Competition, Dibuang Sayang, Story, Story, Write

Tiga Tahun dan Seterusnya

(pernah diikutkan dalam proyek menulis Love Never Fails)

Semua terasa baru bagiku. Serpihan-serpihan cerita yang dengan mudahnya kususun dengan runtut mengalahkan pelajaran sejarah yang membingungkan. Cerita yang akan selalu kuingat.

Tahun 2003.

Semuanya berawal di tahun itu. Aku datang ke kota yang benar-benar baru untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pertama. Tanpa teman lama. Seperti alien yang berjalan ke wilayah planet asing. Pagi ini aku sudah mengenakan seragam baru putih-biru. Khas seragam sekolah ini adalah dasi kupu-kupu biru untuk murid perempuan dan dasi silang biru untuk laki-laki. Aku pun mengenakan dasi kupu-kupu itu dengan kurang percaya diri karena hal seperti ini tidak ada di daerah asalku.

Hari pertama, banyak murid-murid baru berjalan dengan teman-teman se-SD dan berkeliling di sekolah baru. Aku hanya menoleh ke kanan dan ke kiri berkali-kali. Kalau aku berkeliling sendiri, aku pasti tampak seperti anak hilang. Di saat itu mataku terpaku pada murid baru yang sama sepertiku: sendiri. Apa dia juga murid pindahan dari luar kota? Dia berdiri di depan sebuah plakat. Menurut surat edaran yang kuterima, murid baru harus sudah berbaris sesuai plakat kelas baru sebelum jam tujuh tepat. Aku berjalan melewati murid dengan rambut ikal panjang itu bermaksud untuk mengintip tulisan di plakat. 1F. Tepat sekali, ini kelas baruku. Akupun berdiri di samping murid itu bermaksud untuk membuka percakapan. Pesan dari tanteku sebelum aku berangkat sekolah pagi ini kembali terngiang di telinga, “Hari ini kamu harus berkenalan dengan teman baru.” Sebuah anjuran yang awalnya tidak kugubris namun akhirnya terpikirkan juga.

Kelas F juga?” sebuah kalimat tanya meluncur dari mulutku. Dia mengangguk.

Kamu juga?”

Ya. Hmm… sendiri?”

Ya. Kamu juga?” kami berdua mulai tersenyum. “Mei,” tangannya mengulur kepadaku.

Ana,” balasku. “Kenapa sendiri? teman-teman SD-mu mana?”

Tidak ada. Hanya aku yang bersekolah ke kota ini.”

Pindahan dari luar kota juga?”

Bukan. Aku tinggal di kota sebelah.”

Oh. Jauh?”

Yah…” aku kagum dengan Mei. Yah, dia tidak jauh beda denganku. Sekolahku dulu juga jauh dari rumah. Kami berdua terdiam lagi. Masih kaku. Kemudian lalu lalang murid yang mencari plakat riuh berbaris dengan tergesa mencuri perhatianku. Mereka bisa ramai karena memiliki teman. Yah, setidaknya aku sudah punya satu.

Seseorang yang merasakan kesedihan berlarut-larut mungkin akan membutuhkan sesuatu sebagai pelampiasan, pengalihan, dan apalah itu namanya sekedar untuk menghilangkan kesedihan yang ia rasakan. Teori inilah yang aku dapatkan sejak pindah ke kota ini. Ini memang keputusanku untuk mencoba tinggal bersama nenek. Aku tidak tahu alasan apa yang membuatku ingin terlepas dari kedua orangtuaku. Ide gila yang datang dari anak berusia tiga belas tahun. Namun menghadapi segalanya sendiri ternyata berat juga. Aku mulai fokus pada tujuan utamaku datang ke kota ini, aku bulatkan tekad pada diriku sendiri: aku datang kemari adalah untuk belajar. Itu yang selalu aku tanamkan di dalam kepalaku. Berhari-hari aku belajar. Membaca buku diktat sudah menjadi hobiku. Menguasai pelajaran yang belum diajarkan merupakan hal yang menjadi kewajibanku. Aku bahkan meminjam buku-buku soal dari saudaraku yang sudah lulus. Menambah tumpukan buku dan menambah daftar tugas untuk diriku sendiri. Aku mulai membuka buku sejak pulang sekolah hingga malam. Walaupun terdengar seperti menghukum diri sendiri, tapi ini cukup efektif baik untuk mengusir kesendirian maupun benar-benar untuk belajar. Tempat terbaikku adalah kamar. Itu kulakukan terus menerus hingga tak terasa enam bulan telah berlalu.

Acara sekolah tiap jeda semester pun diadakan. Ini seperti mengistirahatkan otakku dari aktivitas yang menjenuhkan. Berbagai macam lomba pun mewarnai lapangan tengah. Semua memadati area lapangan yang menjadi pusat perhatian. Kali ini ada pertandingan voli putri favorit sebagian besar murid SMP ini. Para murid duduk sepanjang koridor kelas masing-masing dan memberikan yel-yel untuk memeriahkan suasana. Karena kelas kami tidak memiliki koridor seperti kelas lainnya, kami mengangkut bangku dan kursi kami ke luar kelas. Aku dan Mei ikut mengangkut bangku kami supaya dapat menyaksikan pertandingan. Entah bagaimana caranya, kemudian terjadi peristiwa lucu yang mengawali segalanya. Teman sekelasku yang tadinya berada di samping Mei bermaksud untuk duduk di atas bangku yang sudah dipindahkannya ke luar kelas, namun entah apa penyebabnya, kemudian di sudah terjatuh di atas lantai. Sontak kami yang melihatnya mulai tertawa geli. Tapi kemudian ada seseorang yang tertangkap mataku ikut menertawakan teman sekelasku. Dia murid kelas lain. Mungkin dia kenal dengan teman sekelasku yang terjatuh itu? Entahlah, selama enam bulan ini aku masih baru mengenal teman satu kelas. Anehnya aku langsung terpaku di tempatku berdiri sementara temanku yang lain menolong si malang. Aku tidak akan seperti ini jika murid kelas lain itu tidak menatapku. Ya, dia tertawa sambil menatapku. Seingatku, aku sempat bertanya kepada Mei tentang siapa dia, tapi temanku yang supel itu pun menggelengkan kepalanya.

Menjelang libur semester aku sama sekali tidak menyentuh buku diktat. Sebagai gantinya, Mei menunjukkan padaku tempat persewaan komik. Aku tidak percaya ada tempat seperti itu. Mulailah aku menyewa dan menghabiskannya dalam sekejap. Begitu berturut-turut selama seminggu menjelang pembagian raport. Dalam bayanganku, tokoh utama dalam komik selalu digambarkan dengan figur yang sempurna: tampan, tinggi, dan idola banyak perempuan. Dan sepertinya aku sudah menemukan tokoh itu di dunia nyata. Ya, sejak lomba voli putri beberapa waktu lalu. Dia tampak seperti tokoh anime buatku sejak pertama melihatnya. Sampai saat ini pun aku masih bertanya apa yang ia tertawakan dengan melihatku seperti itu. Apakah ada yang lucu dari diriku?

Peristiwa di lomba voli putri itu membuat hari-hariku di sekolah mulai berwarna. Yah, bagaimana tidak, rasa ingin tahuku sudah terlalu besar. Pertanyaan yang satu ini bahkan tidak ada di buku diktat manapun yang kupinjam. Kurasa aku mulai kecanduan, hari-hari berikutnya aku mengingat bagaimana wajah anak kelas sebelah itu dengan selalu mengamati kelasnya. Tempat dudukku berada di pinggir, dekat jendela dan itu memudahkanku untuk mengintip ke luar. Sosoknya yang tinggi membuatnya mencolok. Sepertinya dia duduk di barisan belakang. Dan bagian seperti ini, ketika aku menemukan sosoknya, adalah hal yang membahagiakanku sehari-hari.

Aku mulai membeli diary. Kuputuskan untuk menceritakan semuanya kepada sesuatu yang tidak bisa mengungkapkan rahasia. Aku tidak bisa bercerita terlalu terbuka kepada orang lain. Ya, diary. Diary itu kuisi setiap harinya dengan kalimat yang membosankan seperti:

Hari ini aku melihatnya lagi

Atau

Hari ini dia kembali melihatku

Bahkan seperti ini:

Hari ini kami tidak bertemu, aku tidak melihatnya dan dia juga tidak melihatku

Begitu seterusnya setiap hari. Ini bagaikan sebuah laporan harian yang harus kucatat. Aku bahkan terlalu malas untuk membacanya sendiri karena sungguh membosankan. Yah, sebuah catatan seorang mata-mata amatir. Aku sudah ingat betul dan tahu betul wajah murid sebelah itu, tapi benar-benar tidak berani untuk menanyakan namanya kepada siapapun yang mengenalnya.

Suatu hari, aku dan beberapa temanku berjalan dari kantor guru dan akan kembali menuju kelas. Secara kebetulan dia dan teman laki-laki sekelasnya sedang duduk di koridor kelasnya. Kami akan melewati mereka. Dadaku sedikit berdegup kencang dan bingung harus berbuat apa. Apakah aku harus berbalik arah dan mengambil jalan memutar? Tapi kurasa tidak mungkin karena aku sedang berjalan dengan teman-temanku. Bagaimana kalau mereka mencium keanehan karena aku tiba-tiba berbalik? Lagipula mungkin hanya aku yang merasakan bingung tidak karuan seperti ini, dia tidak. Akhirnya kuberanikan diri lewat di depan gerombolan mereka dan berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Aku lewat persis di depannya tapi benar-benar tidak punya nyali untuk melihat wajahnya dari dekat bahkan untuk sekedar mendongakkan kepalaku seperti biasanya. Maka, di depannya aku berjalan dengan kepala sangat tertunduk. Saat itu, waktu berjalan sangat pelan. Kupasang telingaku tajam berharap bisa mendengar namanya disebut oleh teman-temannya. Namun nihil. Aku berhasil melewatinya tanpa tahu namanya lagi.

Kekhawatiranku pun muncul, aku mulai cemas tanpa sebab. Bagaimana jika aku tidak pernah tahu namanya? Dan pertolongan pun muncul tanpa disangka. Teman sekelasku yang juga dekat dengan Mei, Sari, saat itu mengeluarkan album SD-nya. Mei pun meminjamnya dan membuka album itu di bangku kami. Aku merapat ke tubuh Mei untuk melihatnya juga.

Oh, SD ini kan SD swasta di ujung jalan itu? Sari lulusan sana rupanya?” tanyaku pada Mei.

Iya. Ini kan SD yang sebagian besar tempat tinggal muridnya di perumahan dekat situ.”

Hm… jadi Sari tinggalnya di situ juga?” Mei mulai membuka album dan kami mulai mengamati wajah-wajah mana saja yang sekarang ada bersama kami. Mei kemudian menyerahkannya padaku karena dia mulai bosan. Aku membolak-balik dengan cepat dan terhenti pada satu halaman.

Ana, boleh aku ambil albumku?” pinta Sari.

Oh? Ya, ya…” aku terpaku pada satu foto dan mulai menghafalkan apa yang tertulis di samping foto itu. Kurekam semuanya secepat kilat di dalam kepalaku sambil berdiri untuk mengembalikannya kepada Sari. “Terima kasih banyak, Sari.” Malam ini, aku bisa menuliskan sesuatu yang baru di diary-ku:

Indra Wahyu Pratama. 17 Juli 1989.

Bagus. Aku lebih muda darinya.

Sejak aku mengetahui namanya, aku sadar benar bahwa semakin hari aku semakin gila. Akupun heran karena terkadang aku melakukan sesuatu hal yang spontan tanpa sebab. Misalnya saja suatu hari karena aku terpilih menjadi sekretaris kelas, aku harus mengambil lembaran absensi kelas di ruang Tata Usaha. Kemudian diam-diam aku mengambil selembar dari folder kelas Indra. Aku hanya ingin tahu berapa nomor absennya di kelas itu. Hal sepele yang membuatku geleng-geleng kepala. Untuk apa aku melakukannya? Yang pasti, kali ini aku tahu nomor absennya adalah 19.

Menjelang kenaikan kelas dua, tidak ada cerita menarik yang terjadi dan hari-hariku mulai terasa membosankan lagi sama seperti isi diary-ku. Suatu hari di lorong, aku dan Mei berjalan menuju perpustakaan. Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Perasaan itu datang dari belakang. Serta merta, aku menoleh ke belakang dan kudapatkan sepasang mata sedang menatapku tajam. Sontak, aku langsung berbalik lagi tanpa tahu siapa pemilik sepasang mata itu. Di jam istirahat seperti ini, lorong kelas sangatlah ramai, jadi wajar kalau aku tidak melihatnya dengan jelas.

Kamu kenapa?” tanya Mei yang merekam gerak-gerikku. “Kok kamu seperti ketakutan begitu?”

Ada yang ngelihatin aku, tapi aku nggak tahu itu siapa. Serem banget. Coba deh kamu liat ke belakang…” Mei pun menuruti permintaanku. Ketika berbalik, dia tersenyum lebar.

Kenapa?”

Oh nggak… sepertinya itu Indra, anak kelas sebelah,” dan itupun menambah pertanyaan besar bagiku. Setelah mengembalikan buku ke perpustakaan, kami kembali ke kelas untuk menikmati jajanan yang sudah kami beli di koperasi sekolah. Kami berdua berpapasan dengan Sari ketika akan masuk kelas.

Ana, kamu sudah mengerjakan PR matematika?” ucapnya tergesa-gesa.

Ya.”

Aku boleh pinjam? Aku belum mengerjakan, nih.”

Boleh.”

Eh tapi, tapi aku boleh minta tolong nggak? Tolong anterin bukumu ke kelas ujung dong… ya, ya?” mohonnya padaku.

Buat apa?”

Gini, aku lagi buru-buru sekarang. Aku diminta menemani temanku…” dia mendekatiku dan membisikkan di telingaku, “Dia mau ditembak cowok dari kelas sebelah, makanya aku disuruh temani dia.”

Oh…”

Oke? Aku buru-buru nih, aku ke sana dulu ya?”

Sebenarnya itu semua bukan urusanku, kan? Tapi baiklah, daripada Sari dihukum guru matematikaku yang killer. Setelah memakan camilanku dengan sedikit terburu-buru, aku mengambil bukuku dan mulai berjalan kembali ke lorong yang sama namun dengan arah yang berbeda, menuju sebuah kelas kosong yang dipakai siang hari. Di depan kelas itu, di sebuah tempat parkir untuk para guru, aku melihat sepasang murid, laki-laki dan perempuan yang sedang bercakap-cakap. Oh, ini pasti teman Sari yang ia ceritakan. Aku hanya bisa melihat teman Sari yang putih dan cantik, sedangkan murid laki-laki yang menghadapnya membelakangiku.

Tidak ingin membuat Sari menunggu lebih lama, aku masuk ke kelas itu dan menyerahkan bukuku.

Oh terima kasih, Ana.”

Sama-sama. Siapa nama temanmu itu? Dia cantik…”

Siska namanya. Dia teman SD-ku.” Penasaran dengan aksi tembak-menembak di depan kelas, aku akhirnya nekat menaiki salah satu kursi kelas dan mengintip dari balik jendela.

Lalu, yang laki-laki?”

Indra.”

Siapa?”

Indra… kamu mungkin tidak kenal…” timbul rasa kecewa di dalam hatiku.

Maaf ngintip!” sontak aku berteriak.

Sari pun terkejut, “Ana! Apa-apaan?” lagi-lagi aku tidak bisa mengendalikan aksiku yang tiba-tiba. Aku menoleh lagi ke sepasang murid yang berbincang itu, dan kali ini Indra melihatku. Tatapannya sama dengan ketika aku pergi menuju perpustakaan tadi. Aku tidak bisa menyiratkan apa artinya, sepertinya marah? Aku turun dari kursi dan pamit kepada Sari. Perasaanku remuk redam.

Hari-hari selanjutnya aku mencoba mengalihkan pendanganku dari kelas sebelah. Supaya tidak lagi aku menangkap sosok Indra lewat mataku. Mencoba memulihkan perasaanku supaya tidak lagi berlebihan. Tapi bohong kalau kecanduanku itu sembuh dengan cepat. Beberapa hari kemudian aku merasakan kehilangan dan mulai memandangi kelas Indra lagi. Sayangnya, aku tidak berhasil menemukannya terus menerus selama tiga hari. Dan aku mulai khawatir, pikiran yang tidak-tidak kembali muncul. Lagi-lagi aku melakukan hal yang spontan, dengan tiba-tiba aku masuk ke kelasnya untuk mengecek papan absensi. Di sana tertulis tiga nama dan salah satunya: Indra W.P (S). Dia sakit. Apakah instingku sudah berkembang tajam? Tapi aku lagi-lagi harus membuang pikiran itu, aku harus menghentikan perasaanku.

Perasaanku kepada Indra berangsur-angsur hilang walaupun masih aku akui, hatiku masih berdesir melihat wajahnya yang masih tampan seperti tokoh anime. Di kelas tiga, saatnya aku menjadi senior, tidak ada satu hal pun yang bisa mengalahkan kegiatan belajarku. Aku masih belum berubah: seorang kutu buku. Kali ini aku benar-benar harus memendam semua perasaan karena aku sadar, aku hanyalah sementara berada di kota ini. Satu tahun lagi, aku harus kembali ke kota asal tanpa harus membawa perasaan ini. Aku tidak menyangka aku sanggup menyimpan rahasia ini seorang diri selama tiga tahun.

Akan tetapi, niat yang sungguh-sungguh tidak selalu didukung keadaan. Baru saja guru olahragaku mengumumkan bahwa kami harus berolahraga bersama kelas Indra. Aku tahu kemungkinannya kecil karena aku harus bersama dengan kurang lebih lima puluh sembilan murid lainnya, tapi bagaimana jika..? Ah lupakan. Dengan seragam olahraga, kami berjalan ke luar area sekolah menuju lapangan kota. Mei dan Sari berada di barisan depan karena mereka selalu bersemangat keluar dari area sekolah. Aku berjalan dengan Tiara, teman sekelasku yang lain. Tiara memiliki postur tubuh tinggi bak model dan supel sama seperti Mei. Hari ini aku malas karena pasti sekali lagi, harus berkeringat banyak. Rupanya ini mempengaruhi moodku. Tapi tampaknya barisan murid laki-laki dengan suara-suara asing di belakangku tidak mengetahui ini, mereka berisik bukan main. Tiba-tiba murid laki-laki yang tertawa paling keras memukul pundakku. Aku geram bukan main karena aku tidak ikut bercanda tapi juga terkena keisengan mereka. Aku menoleh ke belakang, dan… buru-buru menghadap ke depan lagi. Tiba-tiba aku gugup, aku harus bagaimana? Menyusul Mei dan Sari di depan atau..?

Hei, Tiara!” sapa Indra.

Hm?” sahut Tiara yang nampaknya sudah akrab.

Kau kenal seseorang bernama Ana?” deg! Wajahku tetap fokus ke depan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tidak mendengar apa-apa. Kurasa Tiara juga bingung dengan pertanyaan itu dan sesekali melihatku. “Ana kelas G, kau kenal tidak?” tanyanya kemudian. Aku kenal, memang ada Ana di kelas G. Tapi kenapa ini terasa kebetulan sekali? Aku sedang merasa melambung tinggi sekarang. Moodku tiba-tiba membaik.

Di lapangan, karena aku adalah pengurus kelas, aku harus membantu guru olahraga mempersiapkan peralatannya.

Permisi…” ucap suara tadi dari belakangku. Kuterka dia juga pengurus di kelasnya. Waktu kembali terasa lambat. Kami hanya sibuk berdua. “Yang tadi maaf ya…” ucapnya kemudian. Dan seperti biasa, aku kembali terpaku. Suaranya menggema berulang-ulang di kepalaku.

Percakapan satu arah itu mungkin percakapan pertama, sekaligus yang terakhir. Aku harus benar-benar melupakan segala hal yang terjadi, antara aku dan Indra, jika tidak mau terlalu luka. Perpisahanku dengan Indra cukup sederhana. Tanpa sebuah kata perpisahan atau bahkan kami tidak bisa disebut benar-benar bertemu. Tidak ada teguran, sapaan, bantahan, dan sebagainya yang bisa mengubah status kami menjadi sekedar teman. Anehnya, bagaimana bisa yang demikian membuatku menyukainya? Konyol memang. Kita tidak akan pernah tahu perasaan seperti ini bermula dari mana. Satu hal terakhir yang aku lakukan adalah berjalan beberapa meter di belakangnya dengan sengaja. Biasanya, aku akan naik angkot di depan sekolah, tapi kali ini aku ingin berjalan sampai ke halte berikutnya hanya untuk mengikutinya dari belakang. Aku menyebutnya sebagai ucapan perpisahan. Tiara, yang berjalan denganku tiba-tiba membuka percakapan.

Ana, aku akan membuka rahasiaku kepadamu. Selama ini aku menyukai seorang teman di sekolah kita.”

Siapa?”

Dia sedang berjalan di depan kita,” aku terkejut.

Indra?”

Bukan. Seseorang yang berjalan dengannya.” Aku sedikit lega. “Kalau kamu siapa? Ada yang kamu sukai?”

Aku tersenyum. Mana bisa aku mengatakannya. Dalam hatiku, aku berkata pada Tiara, orang yang aku sukai sekarang sedang berjalan dengan orang yang kamu sukai.

Tahun 2005.

Tahun tutup buku untuk kisah SMP. Juga tahun di mana aku harus kembali ke kotaku. Kedua orangtuaku menjemputku untuk kembali. Semua barang dan pakaianku telah disiapkan. Hari ini aku hanya perlu menginap satu malam dan esok pagi-pagi benar harus berangkat.

Ana… ada telepon dari temanmu!” teriak tanteku dari ruang tengah. Aku berlari dan menerimanya. Menit selanjutnya aku kembali menjadi patung yang bingung mengekspresikan diri. Penelepon itu Indra. Aku tidak ingat apa saja yang dia katakan, hanya sekelumit rahasia yang juga dia simpan sendiri.

Aku selalu memperhatikanmu. Selalu. Bahkan aku pernah secara iseng bertanya kepada seorang guru tentang dirimu, karena yang kudengar kamu selalu menjadi juara di kelas. Tapi aku tidak berani berbicara denganmu, karena kamu selalu diam di depanku. Kalau kau sadar, aku selalu mengajak bercanda teman-teman yang ada di sekitarmu, saat itu aku harap kau ikut tertawa bersama, tapi kau cukup sulit… Maaf aku baru bisa berbicara lewat telepon hari ini karena aku sadar, aku takut kita tidak bertemu lagi. Apa kau akan satu sekolah denganku lagi?

Saat itulah mataku mulai terbuka. Aku menjelaskan semua padanya bahwa hal itu sudah tidak mungkin. Aku tidak sedih, aku bahkan bahagia mendengar ceritanya. Selama ini, ternyata aku tidak sendiri. Dia melakukan hal yang sama kepadaku.

“I believe God had set for us beautiful time, beautiful place, and beautiful moment to meet. God prepared the perfect couple for us, the man and his lost rib.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s