Dibuang Sayang, Story, Write

I Am Happy

(Pernah diikutkan dalam Kuis Ulang Tahun Anggun) 

Seorang perempuan muda sedang duduk di kursi taman sambil menikmati minuman gelasnya. Dia sedang mengamati keadaan di sekitar. Sebuah lapangan terbuka yang sepi karena matahari bersinar begitu terik. Untung saja kursi itu dinaungi pohon rindang sehingga Anggun bisa duduk dengan tenang. Angin semilir sekali-kali menerpa rambut panjangnya.

“Tidak bisa begini. Mungkin ini hanya akan kurasakan beberapa hari saja. Hanya proses adaptasi saja. Suatu hari nanti aku akan terbiasa, ya, pasti seperti itu…” ucapnya pada diri sendiri. Sekali lagi Anggun menghembuskan napasnya setelah melakukannya berulang-ulang tadi. Napasnya tidak selega dulu, selalu masih ada ruang yang belum terisi udara. Di situlah Anggun merasakan beban yang berat. Seperti ada sesuatu yang mengekang kebebasannya. Menariknya seperti magnet yang tak bisa ia tolak. “Tapi kenapa ya…” Anggun meneruskan percakapannya. Seolah-olah dia sedang bercerita kepada angin yang sedang lewat. Dia mengangkat kepalanya menghadap langit. “…kenapa seperti ada sesuatu yang hilang dan mendesak di sini ya… berat napasku… sampai kapan aku seperti ini?” Anggun menggelengkan kepalanya. Ini pasti tidak seburuk yang ia kira. Dia pasti bisa melewati semua ini. Anggun menepis semua pikiran negatif yang bahkan bisa merusak semangatnya. “Ah, buktinya teman-teman yang lain bisa… mereka kelihatannya senang-senang saja… sudah ah, sekarang pulang.”

Anggun bangkit dari kursi itu setelah minumannya habis dan ia buang bungkusnya di tempat sampah. Sebenarnya dia hanya mampir sejenak untuk berteduh dari panasnya matahari. Dia memakai masker dan kaos tangannya dengan sekali lagi, menghembuskan napasnya berat. Dia mulai menghidupkan starter motor matic-nya dan berbaur dengan barisan kendaraan di jalan raya.

Keluar dari jalan besar antarkota, Anggun berbelok memasuki jalan kecil desa dan mulai memelankan kendaraannya. Sebentarlagi pemandangan gunung, sawah, hijau, dan biru alam akan menyapanya. Kesempatan ini selalu Anggun temui ketika berangkat dan pulang dari rutinitas wajibnya. Anggun mengakui dalam hati, pemandangan itu adalah salah satu hal yang menjadi penguatnya setiap hari. Anggun menjadi ingat akan keberadaan Tuhan dan bersyukur karena masih diijinkan melewati dan menikmati pemandangan itu dengan gratis.

Duapuluh menit kemudian dia sudah memasuki pekarangan rumahnya. Ia langsung memasukkan matic-nya ke dalam garasi. Ibunya tampak menyambut di ruang tamu. Setelah mengunci lagi garasi, Anggun menyalami tangan ibunya.

“Mukamu kucel gitu Nggun, badanmu juga kelihatan loyo… nggak capek tiap hari pulang pergi kantor-rumah? Wong udah disewain kamar kos kok pulang terus…”

“Nggak apa-apa ibu…” ucap Anggun singkat. Entah kenapa, biasanya Anggun suka berdialog  bersama ibunya. Kali ini dia seperti menghindari dialog panjang dan berdiam diri di kamar. Awal bulan lalu memang Anggun diantar kedua orang tuanya untuk menyewa sebuah kamar kos dan mereka sudah memindah sebagian barang Anggun. Tapi sekalipun Anggun tidak pernah menggunakan kamar itu untuk menginap. Dia hanya mengunjunginya sekali-dua kali untuk melepas penat sejenak, sholat, kemudian pulang. Sekarang hampir akhir bulan dan dia sama sekali tidak melangkahkan kakinya di sana.

Anggun mengganti pakaian di kamar, sayup-sayup ia mendengar dialog televisi yang menyala di ruang tengah. Topiknya benar-benar sesuai dengan apa yang dirasakan Anggun. Acara itu menyisakan dua kalimat bijak yang akan selalu Anggun ingat. Kalimat dari Confucius:

 Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.

 

(Pilihlah pekerjaan yang kau suka, dan kau tidak akan pernah bekerja seharian dalam hidupmu). Ketika kita memilih pekerjaan yang kita sukai, kita tidak akan pernah merasa terbebani karena sudah merupakan hal yang justru membuat semangat kita menggebu-gebu. Ketika passion kita berbicara, tidak akan pernah mengeluh apalagi ingin keluar dari ketidaknyamanan yang kita rasakan. Kita tidak akan pernah merasa tanggungjawab yang kita emban sedang mempekerjakan kita, sebaliknya, kita akan merasa sedang mengerjakan kegiatan yang kita sukai.

Wheresoever you go, go with all your heart.

(Ke manapun kau pergi, pergilah dengan seluruh hati). Ya, jangan pernah setengah hati pergi ke suatu tempat yang akan dituju. Pergilah dengan seluruh hatimu.

 

Anggun mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa sadar. Dia tidak merasa bahagia dengan apa yang dilakukannya berhari-hari. Berkali-kali dia meyakinkan diri bahwa ini hanya sementara. Nanti pasti akan berbeda. Tapi setelah mendengarkan ini semua Anggun menjadi yakin untuk mengambil langkah pasti. Apa yang menjadi kebiasaannya sungguh berbeda dengan apa yang ia jalani sekarang. Passion. Ya, kata-kata itu yang ia cari selama berhari-hari. Ya, hari ini Anggun bertekad untuk tidak menjalani apa yang membebani hati dan pikirannya. Resign. Sebuah kata yang sangat berat untuk diucapkan. Sebuah kata yang bagaikan dua sisi mata pedang. Sisi pertama dia akan dicap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab. Ya, dia akan melepaskan apa yang dia emban selama ini. Melepaskan semua yang membebaninya demi sebuah kata yang menjadi sisi pedang yang satunya lagi. Kebebasan. Kebebasan yang ia kejar bukanlah kebebasan tanpa melakukan apapun. Kebebasan untuk melakukan apa yang ia inginkan. Sesuai dengan kehendaknya. Dia percaya akan pepatah ‘Right man in the right place’.

Anggun sudah memikirkannya baik-baik. Termasuk konsekuensi untuk menghadapi orang tuanya dan memulai segalanya dari nol lagi. Menjadi job seeker dan menjalani tes dari awal. Dia sudah mantap akan keputusannya. Dia harus bangkit dan mengejar passion-nya! Dia harus siap melepas semuanya dan memulai semuanya dari awal. Selamat tinggal keluh kesah!

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s