Dibuang Sayang, Story, Write

BUKU CATATAN PASIEN PERTAMA

(pernah diikutkan dalam Lomba Cerpen UNEJ)

Suasana hiruk pikuk. Unit Gawat Darurat sedang menerima pasien baru. Kabarnya, pasien lelaki tua ini mengalami kecelakaan dengan sebuah truk. Ketika tiba tadi pasien ini masih bisa mengaduh dan mengerang, namun beberapa menit kemudian dia diam.

Willy, perawat baru di ruangan itu segera membebaskan jalan napas dengan mendorong dahi pasien ke belakang dan meninggikan dagu pasien. Hal ini dia lakukan untuk menghindari sumbatan aliran udara. Dokter Yahya memberikan posisi shock: tubuh pasien ditelentangkan dengan hati-hati, kaki pasien ditinggikan. Emma, teman Willy yang juga seorang perawat baru di ruangan itu memeriksa napas pasien. Ia mendekatkan pipinya ke mulut dan hidung pasien untuk mendengarkan suara napasnya sedangkan matanya berfokus pada pergerakan dada pasien. Nihil.

“Nihil, tidak ada napas!” ucapnya.

“Cek nadi karotis!” instruksi dokter. Emma menempelkan dua jarinya pada leher bagian samping pasien. Nihil.

“Nihil.”

“CPR!”

Dokter Yahya mulai memijat jantung pasien. Ia melakukannya selama satu siklus. Ia berhitung dengan keras:

“Satu, dua, tiga, empat, SATU! Satu, dua, tiga, empat, DUA! Satu, dua, tiga, empat, TIGA! Satu, dua, tiga, empat, EMPAT! Satu, dua, tiga, empat, LIMA! Satu, dua, tiga, empat, ENAM!”

Willy memantau oksigen yang sudah terpasang pada pasien. Sementara itu Emma tetap meraba denyut nadi karotis pasien. Hasilnya masih nihil. Dokter Yahya memijat jantung pasien lagi dengan siklus yang sama. Di tengah-tengah siklus, ia digantikan oleh Willy karena kelelahan. Akhirnya pada siklus kesepuluh, Emma merasakan denyut nadi di leher pasien. CPR pun dihentikan. Tiga orang petugas kesehatan lain segera mengambil alih memasang infus untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang serta menghindari terjadinya shock pada pasien. Sementara dua yang lainnya memasang EKG untuk merekam irama jantung sehingga lebih mudah dipantau.

Dokter Yahya menepuk bahu Willy dan Emma, “Kerja tim yang bagus!” keduanya pun tersenyum. “Saya yakin kalian berdua kelelahan, saya juga. Bagaimana kalau kita pergi ke kantin?” ajakan dokter Yahya disambut dengan anggukan.

Ketika mereka baru saja keluar dari ruangan itu, Pak Munir, seorang sopir ambulans yang tadi membawa pasien datang memanggil Emma.

“Ya, ada apa Pak?”

“Saya yakin rumah sakit memerlukan ini untuk mengidentifikasi pasien,” kemudian dia memberikan sebuah tas kerja kepada Emma.

“Oh, terima kasih, Pak,” kemudian Emma menyusul dua rekannya menuju kantin. Saat ia datang, dua rekannya sedang menulis pesanan di atas kertas. Emma menambahkan orange juice pada kertas itu.

“Tas siapa itu Em?” tanya Willy.

“Oh, ini tas orang yang baru saja kita bantu. Pak Munir yang memberikannya padaku,” kemudian Emma mencoba membuka tas itu.

“Jangan dibuka di sini. Kita harus melindungi privasinya. Kita buka di ruang kerja kita setelah ini,” ucap dokter Yahya mengurungkan niat Emma.

Setelah sedikit memulihkan tenaga di kantin, mereka bertiga menuju ke ruang kerja untuk melakukan pendokumentasian pasien. Emma membuka tas kerja pasien sedangkan Willy mencatatnya ke dalam formulir identitas. Hal pertama yang dicari Emma adalah dompet, ia bermaksud untuk melihat KTP dan kartu identitas lain dari pasien. Ketika menemukannya, ia membacakan identitas pasien kepada Willy.

“Namanya Guntur Ahmadi. Lahir tahun 1950, berarti usianya kira-kira 60 tahun. Alamatnya di jalan Melati nomor sepuluh A, bekerja sebagai wiraswasta, sudah menikah.”

“Ada barang apa lagi di dalam tasnya?” tampaknya Willy masih kurang puas dengan data pasien. Emma mencari barang-barang lain tanpa merusaknya.

“Sepertinya hanya buku catatan pasien.”

“Apa ada kartu namanya?” tanya dokter Yahya. Emma kemudian mencari lagi di dalam tas.

“Ada, lengkap dengan nomor telpon kantor dan rumahnya.”

“Kalau begitu, berikan ke bagian administrasi agar mereka menghubungi keluarganya. Kami tunggu di kamar pasien.” Emma pun keluar dari ruang kerja itu menuju ke bagian resepsionis. Dia meminta resepsionis menelepon rumah pasien untuk memberitahukan kejadian yang menimpa Pak Guntur. Setelah itu, Emma menuju ke ruang perawatan pasien. Tampaknya semua peralatan sudah terpasang di tubuh pasien. Namun pasien belum menyadarkan diri. Dokter Yahya dan Willy sudah berada di dalam.

Pada dasarnya semua pasien koma memang tidak bisa berespon, baik untuk membuka mata, berkata-kata, ataupun bergerak. Akan tetapi, pasien koma masih memiliki kemampuan untuk mendengarkan. Oleh karena itu, hal pertama yang mereka lakukan adalah memperkenalkan diri.

“Selamat siang, Pak Guntur. Perkenalkan saya adalah dokter yang akan mengurus Anda di sini. Nama saya Yahya.”

“Saya adalah perawat yang akan merawat Anda, nama saya Willy.”

“Saya juga perawat, Pak Guntur. nama saya Emma.”

Kemudian mereka mulai melakukan pemeriksaan fisik meliputi kesadaran, tekanan darah, nadi, suhu badan, dan kecepatan pernapasan. Kemudian, di tengah-tengah pemeriksaan yang mereka lakukan, seorang wanita muda dan lelaki secara tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Keduanya sebaya dengan Emma dan Willy. Sekitar dua puluhan tahun.

“Ya ampun kakek, kok sampai seperti ini? Ria kan sudah bilang, kakek diantar sama sopir saja, jadinya nggak ngerepotin kayak gini, deh.” Emma terbelalak mendengar kata-kata wanita muda ini. Kata-kata wanita itu menimbulkan pergerakan cepat pada monitor EKG. Jantung orang tua itu berdetak cepat. Ia melirik Willy dan dokter Yahya, tampaknya ia perlu memberikan pengarahan kepada mereka.

“Maaf, Anda keluarga pasien?” tanya Emma.

“Ya, kami cucunya.”

“Baiklah, bisa kita bicara di luar saja sementara tim kami memeriksa kakek Anda?” keduanya pun setuju. Mereka pun keluar diikuti Emma yang sengaja membiarkan teman-temannya fokus memeriksa pasien.

Di luar, Emma membuka percakapan setelah menyuruh keduanya untuk duduk.

“Perkenalkan, nama saya Emma, perawat Pak Guntur.”

“Saya Ria, dan ini adik saya Arman. Suster, apa yang terjadi pada kakek saya?”

“Kakek Anda mengalami kecelakaan dengan sebuah truk. Keadaannya berangsur membaik setelah tadi sempat terjadi henti jantung dan napas.” Emma berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada Ria. Namun Ria terus memandangnya penuh perhatian. Tak ada rasa kaget. “Sekarang kakek Anda sedang tidak sadar, namun akan membaik jika keluarga terus mengajaknya bicara dan terus memotivasinya.”

Arman, yang dari tadi tutup mulut, mulai berbicara, “Mana mungkin kami berbicara dengan orang yang tidak sadar?”

“Mungkin kakek Anda tidak akan membalas perkataan Anda, tapi dia masih bisa mendengar.”

Arman memalingkan wajahnya dari Emma dengan menggumam pelan, “Membosankan sekali berbicara sendiri!”

“Baiklah suster, hubungi kami kalau ada kemajuan,” keduanya bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi. Emma terpaku. Ia heran dengan kedua cucu Pak Guntur ini. Tidakkah mereka ingin merawat kakek mereka sendiri?

Esoknya.

Emma tiba di ruang kerja. Ia meletakkan tasnya di atas meja. Kemudian ia pun pergi ke kamar Pak Guntur yang kabarnya masih belum menyadarkan diri. Di depan kamar Pak Guntur Emma melihat Ria, cucu Pak Guntur yang kemarin, sedang berdiri gelisah. Emma tersenyum.

“Selamat pagi, Ria.”

“Pagi. Bisakah saya masuk ke dalam untuk berbicara dengan kakek?”

Ria menyunggingkan senyumnya, “Ya, tentu saja.”

“Selamat pagi, Pak Guntur, saya Emma. Saat ini saya akan memeriksa Anda lagi. sebentarlagi Willy akan masuk dengan air hangat. Mungkin Anda akan merasa nyaman jika kami membasuh Anda dengan air hangat. Oh ya, saya bersama cucu Anda sekarang, Ria. Dia ingin berbicara dengan Anda. Silahkan.” Ria terheran-heran dengan sikap ramah Emma. Mengapa ia begitu ramah dengan kakeknya yang tidak sadar?

“Kakek, Ria hanya ingin memberitahu kakek. Dalam waktu dekat ini kami tidak bisa sering mengunjungi kakek ke rumah sakit…” Emma serentak menoleh. “Aku diminta ayah dan ibu untuk pergi ke tempat mereka di Sydney karena ada urusan bisnis selama beberapa hari, sedangkan Arman pergi ke Bandung untuk keperluan kuliahnya. Semoga kakek cepat sembuh,” ucapnya datar kemudian meraih tasnya dan segera keluar dari ruangan. Emma mendengar monitor EKG yang merekam lagi pergerakan cepat jantungnya. Emma menggenggam tangan pasiennya.

“Pak Guntur tidak perlu khawatir, masih ada saya, Willy dan dokter Yahya yang akan menjaga Anda di sini. Tenang saja, Pak,” sesaat Emma menggenggam tangan Pak Guntur, ia begitu terharu melihat kesendirian lelaki tua itu. Ini adalah pasien pertamanya. Seharusnya dia bahagia mendapatkan pasien pertamanya.

Ketika Willy datang membawa air hangat dan waslap, Emma melepaskan genggamannya. Willy menatap Emma lekat seolah memiliki pertanyaan tersirat yang ingin ia lontarkan. Namun Emma pergi begitu saja keluar dari ruangan.

Setelah Willy selesai dengan tugasnya, dia lekas menuju ke ruang kerja. Di sana ia bertemu dengan Emma dan dokter Yahya.

“Ada apa tadi Em, kenapa kamu sepertinya sedih?”

“Tadi Ria, cucu Pak Guntur datang lagi. Dia bilang akan berbicara dengan kakeknya. Awalnya aku senang sekali karena dia mau melakukannya. Tapi ternyata dia berkata bahwa dia dan adiknya tidak bisa menjenguk kakeknya lagi dalam beberapa hari karena Ria akan pergi ke Sydney dan adiknya akan mengurus perkuliahan.”

Willy duduk terpaku.

“Ini sulit,” ucap dokter Yahya. “Kita tidak tahu siapa pasien kita, bagaimana dia, apa yang harus kita katakan untuk memotivasinya. Selama ini motivasi yang paling kuat adalah dari keluarga.”

“Kita akan mencoba sebisa kita!” semangat Willy.

“Tentu!”

Hari ini Emma lelah sekali. Pukul 22.00 dia baru sampai di rumahnya. Dia pun membersihkan diri di kamar mandi kemudian mulai merebahkan tubuhnya di ranjang. Selang beberapa menit pun ia sudah terlelap. Pukul 23.00 ponselnya bergetar. Namun ia tidak merasakannya karena ponselnya berada di tasnya, di meja ruang tengah.

Paginya, saat ia bangun, ia mencari-cari ponselnya. Ia pergi ke ruang tengah. Diraihnya tasnya dan mengambil ponsel pinknya. 2 pesan 3 panggilan. Ia langsung membuka matanya lebar.

From: Willy

Em, bisa ke R.S sekarang? Pak Guntur kritis.

Pesan kedua dari dokter Yahya dengan isi pesan yang sama. Panggilan pun menunjukkan nomor Willy dan dokter Yahya.

Ia pun segera menuju kamar mandi, berpakaian rapi dan meraih sepotong roti. Kamarnya masih berantakan tak ia hiraukan.

Sesampainya di ruang kerja, ia menemukan Willy dan dokter Yahya.

“Ada apa? Maaf semalam aku sudah kelelahan. Aku tidak tahu ada pesan dan telepon di ponsel.”

Willy melirik dokter Yahya.

“Semalam Pak Guntur mengalami kondisi kritis,” ucap dokter itu.

“Sekarang bagaimana keadaannya?”

“Dia sudah melewati kondisi kritisnya.”

“Syukurlah, lalu?”

“Keluarganya akan menjemputnya.”

“Menjemput? Apakah dia sudah benar-benar sadar?”

“Tidak,” Emma menunggu kelanjutan perkataan dokter Yahya. “Dia sudah meninggal.”

Emma terduduk. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pantatnya. Sebuah tas milik pasien pertamanya. “Oh, aku rasa kita juga harus mengembalikan ini kepada keluarganya.” Ia masih ingat bagaimana kerja timnya dalam menyelamatkan jantung dan paru pasien ini agar bekerja kembali di awal mereka menerima pasien ini. Tanpa terasa tangan Emma merogoh isi tas itu. Ia menyentuh sesuatu dan menariknya keluar. Buku catatan yang sama sekali tak dibukanya. Ketika ia mengangkatnya, secarik kertas yang terlipat jatuh ke pangkuan Emma. Ia membukanya.

Surabaya, 8 Mei 2010

Kepada siapapun yang menemukan buku catatanku.

Namaku Guntur. Ketika kau membaca surat ini, mungkin kau akan menemukanku sedang dalam kecelakaan. Ya, kecelakaan yang kusengaja. Aku memutuskan untuk melakukannya karena memang keluargaku sama sekali tidak membutuhkanku. Anakku dan istrinya pergi ke luar negeri untuk berusaha di sana, menolak untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Di umurku yang sudah tak muda ini, aku membutuhkan penerus. Tapi, satu-satunya anak lelakiku tak menginginkannya. Anak-anak mereka, cucuku, tinggal bersamaku. Namun biarpun mereka serumah denganku, aku merasa jauh sekali. Tak pernah bicara bersama layaknya kakek dan cucu. Maka aku akan pergi menemui satu-satunya orang yang memahamiku. Untuk usiaku yang tak lagi muda ini, aku rasa sudah tiba saatnya bertemu dengannya, istriku yang sudah tiada.

Ketika aku telah tiada, kuminta pada kalian, kuburkan aku di samping istriku, supaya aku lekas bertemu dengannya.

Emma terhenyak. Pasiennya sengaja menabrakkan dirinya dengan truk. Ia tak punya harapan untuk hidup. Ia bunuh diri.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s