Story, Story, Travelling, Write

Kelas Inspirasi Bondowoso #2 Day 2

142

Perjalanan yang kami lalui menuju desa Sempol merupakan arah yang dituju oleh wisatawan, tepatnya menuju Kawah Ijen. Jalannya lumayan lancar, sudah beraspal, hanya beberapa saja yang masih belum rata dengan bebatuan. Karena sekarang musim penghujan, ada beberapa tempat yang longsor namun tidak sampai menutup seluruh jalan. Harus diingat, meskipun jalannya sudah beraspal, pengendara harus tetap berhati-hati karena jalan yang berliku-liku dan lumayan panjang.

Kami sampai sekitar pukul sebelas malam di base camp, yaitu Dinas Pendidikan yang ternyata terletak tepat di depan SDN Sempol 1, tempat saya akan mengajar. Setelah makan malam, kami langsung mengadakan briefing untuk acara esok. Secara garis besar, saya memaparkan rencana teaching saya berikut ini:

Download Lembar Lesson Plan

Yang ingin saya komentari di sini adalah tata cara kerja panitia yang patut diacungi empat jempol sekaligus. Bagaimana tidak, mereka membuat para relawan nyaman di tempat penginapan. Pertama datang saja, saya dan teman-teman disambut baik, ditunjukkan mana tempat kami bisa meletakkan barang, menggelar karpet yang sebenarnya bisa saja saya lakukan sendiri, menyediakan penerangan ketika lampu di kamar mandi mati, dan sebagainya. Saya bisa menjamin service di hotel kalah deh ini ^_-

Oke, hari pertama pun terlewatkan dengan kelelahan karena perjalanan, dan bersiap untuk besok pagi yang kegiatannya dimulai pagi sekali. Sekedar saran, kalau main ke daerah ini, apalagi kalau sampai ke daerah Ijen-nya, jangan lupa bawa Sleeping Bag atau selimut tebal. Kebetulan cuaca daerah Sempol hampir mirip dengan daerah rumah saya. Nggak dingin banget, tapi kalau disuruh nyemplung air bukan ‘minta ampun’ lagi, tapi ‘minta maaf banget’. Sebelum tidur, saya dan relawan lain sempat membantu Eka C.U mempersiapkan alat peraganya yang sebagian belum selesai sambil bercengkerama.

Besoknya, saya berkali-kali membuka mata sebelum jam alarm saya berbunyi. Tiap lima belas menit saya cek jam handphone saya. Entah karena kegirangan akhirnya 12 Maret itu datang juga, atau cemas, saya sendiri tidak paham. Bangun sih oke saja, tapi prinsip saya ketika travelling beramai-ramai “Kuasailah kamar mandi sebelum ia ramai” agak keder juga dilakukan di sini. Tapi akhirnya, saya bosan juga tiap kali mengecek jam di handphone. Akhirnya, saya menyiapkan alat mandi dan memberanikan diri menghadapi dinginnya udara Sempol.

Pukul tujuh kurang, panitia yang bertanggungjawab di SDN Sempol 1 mengunjungi sekolah terlebih dahulu untuk persiapan kegiatan Kelas Inspirasi. Oh ya, jauh-jauh hari sebelum hari H, panitia sudah melakukan pertemuan bolak-balik ke daerah ini untuk melakukan perijinan dan sosialisasi. Emang deh panitia yang satu ini patut dibanggakan.

Panitia kemudian kembali dengan berita ‘guru belum datang, jadi kita belum bisa masuk ke sekolah’. Saya jadi teringat cerita salah satu panitia, pekerjaan mayoritas wali murid di daerah ini adalah berkebun. Para murid berangkat bersama orang tua mereka pagi-pagi sekali. Orang tua mereka harus sudah berada di kebun pukul 06.00. Alhasil, tidak ada cerita murid terlambat di sini. Salut saya…

Karena letak basecamp kami yang berhadapan langsung dengan SDN Sempol 1, kegiatan berbaris kami per kelompok untuk persiapan berangkat mencuri perhatian siswa-siswi di sana, ditambah dengan atribut kaos kami yang seragam. Para relawan fotografer pun mulai mengabadikan mereka lewat kameranya, sementara kami tersenyum-senyum melihat tingkah mereka di depan kamera.

Saya dan Eka C.U berkali-kali khawatir dengan suasana mengajar kami, “Bagaimana kalau kelas yang saya ajari nanti garing ya?” dan jujur, sejak datang ke desa itu saya sama sekali tidak me-review urutan mengajar saya. Apa yang akan saya lakukan ketika masuk kelas, bagaimana ice breaking yang akan saya lakukan, dan sebagainya. Saya sengaja mengosongkan ‘hafalan’ saya supaya let it flow

Sementara beberapa teman sudah mulai berangkat ke desa yang lebih jauh, kelompok saya yang pengajarnya terdiri dari saya, Eka C.U (arsitek di Surabaya), Pak Edy Jo (dosen matematika di UNEJ), dan mas Reza (wirausahawan) memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu karena murid-murid di SDN Sempol 1 tampaknya masih melakukan senam pagi.

Setelahnya, kami semua berangkat dengan tim lengkap dan melakukan upacara pembukaan. Nah, di sinilah saya dan Eka C.U yang tadi meragukan suasana mengajar mulai malu. Masalahnya, anak-anak di SDN Sempol 1 sungguh luar biasa. Waktu guru memimpin upacara dengan sapaan, “Apa kabar?” mereka menjawab, “Luar biasa. Alhamdulillah. Allahuakbar. Yes, yes, yes!” saya pun langsung melirik Eka C.U dan tertawa atas kebodohan kami berdua. Guru menyampaikan maksud kedatangan kami dan panitia pun memperkenalkan kami satu per satu. Sayangnya, kelas 1-4 tidak kebagian kelas inspirasi ya dek, hehe…

Mulailah kami membagi diri. Jadi, inilah yang saya lakukan di tiap-tiap kelas:

Saya mengucapkan salam ketika masuk. Pertama, saya menanyakan hal yang sama seperti saat di upacara, “Apa kabar?” dan sebagian besar mereka tidak menjawab seperti di saat upacara. Mereka hanya menjawab “Baik”. Kemudian saya ulangi lagi pertanyaan saya hingga mereka menjawab dengan benar. Setelah itu saya bermain tegur sapa. Apabila saya mengatakan “hai” mereka harus menjawab “halo”, dan sebaliknya. Setelah suasana mulai bersemangat, saya barulah memperkenalkan diri. Ajaibnya, mereka masih mengingat nama saya ketika panitia memperkenalkan saya di saat upacara tadi. Saya kagum untuk kedua kalinya. Ya, saya sadar, anak-anak ini tentu saja diberondong dengan rasa penasaran sejak pagi karena kehadiran kami, orang-orang asing ini, dan pasti mereka menanyakan ‘apa yang orang-orang ini bawa untuk kami?’

Sekali lagi, saya tidak langsung memasuki materi inti mengenai ‘perawat’. Saya mengajak mereka bermain kata dalam Bahasa Inggris melalui Watermelon Game. Saya mengeluarkan kartu bergambar semangka, pepaya, pisang dan tomat. Saya menanyakan kepada mereka nama-nama buah itu dalam Bahasa Inggris, yang tentu saja bisa mereka jawab dengan mudah. Lalu, saya ajak mereka menyebutkan kartu itu dengan cepat dengan aba-aba, “Konsentrasi… Jangan tatap mata saya, tapi tatap gambarnya”. Saya berhasil membuat mereka tertawa karenanya. Setelah tebak gambar, saya ajarkan mereka gerakan Watermelon Dance dan mereka pun mengikuti saya dengan tempo yang semakin lama semakin cepat. Terakhir, saya ajak mereka untuk duduk dan bertepuk tangan. Barulah kali ini saya memperkenalkan profesi perawat melalui poster.

Saya sadar, tidak banyak materi yang saya sampaikan karena saya mengerti, 45 menit sudah melebihi titik kejenuhan seorang anak untuk fokus. Untung saja, saya mempersiapkan poster ‘darurat’ berupa lirik lagu cuci tangan yang benar.

6

Setelah saya ajari, akhirnya saya meminta beberapa anak untuk maju mempraktekkannya karena panitia menyiapkan doorprize. Sumpah, antusias mereka sangat besar. Saya sampai kewalahan dan merasa bersalah hanya menunjuk dua dari mereka. maaf ya dek…

Sebenarnya saya juga menyiapkan puzzle, tapi… Terlalu sulit gambarnya. Hehe… Lain kali, kalau ada kesempatan kakak akan siapkan yang lebih baik ya dek…

Terakhir, saya menanyakan kepada mereka apa cita-citanya dan menanyakan apakah mereka senang didatangi kakak-kakak. Saya berikan suntikan motivasi, “Semoga beberapa tahun ke depan ketika kita ketemu lagi, saya sudah melihat adik-adik bisa meraih cita-citanya, sudah memakai seragam kebanggannya. Jangan lupa belajar dan berbakti kepada orang tua, menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitar.” Dengan demikian, berakhirlah pertemuan saya.

Melihat antusias yang begitu besar, justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak luar biasa itu. dan percaya, setelah acara ini berakhir, para relawan banyak yang mengaku ketagihan dengan Kelas Inspirasi πŸ™‚ tidak terkecuali para relawan yang sudah beberapa kali mengikuti kegiatan ini. sekarang saya pun paham kenapa mereka selalu ikut kegiatan ini πŸ˜€

158

Sambil menunggu teman lain yang belum kembali (karena ada juga salah satu relawan yang ban sepedanya bocor), kami yang semobil (minus Izra) ditambah Alen (teman masa kecil saya) dan temannya mampir ke kebun strawberry dan memetik sendiri buah itu. hujan tak jadi penghalang, man! Haha… Harga buah strawberry per 250 gr sebesar Rp 12.500,- plus tiket masuknya sebesar Rp 2.500,-

Pokoknya, kalau saya disuruh mengulang hari itu, saya tidak akan menyesal! Salam inspirasi!

Advertisements

6 thoughts on “Kelas Inspirasi Bondowoso #2 Day 2”

  1. Percaya sama saya
    Sekali kamu ikut ini …
    Kamu akan kecanduan …ingin lagi dan lagi
    Bukan hanya pengalaman ngajarnya

    Tapi juga bertemu orang yang bersikap positif dan mau bekerja tanpa dibayar

    Salam inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s