun pikiran mereka berkecamuk dengan isi pesan yang dikirim Yunho. Keduanya berhasil memasuki dorm Yunho dan Changmin tanpa menarik perhatian.

“Apa maksudnya dengan ‘tempat yang mirip dengan drama Micky’? Cukup beritahu kita tanpa harus bermain sok detektif-detektifan begini kan tidak merepotkan! Lagipula apa yang akan dia lakukan setelah jam duabelas malam?”

“Bukankah sudah jelas? Akhir-akhir ini dia depresi. Aku dan Yunho memiliki jadwal yang berbeda dan kami jarang bertemu. Aku juga merasakan perbedaan yang sangat besar, suasana kesendirian yang jauh lebih terasa karena kami tinggal hanya berdua… bukankah pesannya mengarah ke sana? Maksudku… apa lagi kalau bukan…”

“Bunuh diri, maksudmu?” Changmin mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan mata kedua sahabatnya. Sudah lama mereka tidak duduk di tempat yang sama dan saling bercengkerama.

“Oke, oke. Apapun yang sedang dia rencanakan, yang penting, di mana si sinting ini meminta kita datang? Memangnya ada tempat yang sering kita kunjungi dan mirip dengan dramamu, Micky?”

“Entahlah… dia juga menon-aktifkan ponselnya!”

Ketiganya kembali terdiam memutar otak. Dalam keadaan seperti ini mereka sangat membutuhkan kehadiran Jaejoong, seorang yang paling cerdas di antara mereka.

Jam menunjukkan pukul 12 siang. Meskipun Changmin sudah mengeluarkan hampir seluruh isi lemari es untuk mengisi perut mereka yang lapar karena terlalu banyak berpikir, mereka juga belum bisa memecahkan teka-teki yang diberikan Yunho. Changmin pun dengan sengaja membuka ponsel dan memeriksa akun sosial media Yunho karena Yunho mengirim pesan kepada Changmin dan menyuruhnya menunjukkan update-nya kepada yang lain.

“Lihat ini, baca, dan amati di mana itu?” seru Changmin kepada kedua temannya yang masih kebingungan.

“Astaga! Kenapa tidak terpikirkan? Tentu saja!” ucap Yoochun seketika begitu melihat potret Yunho.

“Di mana?”

“Sebuah tempat yang mirip dengan dramaku, tentu saja! Kalian ingat cafe milik seorang ahjumma yang dibangun di atap sebuah apartemen sederhana di kampung halaman Yunho? Bukankah kita sering mendatanginya dulu?”

“Aaah… rooftop cafe?”

Tanpa keyakinan yang pasti, ketiga sahabat itu pun meluncur ke kampung halaman Yunho. Changmin menyembunyikan kelegaannya dalam hati karena sedikit demi sedikit kebohongannya akan berakhir. Dia harus berpura-pura tidak mengetahui apa yang akan direncanakan Yunho. Tapi Changmin menyayangkan bahwa Jaejoong, anggota yang paling dekat dengan Yunho, tidak datang bersama Junsu dan Yoochun.

Pesan Yunho di akun media sosialnya benar-benar meninggalkan kesan yang kuat untuk petunjuk keberadaannya sehingga Junsu dan Yoochun bertambah khawatir. Bersama dengan foto sepasang kaki yang berdiri di ketinggian, ia menuliskan:

Beberapa saat lagi, dari ketinggian sini, akan kuputuskan…

Perjalanan ke kampung halaman Yunho membutuhkan waktu yang tidak singkat. Langit sudah berubah menjadi gelap saat mereka bertiga turun dari mobil Junsu, tepat di samping rooftop cafe tujuan mereka.

“Ya! Itu… itu…” Changmin menunjuk sesosok pria yang naik ke tangga.

“Jaejoong..?” ucap Yoochun. Mereka bertiga sontak berlari mengejar Jaejoong yang juga tampaknya berlari dan telah sampai ke atap terlebih dahulu.

Junsu, diikuti oleh Changmin dan Yoochun akhirnya sampai ke lantai teratas dengan napas tersengal-sengal. Kelelahan mereka terganti dengan kekagetan karena adegan baru di hadapan mereka; Jaejoong maju ke arah Yunho yang tampaknya tidak sadar akan kedatangan mereka. ia menyergap kerah baju Yunho dan memintanya untuk berdiri. Seketika, Jaejoong menghantamkan kepalan tangannya tepat ke perut Yunho.

“Bodoh!” Jaejoong memegang kedua bahu Yunho yang kesakitan dan syok karena kaget. “Apa yang kaulakukan? Aku tahu kau tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti ini, karena itu aku berselisih dengan Junsu! Tapi aku ternyata tidak bisa tinggal diam. Benar kau mau melakukan hal bodoh seperti ini? Kalau iya, lebih baik aku membunuhmu sebelum kau bunuh diri!” Jaejoong sudah siap mengepalkan tangan kanannya.

Sebelum Jaejoong berhasil mengayunkan tangannya ke wajah Yunho, Changmin berteriak, “Hyung! Jaejoong hyung! Hentikan, hentikan! Dia hanya berpura-pura!”

Jaejoong menoleh ke arah ketiga temannya yang lain kemudian mengalihkan lagi pandangannya kepada Yunho, “Apa maksudnya? Kau bercanda?”

“Tadinya,” ucap Yunho akhirnya. Ia memberikan senyum sinis. “Tadinya aku memang ingin bercanda. Tapi kalian sepertinya memang tidak akan datang. Aku memutuskan untuk benar-benar loncat dari sini. Begitu sulit meminta kalian datang di hari ulang tahunku.”

“Kau tetap saja menjadi pria sensitif, tidak berubah! Tentu saja aku ingat hari ini ulang tahunmu, bodoh! Kau mau membuat kami bersalah? Membuat kami menyesal dengan berkumpul di hari pemakamanmu?” Jaejoong berusaha kuat menahan air matanya tidak menetes dari sudut matanya.

“Terima kasih kalian akhirnya datang…” keempatnya pun berpelukan erat.

“Saengil chukkae, Yunho…”

Bayangan

(diikutkan dalam Guerilla Quiz 3)

Aku mengikuti sebuah acara diklat OSIS dan harus menginap di sekolah selama 3 hari 2 malam. Tiba di hari ketiga, kata beberapa teman, ini adalah hari yang paling menentukan karena hari ketiga selalu menjadi hari tes paling mendebarkan dalam setiap diklat OSIS.

Malam pun semakin larut dan semua peserta dikumpulkan di lapangan basket. Kami dipanggil satu persatu untuk mengelilingi sekolah, sendiri. Bagiku, dipanggil lebih awal ataupun belakangan sama saja, hari akan selalu gelap di malam hari dan kakak seniorku tidak pandang bulu, laki-laki atau perempuan akan mendapat perlakuan yang sama.

Arlojiku hampir menunjukkan angka 12.

“Kinanthi Rosyana,” namaku disebut. Akupun berdiri dan berjalan menuju pintu gerbang. Kakak senior hanya membekaliku sebatang lilin dan sebatang korek cadangan yang kuterka akan segera habis sebelum aku melewati seluruh rute. Kakak senior membuka pintu gerbang dan mempersilahkanku masuk. Langkah pertama dari pintu gerbang, dengan cahaya lilin di tanganku, aku bahkan tidak bisa melihat apapun. Aku harus melangkahkan kakiku pelan karena selain bulu kudukku berdiri, aku harus menjaga lilin tetap menyala.

Entah bagaimana perasaanku, kuharap ini hanya imajinasi saja ketika kudengar suara hewan-hewan aneh dan gemerisik angin yang menggerakkan daun-daun, ranting, bahkan pintu dan jendela kelas. Aku tidak pernah berpikir untuk melihat keadaan sekitar atau sumber suara.

“Tunggu,” ucap sebuah suara. Aku yakin itu suara seniorku. “Ada temanmu sedang berhenti di pos, kau tidak boleh terlalu dekat.” Aku menuruti perintahnya dan mulai bernapas lega mengetahui ada seorang senior di dekatku, entah di mana tepatnya ia berada. Saat itulah aku mulai lengah, aku mengangkat wajahku dan memperhatikan sekeliling. Pandanganku terpaku pada sebuah bayangan yang terpantul dari kaca jendela ruang perpustakaan di depanku.

Di sana berdiri seorang perempuan berpakaian putih yang balik menatapku. Aku baru sadar kelambu jendela itu

hanya tertutup separuh. Gadis itu tetap menatap mataku dengan tajam. Seharusnya, aku tidak sembarangan menebar pandangan malam itu…

Online Shop

(Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog yang diselenggarakan oleh @RedCarra)

Ikut meramaikan ya mbak…

Kalau ditanya mimpi soal toko online, saya memang ada secuil keinginan untuk mencobanya. Dalam bayangan saya, kalau suatu saat memiliki kesempatan untuk mewujudkannya, maka saya akan memilih beberapa stuff yang menarik. Adapun barang-barang yang ingin saya jual adalah aksesoris seperti tas, sepatu, dan jam tangan. Supaya menarik perhatian pembeli, saya akan memilih barang yang unik namun dengan kualitas yang baik.

Tentu tidak lengkap rasanya merencanakan sebuah Online Shop tanpa membicarakan tokonya. Meskipun berupa toko virtual atau maya, namun kenyamanan pengunjung merupakan hal yang paling utama. Toko itu akan saya letakkan di sebuah blog dan akan memajang foto-foto dari barang yang saya jual berikut keterangannya, lengkap dengan harga dan cara pemesanan. Selain blog tentu strategi promosi diperlukan, dengan membuat akun media sosial, maka sekali ‘klik’ kita sudah membuat promosi ke seluruh kerabat yang terhubung dengan akun kita.

Selain lewat media sosial, menjaga silaturrahmi dengan pembeli kita juga perlu, salah satunya dengan membuka forum tanya jawab ala costumer service dan memberikan kartu nama di setiap kiriman barang.

Itu adalah khayalan sederhana saya tentang toko online. Semoga, suatu hari nanti bisa terwujud 🙂

BxyfGpsIIAAZ7cg