Uncategorized, Write

Pendakian

Jam dinding ruang tamuku menunjukkan angka 13.30 dan saat ini di luar sedang hujan. Di ruang tamu ini aku tidak sendiri, aku ditemani oleh kelima temanku yang lain. Mereka saat ini sedang duduk lesu memandang cangkir kopi masing-masing yang tadi dibuatkan oleh ibuku. Seharusnya, mereka sudah menyeruput cangkir masing-masing seakan takut kopi di dalamnya menjadi dingin. Begitu pula tangan-tangan lincah itu, harusnya mereka sudah menggerayangi toples kaca kuno milik nenekku yang selalu terisi dengan rengginang dan kacang kulit serta mengisi piring plastik dengan kulit-kulitnya.

Aldo, yang biasa kami panggil Al, menegakkan duduknya dan meraih cangkir kopi di depannya. Tindakannya diikuti oleh temanku yang lain, seakan ia merupakan contoh untuk ditiru. Kami memang sedang butuh kopi untuk merilekskan pikiran. Di ruang tamu ini hanya aku satu-satunya yang sudah berdandan rapi dan siap pergi.

Melihat suasana ruang tamuku yang senyap tak seperti biasanya, aku memerhatikan teman-temanku satu persatu, “Jadi… aku lihat kalian tidak ada yang siap pergi…” ungkapku memecah kesunyian.

“Bukan,” sela Al cepat-cepat. “… di luar sedang hujan. Mari kita habiskan dulu kopinya.”

Well, kalau begitu bisakah kita lebih cepat lagi? Kita bisa menerjang hujan karena belum terlalu deras, atau kalau kalian memang takut basah kita bisa pakai jas hujan. Aku juga lihat kalian tidak pakai baju seragam yang disiapkan Deo…”

“Nay, santai lah…” Al menjawab permintaanku dengan begitu santainya. Aku meredakan keterburu-buruanku dengan menarik napas sekali. Mungkin aku memang yang tidak sabar. Kembali aku berdiam diri menunggu yang lain. Tapi bohong kalau aku tidak cemas. Saat ini teman kami, Deo, sedang melangsungkan pesta pernikahannya dan empat puluh lima menit lagi pestanya akan selesai!

“Maaf kalau aku tidak santai, tapi bolehkah aku tahu apakah kalian benar-benar tidak akan pergi ke acara Deo? Kalian tidak siap dengan baju seragam yang Deo beri…” aku memerhatikan teman-teman yang saling bertukar pandang, kecuali Al. Matanya tetap terpaku pada cangkir kopi yang sudah diletakkannya kembali di atas meja. Aku paham sekarang, ini pasti tentang konflik batin antara Al dan Deo.

Deo adalah ketua kami di perkumpulan pecinta alam sejak SMA. Sudah ribuan kilometer dan belasan gunung kami lalui bersama. Saat lulus SMA, kami berkomitmen untuk tetap berkumpul setiap ada kesempatan. Jadi, setiap ada liburan kuliah kami kembali mendaki gunung bersama. Bisa dibilang kalau kami sudah seperti saudara. Bayangkan saja, kami belajar saling membantu ketika mendapatkan kesulitan, seperti saat teman kami kelelahan sewaktu mendaki dan yang lainnya menawarkan lengannya untuk menarik tubuh yang kelelahan sampai ke puncak. Deo dan Al merupakan duet yang pas untuk membakar semangat kami ketika kami berhenti di tengah perjalanan, menyerah pada rasa lelah dan memilih untuk berhenti, tidak meneruskan perjalanan yang tinggal selangkah lagi.

Deo dan Al juga duet yang paling peduli untuk menjaga silaturrahmi di antara kami bertujuh. Mereka berdua tak hentinya menanyakan kabar kami bahkan sampai mengompori supaya kami tidak putus asa dalam mengerjakan penelitian.

“Kalau kita bertujuh lulus bersama, mari kita rayakan dengan pendakian ke gunung tertinggi se-Jawa Timur,” ucap Deo membakar semangat kami. Kami tak perlu bertanya lagi gunung apa yang Deo maksud saat itu, Semeru. Kami tentu saja berlomba-lomba menyelesaikan skripsi setelah mendengar iming-iming dari ketua kami. Pesona gunung Semeru dan imajinasi kami yang sudah terlebih dahulu menjelajah gunung itu ternyata berhasil membantu kami untuk lulus skripsi tepat waktu. Al tetap menjadi anggota yang paling antusias mempersiapkan keberangkatan kami mendaki ke gunung yang masih aktif ini. Tanpa kami ketahui, ia telah mempersiapkan segala macam barang untuk dibawa bersama seperti alat masak yang belum kami miliki dan obat-obatan. Ia juga sudah merancang rute perjalanan terlengkap yang pernah aku tahu. Ia sudah bertanya kepada wisatawan yang pernah pergi ke Semeru dari tempat berkumpul kami, Yogyakarta, lengkap beserta anggaran biaya dan susunan acaranya.

Sayang, Deo mungkin terlupa akan rencana ini.

Dua minggu lalu, Deo, seperti biasa, menelepon kami satu persatu mengatakan bahwa ia ingin bertemu untuk memberi kami kejutan. Tentu saja kami berenam menebak satu hal yang sama: pendakian ke gunung Semeru akan direncanakan! Masih dengan antusias yang belum berkurang, kami berenam merencanakan pertemuan untuk membicarakan hal ini. Kami yakin benar bahwa Deo akan mengumumkan perjalanan menuju Semeru karena kami sebelumnya sudah saling mengabari tentang skripsi kami yang final. Kami semua berhasil sidang skripsi meskipun belum benar-benar diwisuda.

Kenyataannya, Deo tidak berbicara tentang pendakian ke Semeru sama sekali. Al adalah orang yang paling terpukul saat itu dan kami berkali-kali mencuri pandang untuk mengamati wajahnya yang kecewa. Saat itu, ternyata Deo datang dengan membawa enam amplop cantik berwarna merah marun yang merupakan undangan pernikahannya dengan teman sekampus. Deo sama sekali tak ingat akan rencananya mendaki Semeru.

Aku mendengar detik jarum tetap berjalan. Tiga puluh menit lagi pesta Deo akan usai. Aku tidak akan bersabar lagi menunggu teman-temanku yang lain hanya duduk merenungi cangkir kopi di depannya.

“Ini bukan akhir segalanya, kan?” ucap Karin tiba-tiba saat aku akan membuka mulutku, “… harusnya kita ikut bahagia mendengar kabar teman kita menikah. Bukankah jahat sekali kalau kita tidak ridha seperti ini?”

“Betul kata Karin. Kita ini sebenarnya mau apa, menyudahi pertemanan kita dengan Deo gara-gara urusan pendakian gunung yang batal?” tanyaku menambahi pernyataan Karin.

“Masalahnya Rin, Li, bukahkah Deo sendiri yang menjanjikan perjalanan ini? Kok bisa-bisanya dia menggantinya dengan acara pernikahannya sih?” jawab Al.

“Lagian, aku dan teman-teman sudah dibuatnya antusias dengan pendakian pertama kita ke gunung tertinggi di Jawa Timur!” ungkap Reno, temanku yang lain.

“Teman-teman, aku tahu kita cukup kecewa. Tapi akankah kita membuat teman kita bersedih dengan ketidakhadiran kita di hari pentingnya? Dengar, kita ini adalah orang-orang yang penting bagi Deo, kalau tidak, tidak mungkin dia memberi kita baju seragam untuk dikenakan di hari ini,” aku melirik lagi jarum jam yang semakin mengurangi sisa tiga puluh menit. Masih belum ada dari para teman lelakiku yang menunjukkan persetujuan akan pernyataanku.

“Lalu kalian mau apa?” Karin bangkit dari kursinya. “… kalian tidak mau datang ke pernikahan Deo? Terserah. Begini, aku mau pulang dan mengganti bajuku. Aku akan hadir dengan Lia di pesta teman kita yang sudah membuat kita menyelesaikan penelitian skripsi dengan cepat. Teman yang sudah berkali-kali membangkitkan semangat kita supaya bangkit dari kelelahan kita ketika terjatuh dalam pendakian. Teman yang membuat kita percaya bahwa kita memiliki kekuatan hebat,” Karin melakukan apa yang dilakukan Deo kepada kami ketika kehilangan kepercayaan.

“Aku dan Lia akan berangkat terlebih dahulu dan kami akan menunggu kalian di sana. Aku harap kita memang benar-benar keluarga seperti yang kita percayai selama ini. Aku tidak mau perjalanan kita selesai sampai di sini.” Karin pun keluar untuk pulang berganti pakaian.

“Aku berharap kalian pun mengikuti jejak Karin. Masih ada waktu untuk hadir di acaranya Deo. Silahkan kalau kalian tetap tinggal di sini, aku akan pergi menunggu Karin di rumah Deo,” ucapku sebelum bangkit dan meraih tas kecilku, melewati pintu depan rumah. Aku meluncur menuju rumah Deo, berharap Karin menyelesaikan dandanannya dengan segera untuk mengejar waktu bertemu Deo dan pasangannya di pelaminan.

Aku mencoba mencerna apa sebenarnya yang terjadi. Teman-temanku tentu saja lebih memprioritaskan pendakian ke gunung Semeru karena kami tidak memiliki target lain. Sedangkan Deo, sejujurnya aku sendiri pun masih terkejut karena ia memiliki target ke jenjang pernikahan lebih awal. Di saat kami masih melayang-layang dengan kebebasan usia muda kami, bersenang-senang dan berkumpul serta pergi ke sana ke mari bersama-sama, Deo sudah memikirkan matang-matang untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Tentu saja berita ini menjadi pukulan untuk teman-temanku.

Bedanya, aku dan Karin mencoba untuk berpikir dari sisi lain. Hidup ini harus terus berputar. Aku dan teman-teman mungkin berada di tempat yang stagnan: tempat di mana kami berdiam, tak bergerak, tidak maju maupun mundur. Meskipun menyelesaikan skripsi bisa dikatakan sebuah kemajuan, tapi apa yang dilakukan Deo jauh melebihi kemampuan kami sekarang. Ia sudah jauh melesat di depan kami. harusnya kami menyambut bahagia keputusannya itu, bukannya menentangnya diam-diam.

Kuparkir motorku di pekarangan milik tetangga Deo. Dari sini, aku bisa melihat indahnya dekorasi yang menghiasi acara Deo. Barulah aku sadar kenapa Deo memberi kami kain dengan warna sama dengan dekorasi yang mendominasi acara pernikahannya: merah marun. Ya, warna itu adalah simbol dari perkumpulan pecinta alam kami. Hatiku langsung berdesir menyadari kenyataan ini. Begitu cintanya Deo terhadap teman-temannya sampai ia mempersiapkan ini semuanya…

Aku mengeluarkan ponselku dan memotret dekorasi Deo dari kejauhan. Aku kirimkan foto itu ke masing-masing temanku dengan caption ‘Indah sekali dekorasi acara pernikahan Deo yang merah marun ini, mengingatkanku pada warna lambang pecinta alam kita. Aku rasa kita seharusnya bersama dengan lengkap mengantar Deo di hari yang indah ini. Masih ada waktu untuk menyusulku dan Karin’. Tiba-tiba saja keinginanku supaya semua temanku datang lengkap menjadi menggebu-gebu. Deo pasti sedih karena hanya aku dan Karin yang datang. Ia tahu kami sedang tidak sibuk.

Karin pun datang dengan motor skuternya, sudah lengkap dengan baju seragam yang sama dengan yang kukenakan. Ia langsung menggandeng tanganku, “Ayo Li cepat. Aku tahu kita bodoh kenapa tidak datang sejak tadi… aku yakin Deo pasti kecewa pada kita…”

“Rin, tidak perlukah kita menunggu mereka?”

“Ini sudah hampir selesai, Li. Aku juga berharap mereka mau datang bersama kita, tapi bagaimana kalau Deo sudah turun dari pelaminannya?” akupun tak berpikir dua kali lagi untuk mengikuti langkah kaki Karin. Dari tempat masuk, kami berdua mulai berlomba memanjangkan leher menengok keberadaan Deo yang sekarang sudah duduk santai. Mungkin beberapa waktu lalu ia berdiri karena banyaknya tamu yang menyalaminya.

Mendekati tangga menuju pelaminan, Deo melihat kehadiran kami dan ia pun berdiri dengan tiba-tiba. Aku dan Karin terpaku dibuatnya. Linda, sang mempelai wanita pun ikut berdiri melihat reaksi Deo yang tiba-tiba ini. Kami bisa melihat mata Deo yang sangat mengharap kehadiran kami. Kubaca sedikit kekecewaan di mata Deo, tapi ia tersenyum menyambut kami yang akan naik tangga. Langkah kami pun berhenti di anak tangga mendengar mesin motor yang datang bersamaan. Beberapa tamu yang masih tersisa pun ikut memperhatikan halaman parkir. Kusunggingkan senyum pertamaku hari ini. Kelegaan mengisi seluruh rongga dadaku karena sekawanan bermotor itu adalah teman-teman kami yang dipimpin oleh Al. Kulirik Deo yang semakin melebarkan senyumannya.

“Alhamdulillah,” bisik Karin dengan suaranya yang agak bergetar.

Al melambaikan tangannya memimpin yang lain untuk menyusul kami naik ke tangga pelaminan, “Sorry Bro, ada sesuatu yang mesti diselesaikan tadi. Setidaknya kami datang lengkap kan?” ucap Al kepada Deo sambil bertukar pandang denganku. Kami pun berpose di depan kamera untuk menyimpan memori indah ini. Gelak tawa kami pun terdengar di atas pelaminan Deo.

“Setelah ini, kita akan bicarakan soal Semeru,” gumam Deo di tengah-tengah kami berfoto. Dia masih ingat rencana kami.

BIODATA

Nama lengkap             : Kinanthi Rosyana

Alamat tempat tinggal            : Jl. Dr. Soetomo IIA no. 8 RT.1 RW. 2 Gresik

Nomor HP                   : 085648447142

Email                           : kinanthi_rosyan@yahoo.co.id

ID Facebook               : Kiky Rose

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s