Write

Berani Bermimpi

*pernah diikutkan dalam Kompetisi Menulis Worthy Story*

 

(Sumber foto: dokumen panitia Kelas Inspirasi Bondowoso #2)

Pada tanggal 12 Maret 2016 saya mengikuti sebuah kegiatan bernama Kelas Inspirasi Bondowoso #2. Ketertarikan saya untuk menjadi relawan pengajar saat itu karena kegiatan tersebut diadakan di kampung halaman saya, Bondowoso. Tak banyak yang tahu tentang kampung halaman saya kecuali bahwa kota tersebut merupakan kota penghasil tape.

Beberapa hari setelah saya mendaftarkan diri melalui facebook, saya mendapatkan email dari panitia yang mengumumkan bahwa saya diterima sebagai relawan pengajar. Demi mengatasi kebingungan saya, saya pun datang pada Technical Meeting yang diadakan oleh panitia. Di sanalah saya bertemu dengan relawan lainnya. Beberapa ada yang sudah mengikuti kegiatan serupa di kota lain, bahkan ada yang sudah tujuh kali menjadi relawan. Namun saya tidak minder karena beberapa juga baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Sisa-sisa waktu menuju hari keberangkatan, saya sibuk menyusun materi pengajaran yang simpel, bermediakan poster bergambar. Saya juga menyiapkan beberapa permainan untuk mengisi waktu bosan anak-anak SD. Jujur, saya dan adik kelas saya yang juga mendaftar menjadi relawan, khawatir tentang suasana kelas kami yang nantinya akan menjadi ‘garing’ karena mungkin kami terlalu formal. Tapi tentu saja, kami tidak akan menyerah untuk mencoba.

SD Negeri Sempol 1 Bondowoso menjadi tempat saya mengajar. Desa Sempol merupakan akses menuju wisata Kawah Ijen dari kota Bondowoso. Mayoritas penduduknya bekerja di perkebunan. Sekilas saya pernah mendengar kebiasaan berangkat anak sekolah di wilayah tersebut yang ikut berangkat bersama orangtuanya ke kebun. Jadi, para wali murid di sana berangkat bersama anak-anak mereka pada pukul 06.00. Pada jam sepagi itu, mereka sudah tiba di sekolah mereka beramai-ramai. ‘Murid terlambat datang’ mungkin tak ditemukan dalam kamus hidup mereka.

Pagi hari sebelum kami memulai kegiatan, para siswa yang sudah ramai berdatangan di sekolah menyelidik kepada rombongan panitia dan relawan yang baru mereka temui hari itu. Beberapa relawan fotografer mulai mengeluarkan senjata perangnya dan merekam kegiatan anak-anak. Kegiatan kami bahkan belum mulai, karena kami hanya melakukan persiapan di tempat menginap kami yang kebetulan terekspose oleh anak-anak itu. Kami sedikit terhibur mengamati tingkah laku mereka di depan kamera.

Semakin mendekati jam mengajar, saya semakin mengosongkan pikiran demi menghalau segala kecemasan yang berlebihan. Jujur, sejak malam sebelumnya saya tidak memikirkan apa yang harus saya lakukan ketika masuk ke dalam kelas, bagaimana saya menyapa mereka, dan bagian apa yang harus saya jelaskan terlebih dahulu. Saya ingin membiarkan semuanya mengalir mengikuti arus. Saya dan adik kelas saya masih mengkhawatirkan hal yang sama.

Menuju sekolah, kami diperkenalkan melalui sebuah upacara singkat setelah senam pagi. Di sinilah saya dan adik kelas saya seperti dipukul telak dan malu atas ketakutan kami. kekhawatiran kami sirna secara tiba-tiba melihat semangat mereka yang di luar ekspektasi. Senang berbagi dengan anak-anak sekolah seperti mereka. Terkadang dengan kesibukan, kita lupa untuk sejenak berbagi, meskipun hanya berbagi kesenangan. Kedatangan kami yang hanya sehari bisa membuat mereka tersenyum dan membuka wawasan akan beragam profesi yang bisa mereka cita-citakan. Mendengar berkali-kali mereka bertekad “Saya bercita-cita…” atau “Saya ingin menjadi…” tak bisa membuat saya menjadi bosan. Justru saya semakin penasaran mendengar kelanjutan kalimat mereka, apa yang ingin mereka lakukan dan bagaimana perjalanan mereka menuju cita-cita itu. Mungkin di sini justru sayalah yang mendapatkan inspirasi. Di sinilah saya diingatkan untuk tak lupa tersenyum dan bermain. Bahagia saya berlipat ganda ketika mendengar mereka mengingat lagu yang saya ajarkan mereka nyanyikan selepas pertemuan kami berakhir, sepanjang jalan menuju ke rumah.

Saya berharap semangat anak muda tak pernah luntur ditelan jaman yang akan semakin serba instan ini. Semoga anak-anak muda memiliki semangat berbagi ilmu dan menyebar semangat untuk sekitar. Begitu pula kepada anak-anak sekolah di masa depan, semoga akan selalu bersemangat meraih mimpi dan memupuk rasa ingin tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s