Story, Travelling

Liburan Ekstrem ke Pantai Tampora

Judul yang saya buat sepertinya berkesan ‘ekstrem’ dalam hal adrenalin. Ya, meskipun kedengarannya ‘merepet-merepet’ ke arah situ, sebenarnya ‘ekstrem’ yang saya maksud adalah perjuangan menuju ke tempat wisatanya.

Pantai Tampora terletak di Besuki, Situbondo. Kali ini saya berlibur dengan teman-teman SMA. Berempat, kami menggunakan dua motor berangkat dari Bondowoso melewati gunung Arak-arak. Lumayan adem dan siapa yang menyangka di tengah perjalanan kami dihadang oleh hujan yang lumayan deras. Karena ada salah satu teman kami yang nggak bawa jas hujan, ditambah satu teman yang koplak, bawa jas hujan tapi atasannya doang, maka kami memutuskan untuk berteduh di warung pinggir jalan. Menunggu hujan agak reda, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tampora. Jalan masuk ke pantai cukup tersembunyi, berupa gang perkampungan, tapi lokasi pantai tidak begitu jauh dari pintu masuk.

Tiket masuk ke pantai ini cukup terjangkau, yaitu sebesar tiga ribu rupiah, meskipun saya heran kenapa kami tidak mendapat karcisnya. Menurut saya, lokasi ini cocok untuk dijadikan lokasi foto pre-wed karena masih bersih. Dari lokasi dekat gua kucing (yang sebenarnya berupa karang) kita bisa melihat siluet PLTU Paiton.

Setelah puas mengelilingi Pantai Tampora yang luasnya memang nggak seberapa ini, kami melanjutkan perjalanan ke Utama Raya. Ini adalah lokasi SPBU + penginapan + restoran + kamar mandi. Dulu, waktu mantan presiden Pak SBY melakukan perjalanan ke Bali, beliau dan rombongannya singgah di tempat ini untuk menginap. Lumayan, kami mengisi perut dengan ‘jajan’. Badan saya udah agak adem panas mengingat tadi kehujanan dan pakaian kering lagi di badan. Udah kayak di-laundry aja…

Setelah puas duduk dan mengisi perut, kami beranjak pulang. Nah, di sini kata ‘ekstrem’ yang saya gunakan di judul postingan ini mengambil peran. Di perjalanan pulang, niatnya kami mengikuti mobil untuk mendahului kendaraan di depannya. Tapi naas, ketika mobil mepet ke kiri jalan, kami ‘disuguhi’ motor yang akan belok ke kanan. Tanpa bisa dihindari, akhirnya kami bertabrakan. Dua bapak yang tidak memakai helm itu pun tergores tangan dan kakinya oleh kayu yang mereka bawa. Saking kagetnya, saya sampai tidak bisa berkata apa-apa untuk membantu teman saya. Dia mengucapkan maaf berulang kali dan mengajak bicara bapak-bapak tersebut supaya tidak tersulut emosi. Syukurnya, selain luka gores, tidak ada kerugian yang berarti.

Kami melanjutkan perjalanan pulang. Tidak sampai di situ saja ke’ekstrem’an yang kami alami. Di salah satu jalan tanjakan gunung Arak-arak, ban motor belakang robek! What a day! Kami berbalik arah untuk mengganti ban motor dan entah perasaan saya jadinya absurd. Salah apa coba?

Untuk kalian yang akan liburan, sebaiknya hati-hati dan prepare segalanya ya. Haha…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s