Story, Story, Travelling, Write

Singgah ke Pantai Ria, Kenjeran

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman jalan saya, Sally, berkenalan dengan seorang penerima beasiswa LPDP yang sedang melanjutkan kuliahnya di Universitas Airlangga. Kami mengenalnya dalam sebuah perekrutan Tenaga Sukarelawan (TSR) di markas PMI Kota Surabaya. Namanya Iqbal, asalnya dari Lombok dan sekarang sedang menempuh Program Magister Psikologi. Kami sedang bertukar informasi, Iqbal sharing tentang LPDP dan kami sering mengajaknya berkeliling Surabaya supaya dia lebih hafal dengan tempat tinggal keduanya ini.

Suatu hari dengan keadaan kami bertiga yang sedang menganggur, kami sepakat untuk jogging sore di lapangan KONI Kertajaya. Lapangan yang satu ini memang tidak pernah sepi karena banyak atlit yang latihan, mulai dari lari, memanah, dll. Iseng, setelah kami jogging dan selesai melaksanakan shalat Maghrib di musholla KONI, kami bersepeda beriringan menuju Pakuwon City. Jalannya lumayan sepi dan tampaknya Iqbal mulai terpukau dengan Surabaya. Banyak sisi Surabaya yang memang mulai dibuka lahannya dan dilakukan pembangunan.

Sebenarnya tujuan utama kami adalah Pantai Ria Kenjeran, tapi kami sedikit ragu sebenarnya karena hari sudah mulai petang. Ternyata, pantai ria Kenjeran tetap buka. Mampirlah kami dan mulai keliling tetap dengan sepeda kami masing-masing. Banyak spot yang bisa dimasuki, objek pertama adalah patung Dewi Kwan Im.

1

Kali ini nggak hanya Iqbal, saya dan Sally pun ikut terkagum-kagum dengan patung ini. Masalahnya, karena kami masuk ke sini petang hari, lampu yang terpancar dari patung ini seakan menambah kemewahan. Patung ini terletak di dalam sebuah tempat ibadah (vihara). Awalnya, saya dan teman-teman yang belum pernah masuk ke tempat ibadah itu ragu. Apalagi saya dan seorang pengunjung lain menggunakan hijab, apakah boleh masuk? Ternyata pak parkirnya baik. Beliau mengarahkan untuk tetap masuk saja ke dalam. Tampaknya beliau juga paham bahwa kami ragu-ragu. Pak Parkir juga memberitahu kalau tempat ini buka sampai jam 9.

Masuk ke dalam, masih ada beberapa orang yang melaksanakan kegiatan ibadah. Bau khas dupa mulai menyambut kami. Letak patung ini ternyata membelakangi laut Kenjeran langsung. Dan saya mulai menangkap kesan mistis di sini. Patungnya ternyata besar banget…

1_2

Selesai foto-foto, kami keluar dari vihara dan pergi ke tempat di seberangnya, yaitu patung Budha 4 wajah.

Nggak kalah mistis. Mungkin lain ceritanya kalau kami berkunjung pada pagi atau siang hari. Di beberapa pojok ada patung Ganesha dan gajah putih. Topik pembicaraan kami sejak masuk vihara yang pertama adalah, ‘Bagaimana cara patung-patung besar itu dipindahkan dan diletakkan di Kenjeran?’ dengan kata lain, kami kagum…

Obyek selanjutnya adalah tempat ikonik di Kenjeran, yaitu bangunan warna-warni yang menjulang tinggi. Sayang, karena cahaya sudah gelap, jadinya tidak ada foto yang kami ambil di sana. Ada beberapa yang menjadi perhatian kami:

Pertama, kami melewati banyak kuda yang tampaknya memang dipelihara di sana. Kami melewati salah satu kuda yang kedua matanya berdarah. Bukannya ngeri, tapi kasihan. Kenapa bisa seperti itu.

Kedua, banyaknya pasangan pemuda-pemudi yang tampaknya menyalahgunakan tempat ini. ini sudah menjadi rahasia umum begitu menjelang gelap, pasti ada banyak pasangan yang berduaan di tempat gelap seperti hutan dan gazebonya. Saya jadi teringat cerita teman saya yang dulu pernah berkunjung ke sini dan sempat melihat penemuan mayat remaja perempuan tanpa busana. Astaghfirullah… Namun begitu, kejadian-kejadian ini seperti dibiarkan saja. Orang-orang bahkan menganggap perilaku ini semakin difasilitasi.

Terakhir, simbol ikonik Kenjeran yang terakhir saya dan teman-teman kunjungi banyak berceceran kotoran kuda. Aromanya pun jadi tidak sedap. Sayang kalau tempat sebagus itu jadi tidak terawat.

 

Pulangnya dari Kenjeran, kami meneruskan perjalanan menyusuri pantai dan sampai di tempat nongkrong masyarakat dekat jembatan Suramadu. Pas sekali, karena badan kami lumayan lelah setelah jogging dan perjalanan yang lumayan lama karena sedikit nyasar. Ngopi dan mie goreng lumayan mengisi perut lah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s