New Heartbeat

(pernah diikutkan dalam lomba Menulis Berbagi)

Tahun lalu merupakan tahun terakhir dalam studiku. Tahun terakhir itu adalah kegiatan studi profesi, pengabdian penuh di Rumah Sakit. Kalau ditanya ruang apa yang meninggalkan kesan dalam satu tahun itu, aku tidak bisa menjawab dengan pasti karena setiap ruangan memiliki cerita tersendiri. Namun ada suatu cerita yang membekas selama aku dan teman-teman sedang praktik di ruang observasi jantung atau ICCU, sebuah ruang kritis yang menurutku spesial. Pasien yang dirawat di sini biasanya adalah para pasien yang sudah menjalani operasi jantung dan belum siap untuk ditempatkan di ruangan biasa. Mereka butuh observasi secara ketat melalui sebuah monitor yang terhubung entah bagaimana caranya dengan kabel-kabel dan sadapan yang ditempelkan di dada kiri pasien. Dari monitor yang ditempatkan di nurse station, para petugas medis bisa melihat irama jantung tanpa harus datang ke ruang pasien.

Jantung. Organ vital manusia yang berperan penting dalam menyuplai darah dari dan ke seluruh tubuh. Beberapa menit saja darah tidak dipompakan, efeknya luar biasa terhadap seluruh tubuh. Oleh karenanya, dalam pandanganku orang yang mendalami bidang organ ini merupakan orang yang hebat. Terlihat dengan segala responnya yang sigap dan kritis. Mirip dengan sifat organ yang mereka tangani.

Kebanyakan pengisi tempat tidur ruangan ini adalah lansia. Ya, dengan kerapuhan pembuluh darahnya. Entah itu melebar ataupun menyempit. Jika pembuluh darahnya melebar, itu karena berkurangnya elastisitas pembuluh darahnya sedangkan jika menyempit, itu karena tumpukan lemak yang menutupi aliran darah. Biasanya, alasan kedua adalah alasan terbanyak.

Sudah menjadi rahasia umum, orang lanjut usia yang sakit sifatnya akan mirip seperti anak kecil. Ya, sebagian besar pasien kami memang begitu. Tapi bukan itu yang mendasari kami untuk melakukan segala aktivitas yang perlu. Selain karena sudah menjadi kewajiban, kami melakukannya karena kami peduli. Sudah menjadi tugas kami untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia, khususnya pasien yang masih belum bisa memenuhi sendiri secara mandiri karena sakit. Banyak pasien operasi jantung yang masih belum boleh menggerakkan beberapa bagian badan tertentu supaya tidak memberati kerja jantung.

Untuk meningkatkan keterampilan kami, baik soft maupun hard skill, kami diberi seorang pasien untuk kami observasi. Seorang pasien memiliki satu mahasiswa penanggungjawab. Dan dari sinilah tantanganku dimulai, karena aku bukan orang yang pandai dalam berkata-kata namun dituntut untuk memiliki keterampilan berkomunikasi. Tidak jarang aku selalu mengajak temanku, Lisa, yang saat itu satu kelompok untuk menemaniku menemui pasien sekedar untuk memecahkan suasana. Lisa memiliki kemampuan untuk memimpin pembicaraan dengan baik, menurutku.

Di ruang ICCU aku bertemu dengan seorang pasien yang luar biasa. Sebutlah namanya Bu Bambang. Dia pasien baru. Sama seperti pasien-pasien sebelumnya, ibu ini baru saja dikirim dari ruang pulih sadar setelah operasi pembuluh darah jantung. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat akan memeriksa tanda-tanda vital. Kali ini, karena aku berencana akan melakukan interaksi singkat, aku tidak merasa perlu mengajak Lisa. Aku rasa aku juga perlu melatih diriku untuk berkomunikasi sederhana, sekedar menyapa saja. Sedikit demi sedikit aku harus lepas dari pertolongan Lisa, kalau tidak, maka aku seperti ketergantungan.

Selamat pagi, Bu Bambang.”

Pagi,” balasnya. Dia tersenyum, mengingatkanku bahwa aku belum memberinya senyuman. Maka kubalas dengan senyuman pula.

Saya cek tekanan darah dan suhunya ya Bu.”

Iya Mbak, silahkan.” Ibu Bambang terlihat selalu mengamati langit-langit kamarnya.

Ada apa Bu, kok melihat ke atas terus?”

Ini ada berapa lantai ya Mbak gedungnya?”

Kita di lantai tiga, gedungnya ada tujuh lantai.”

Wah tinggi ya Mbak… di daerah saya tidak ada gedung setinggi ini.” Aku hanya bisa tersenyum. Kalau dilihat dari penampilannya, tampaknya ibu ini berpendidikan tinggi.

Ibu dari mana?”

Dari Banyuwangi,” oh. Daerahku tidak jauh dari tempat asal ibu ini, tapi aku bukan termasuk orang yang suka membuka diri. Aku lebih suka mendengarkan orang lain bercerita. “Saya senang Mbak ke ruangan saya.”

Kenapa Bu?”

Karena dari tadi saya tidak ada teman bicara, Mbak.” Aku harap bukan teman bicara yang ibu ini minta. Itu salah satu kelemahanku. Ya, aku juga sadar ruangan ini terdiri dari bilik-bilik yang terpisah. Satu kamar untuk satu orang, jadinya penghuni kamar tidak tahu apakah ada orang lain selain dirinya.

Alhamdulillah tekanan darah ibu seratus tiga puluh per sembilan puluh dan suhunya tiga puluh tujuh derajat celcius, artinya semua dalam batas normal.”

Alhamdulillah. Mbak akan sering-sering ke sini, kan?”

Iya Bu.”

Saya boleh pesan satu hal?”

Ya?”

Tolong beritahu saya jika sudah masuk waktu solat.” Baru pertama kalinya aku menerima pesan seperti ini dari seorang pasien. Usianya sudah senja, tapi tidak pernah lupa untuk beribadah. Setelah mengiyakan dan berjanji akan datang kembali saat jam makan siang, aku pergi ke ruang pasien lain untuk melakukan hal yang sama. Aku sudah berbagi tugas dengan Lisa, dia pasti melakukan hal yang sama dari ujung yang berlawanan.

Kenapa dari tadi kamu tersenyum, Ki?” tanya Lisa begitu selesai mengukur tanda-tanda vital pasiennya dan menyusulku di nurse station.

Aku baru bertemu dengan pasien baru di pojok.”

Terus?”

Dia pesan kepadaku, kalau sudah masuk waktu solat, dia minta diingatkan.”

Subhanallah ya…”

Iya. Kamu… kalau ada waktu temanin ibunya ngobrol ya Sa. Ibunya tadi sepertinya kesepian. Aku tidak pintar berbicara…”

Iya nanti aku temani kamu.”

Rutinitas selanjutnya adalah melakukan oral hygiene. Kebersihan mulut. Kebersihan mulut di rumah sakit tidak dilakukan dengan peralatan biasa seperti pasta dan sikat gigi. Alat yang kami pakai adalah kasa, pinset besar, air hangat, suction atau alat penghisap ditambah dengan obat kumur. Jangan dibayangkan betapa ribetnya alat-alat steril yang kami persiapkan hanya untuk memebersihkan rongga mulut. Aku mulai membersihkan mulut seorang pasien dan Lisa membantuku dengan alat-alat itu. Bu Bambang yang seorang pasien baru, mendapatkan perlakuan ini untuk pertama kalinya.

Obat kumurnya rasanya pedas Mbak. Boleh saya minta sikat dan pasta gigi saja?” aku melirik Lisa yang juga sedang melihatku.

Maaf ibu, di sini kami tidak menyediakan sikat dan pasta gigi. Kebanyakan pasien di sini membutuhkan bantuan total, jadinya alat seperti ini yang kami gunakan,” aku harap Bu Bambang mau mengerti.

Baiklah kalau begitu, tapi bolehkah tidak usah menggunakan obat kumur itu? Air hangat saja cukup.”

Baik Bu, saya mulai ya?” aku pun mulai membersihkan rongga mulut Bu Bambang dengan hati-hati.

Terima kasih ya Mbak, jadi seger.” Aku mengangguk dan merasa lega karena rasa terima kasih Bu Bambang.

Mengukur tanda-tanda vital di ruangan ini dilakukan setiap jam, jadi bisa dibayangkan berapa kali kami harus bolak-balik menuju ke kamar pasien. Istimewanya, setiap aku masuk ke kamar ibu Bambang, beliau selalu tersenyum seakan-akan memang sudah menantikan kedatanganku. Beliau tidak tidur seperti pasien lainnya sehingga aku bisa menilai bahwa ibu ini sehat. Begitu pula saat aku mengantarkan obat. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman bersama ibu yang satu ini. Meskipun nyatanya hanya saling berbalas senyum.

Menjelang makan siang, aku dan Lisa sedang menunggu petugas gizi mengantarkan menu untuk pasien. Begitu yang ditunggu datang, kami bersiap untuk menuju kamar pasien tapi tampaknya bala bantuan mulai datang. Para perawat senior memasuki beberapa kamar, tinggal aku dan Lisa. Kami berdua memasuki kamar Bu Bambang. Aku membuka plastik wadah makanan dan memperlihatkan menu di hadapan Bu Bambang.

Hari ini menunya sayur sop, ikan tahu dan telur. Ibu mau semua ya? Ada puding juga untuk pencuci mulut.”

Iya,” katanya sambil tersenyum.

Aku saja yang menyupi Bu Bambang, Ki. Kamu tolong ambil air minumnya.” Aku tahu ini saatnya Lisa beraksi. Aku begitu kagum dengan caranya memulai dan memimpin perbincangan. Aku berikan wadah makanan itu kepada Lisa dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dengan sedotannya. Biasanya kami tidak pernah menyuapi pasien di ruangan lain, tapi seperti yang sudah aku sampaikan, pasien di ruangan ini butuh bantuan karena masih dibatasi geraknya. Begitu kembali ke kamar pasien, aku melihat Lisa membimbing Bu Bambang untuk makan sendiri. “Ibu sudah sejak berapa lama tidak menggerakkan badan?”

Sejak masuk rumah sakit beberapa hari lalu,” jawabnya sambil mencoba menyendok makanannya.

Mulai hari ini ibu harus melatih otot ibu ya, takutnya otot yang tidak ibu latih akan menjadi kaku,” benar saja. Bu Bambang sulit untuk menekukkan tangan kanannya sekedar untuk memasukkan makanan dari sendok ke dalam mulut. Lisa kemudian membantu mengarahkan tangannya. “Baik, latihannya saya cukupkan dulu ya Bu, sekarang saya suapi ibu saja.” Bu Bambang mengangguk.

Tapi nanti latih saya lagi ya Mbak.” Lisa tersenyum. Aku bisa membaca kekaguman Lisa kepada Bu Bambang.

Oh iya Bu, sekarang sudah masuk waktu Sholat. Setelah makan ibu bisa beribadah,” ucapku teringat pesan Bu Bambang.

Oh iya, terima kasih.” Entah kenapa, setiap kali mendengar Bu Bambang mengucapkan terima kasih, sepertinya energiku mulai bangkit lagi. Seperti menerima penghargaan.

Oh iya Bu, setelah makan, kami undur diri dulu ya, nanti kami digantikan oleh teman-teman kami,” pamitku. Alhamdulillah, menu makanan rumah sakit habis dimakan Bu Bambang.

Alhamdulillah, terima kasih ya Mbak. Kalian ini masih mahasiswa tapi sudah luar biasa. Saya doakan kalian lulus dan menjadi orang yang bermanfaat nantinya.” Kami berdua mengamini. Tiba-tiba ada seseorang masuk dan mengucapkan salam. Sontak kami bertiga membalasnya. Seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluhan dengan senyum yang mirip dengan Bu Bambang.

Maaf Bapak siapa?” tanya Lisa. Aku ingin menyenggol Lisa karena dia tidak perlu bertanya seperti itu.

Saya anak Bu Bambang.”

Iya?” lanjut Lisa.

Lisa, sekarang sudah jam dua,” tegurku.

Oh, sudah masuk jam besuk? Maaf, maaf Pak, silahkan. Kami pamit dulu ya Pak, Bu…”

Mari Mbak, terima kasih ya.” Ucap anak Bu Bambang dengan sedikit geli. Aku dan Lisa pun merapikan meja dari wadah makanan tadi. Kemudian kami pergi ke toilet untuk mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah. Aku bersyukur tugas hari ini selesai.

Esoknya aku kembali bertugas bersama Lisa di shift pagi. Aku ingin mengintip bagaimana keadaan Bu Bambang setelah seharian kemarin yang tampaknya baik-baik saja. Tapi pasien di kamar pojok bukan Bu Bambang. Kebetulan temanku yang berjaga malam masih belum pulang saat itu, jadinya aku bertanya kepadanya di mana Bu Bambang.

Bu Bambang tadi pagi dipindahkan ke ruang ekstra karena hari ini sudah boleh dipindahkan ke ruangan.” Aku bersyukur lega akhirnya kondisi Bu Bambang membaik. Setelah memeriksa catatan perkembangan medis, memang ada catatan dokter bahwa Bu Bambang sudah boleh pindah ke ruangan.

Wah ibu sudah boleh pindah hari ini ya?”

Iya Mbak alhamdulillah.”

Wah selamat ya Bu…”

Ini berkat kalian, terima kasih mau menemani saya.”

Ah, bukan apa-apa Bu, sudah kewajiban kami.”

Kalau tidak ada Mbak dan teman-teman Mbak, saya mungkin sudah stres di sini. Tapi alhamdulillah, saya ada teman berbincang.” Di dalam hati terbersit sedikit rasa bersalah karena kelemahanku yang kurang pandai dalam berkomunikasi. “Saya bersyukur sekali Mbak, saya dirawat di ruangan ini. Perawatnya ramah-ramah dan terasa diperhatikan. Akhirnya sekarang saya bisa ditempatkan tidak di ruangan tertutup seperti kemarin.”

Loh memangnya kenapa Bu di kamar kemarin?”

Wah terasa sendiri Mbak. Kanan kiri cuma kelihatan tembok. Kalau di sini enak, meskipun seperti bangsal tapi kelihatan orang.” Aku tersenyum. Aku juga pasti akan merasakan hal yang sama ketika ditinggal di kamar yang privasi dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Aku juga semakin paham bahwa sebenarnya yang paling dibutuhkan oleh orang-orang seperti Bu Bambang dan yang lainnya adalah perhatian, sekecil apapun, walaupun hanya dengan menemaninya di samping ranjangnya. Akhirnya, hari ini sebelum Bu Bambang dipindahkan ke ruangan lain, aku ingin memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Bu Bambang sudah membukakan mataku, untuk itu aku ingin membalasnya sebisaku. Menjelang jam sepuluh, aku dan Lisa membantu membereskan barang-barang Bu Bambang ke dalam tas. Kami menemani Bu Bambang sampai keluarganya datang. Begitu anak Bu Bambang yang kemarin datang dengan seorang perempuan, mungkin istrinya, membawa beberapa berkas dan tas untuk barang-barang, kami menyapa sekali lagi. Tidak terkecuali Lisa, yang langsung melancarkan topik pembicaraan. Para perawat ruangan pun mendatangi Bu Bambang. Mereka menggeser tempat tidur Bu Bambang untuk dipersiapkan menuruni lift. Sebelumnya, aku merasakan tiba-tiba tanganku digenggam. Tangan yang tadinya ikut membantu mendorong tempat tidur itu kini hangat. Aku kemudian memperhatikan wajah Bu Bambang, ingin tahu apa yang akan ia sampaikan.

“Mbak, sekali lagi terima kasih ya… sehari-hari sudah diurusin di sini. Dimandiin, disuapin, diajak ngobrol…” Bu Bambang melepaskan tanganku dan berganti meraih tangan Lisa.

Iya Bu, sama-sama.”

Ibu cepat sembuh ya, semoga lekas pulang.”

Iya. Kapan-kapan main ya ke Banyuwangi. Nanti kalau kita ketemu lagi, saya traktir kalian makan sebagai balasan karena kalian sudah baik kepada saya.”

Janji ya Bu, nanti kalau kita ketemu lagi ibu traktir kami?” canda Lisa.

Iya…” aku melihat keluarga Bu Bambang ikut tersenyum. Perawat ruangan yang lainnya pun turut menyalami Bu Bambang. Kemudian mereka mendorong tempat tidur dan seketika pintu otomatis ICCU terbuka. Bu Bambang adalah satu dari beberapa banyak orang yang memberikanku pelajaran berharga.

Seperti kata dosenku, “Pasien adalah guru kita. Mereka mengajarkan kepada kita hal-hal yang tidak kita pahami.” Beliau juga memberikan petuah tentang kegiatan profesi yang kami jalani saat ini. Bagaimanapun, sering sekali di saat jadwal padat pengabdian ini, di mana aku harus mengorbankan banyak waktu untuk orang lain dan mengesampingkan waktu untuk diri sendiri yang menyebabkan kebosanan dan kejenuhan tingkat tinggi dengan rutinitas yang sama setiap hari, aku selalu ingat petuah beliau, “Bagaimanapun, menjadi perawat itu sulit. Kita harus mengesampingkan kepentingan diri sendiri dan harus memahami kebutuhan pasien. Tapi ingat, Tuhan Maha Adil, semua pengabdian dan pelayanan kita akan terhitung ibadah karena kita membantu secara ikhlas. Dan ingat, senyum adalah ibadah. Jadi, hanya dengan tersenyum saja, kita sudah terhitung membantu orang lain.” Dengan mengingat petuah itu, aku bersyukur karena hari ini satu lagi pasien sudah kubantu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s