Story, Write

Seminar Bencana dan Punahnya Peradaban

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 8 Januari 2015, saya mendapat ajakan teman saya untuk hadir dalam sebuah seminar terbuka, berjudul ‘Bencana dan Punahnya Peradaban’. Kebetulan teman saya lepas jaga malam dan saya sedang tidak ada kegiatan, jadinya saya iyakan saja. Memang, kalau dilihat dari judulnya, hal itu sama sekali di luar background bidang yang saya geluti, keperawatan. Tapi tidak ada salahnya, kan, mempelajari ‘dunia lain’?

Saya yang kala itu sudah lama tidak menghadiri acara formal seperti seminar, pagi-pagi sekali sudah siap dengan pakaian formal. Acara dimulai jam 08.00 di Ruang Sidang lantai 1 Gedung Rektorat ITS Surabaya. Sesampainya di ruang seminar, kami sempat ‘keder’ melihat peserta yang datang. Pasalnya, para peserta yang rata-rata memakai batik saat itu terlihat senior. Ya, mereka terlihat sangat ahli dalam bidang ini. banyak pula yang tidak segan membawa kamera SLR serta handycam untuk merekam acara ini. Kamera canggih untuk keperluan publikasi TV pun kami temui, baik di ruang seminar maupun di luar gedung.

Acara dibuka oleh Bapak Amien Widodo, koordinator Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim. Dari pembukaan itu, saya sudah merasa tertarik, maka saya buka isi kepala saya, bersiap-siap menerima ilmu baru. Hanya satu harapan saya, bahwa pembicara meminimalisir penggunaan kata-kata istilah di bidangnya supaya saya yang awam ini mengerti juga.

Ada satu pernyataan dari Bapak Amien Widodo yang menarik:

“Stephen Opheimer melakukan pemetaan DNA manusia yang ada di permukaan bumi dan hasilnya menunjukkan bahwa kita ini mempunyai satu ibu yang hidup sekitar 160.000 tahun yang lalu dan ‘ibu’ semua manusia itu dimulai di Afrika Tengah (Amien, 2016).”

Dua pembicara menarik lainnya adalah Bapak Danny Hilman Natawidjaja, Ph.D yang merupakan anggota Tim Katastrofi Purba, anggota Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), wakil ketua TIMNAS Gunung Padang bidang Geologi, dan peneliti LIPI; serta Bapak Andang Bachtiar, seorang Geologist Merdeka, Tim Peneliti Katastrofi Purba, Ketua Komite Eksplorasi Nasional, dan Anggota Dewan Energi Nasional. Keduanya memaparkan beberapa perkembangan bumi, menyinggung evolusi, dan sebagainya yang bagi saya dengan background keperawatan, sedikit terlalu berat materinya. Namun ada beberapa bahasan yang menarik minat saya tentang Gunung Padang. Berikut beberapa kutipan yang menarik buat saya:

“Waktu raja-raja Firaun membangun piramida-piramida megah 3000 tahun lalu di tempat yang susah-susah di padang pasir sana, apakah nenek moyang kita leyeh-leyehan saja tinggal di gua-gua dan tidak melakukan apa-apa?

Salah satu kemungkinan jawabannya adalah: ‘Kita punya masa lalu yang harusnya sama atau lebih hebat dari masa lalu bangsa-bangsa lain di dunia karena keunggulan potensi alam kita. Tetapi karena sifat siklus kebencanaan yang ada maka catatan-catatan dan peninggalan-peninggalan masa lalu itu terhapus, terkubur, terpendam oleh letusan gunung api, terjangan tsunami, goyangan gempa, dan gelontoran kuburan lumpur, longsoran gerakan tanah di mana-mana’ (Bachtiar, 2016).”

“Di Indonesia ada microchip di topeng abad ke-4 SM yang ditemukan di Jombang. Ada tumpukan bahan radioaktif di bangunan peninggalan Belanda abad 19 di Lubuk Linggau yang sudah pakai teknologi X-ray (padahal Merrie Currie baru menemukan prinsip X-ray di tahun 1901 jauh sesuadah tahun pembangunan bangunan tersebut), adanya terowongan-terowongan Belanda di Gua Jepang Dago Pakar yang kemungkinan mencoba membongkar peninggalan-peninggalan aneh di sana, kemungkinan adanya bangunan-bangunan di bawah Gunung Padang maupun Sadahurip Garut yang selalu coba ditutup-tutupi faktanya oleh pihak yang anti, dan masih banyak lagi yang kalau diuraikan satu-satu akan semalam suntuk sendiri kita diskusi (Bachtiar).”

Kutipan-kutipan tersebut hanyalah secuil dari apa yang sudah dipresentasikan oleh Bapak Danny dan Bapak Andang.

Ketika kami menikmati waktu santai, kami bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa ITS yang ternyata juga hadir di seminar ini untuk mengisi waktu luang. Ternyata, mereka pun memiliki background keilmuan yang berbeda. Hal ini membuat mata saya terbuka dan menyadari bahwa bidang yang saya geluti hanyalah sebuah kotak dari sekian banyak kotak-kotak yang ada di dunia ini. Pelajarannya adalah, jangan menutup mata dari hal-hal lain di sekitar kita 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s