Story, Travelling, Write

Berlibur ke Pantai Gua Cina, Malang

1

Pantai Gua Cina memang belum banyak di ekspose ke media oleh orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya ada banyak pantai di daerah ini yang berdekatan, seperti Pantai Sendang Biru dan lainnya. Kawasannya pun masih alami.

Saya dan teman-teman pergi ke pantai ini bertepatan dengan malam tahun baru 2016 lalu. Kami berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari macet yang biasanya menghadang di arah masuk kota Malang, tepatnya di kota Lawang. Dari sini menuju Malang Selatan memang lumayan jauh, apalagi memasuki kawasan wisata pantainya. Jujur, dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam mengarungi jalanan gunung yang berkelok-kelok. Tapi ingat, semua perjalanan itu selalu terbayarkan dengan keindahan yang alam tawarkan.

Kami sampai di sana sore hari, cukup lelah, karenanya kami langsung menuju ke warung. Di tepi pantai banyak pengusaha warung yang menawarkan makanan dan minuman, jasa sewa tenda, barang-barang kebutuhan, dan juga toilet. Oh ya, di tempat ini belum dialiri listrik, jadi kalau mau nge-charge HP nunggu malam dulu, baru kalau mesin genset menyala, itu artinya kalian bisa menggunakan jasa charging HP dengan tarif ‘seikhlasnya’. Toilet dan kamar mandinya bisa kamu pilih, yang jelas airnya bersih banget (meskipun asin, hehe…) tempatnya juga nggak jorok. Itu nomor satu.

Sebenarnya waktu kami sampai di pantai, keadaan pantai terang dan panas banget, membuat saya berpikir berkali-kali untuk keliling pantai saat itu juga. Karenanya saya banyak menghabiskan waktu di warung sambil menunggu adem. Barulah setelah shalat Maghrib kami beraksi mendekati ombak dan bermain pasir. Iseng, saya dan teman saya bermain resolusi 2016, “Kalau di tahun 2016 saya bisa melakukan ini … Maka ombak akan sampai di kaki saya!” Tentu saja karena ini adalah salah satu Pantai Selatan yang ombaknya terkenal besar, ombaknya selalu berhasil menerjang kami 😀

Sampai ada sebuah ombak yang benar-benar menyapu kami, melewati atas kepala kami ketika duduk di pinggir pantai, beranjaklah kami dari situ dan membersihkan diri.

Sisa malam selanjutnya kami nikmati dengan menikmati minuman hangat dan mie goreng. “Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Kemudian kami pergi ke pinggir pantai lagi sambil menggelar spanduk teman kami yang telah terpakai oleh kegiatan di kampungnya. Berbaring menikmati langit malam, menunggu pergantian tahun baru sambil merem tipis-tipis. Sebelum jam 12 malam pun sepertinya pengunjung sudah tidak sabar menyalakan kembang api. Alhasil, perlombaan kembang api pun dimulai sampai persediaan habis 😀

“Happy new year!”

Besoknya, kami jalan ke Gua Cina. Astaga… Bagian pantai di mana kami berhenti itu bukan apa-apanya. Ternyata, kalau kami mau masuk lebih dalam lagi, ada pantai yang ombaknya tidak begitu besar karena karangnya lebih banyak.

Dinamakan Gua Cina karena konon katanya banyak orang-orang Cina datang ke tempat ini untuk sembahyang. Dan gua ini sebenarnya tidak begitu dalam. Hanya tangga masuk dan celah gua yang buntu. So, ada yang berminat ke sini? Ke mana tahun baru kemarin kalian habiskan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s