Story, Travelling

Berlibur ke Bromo

Mengagendakan liburan saat kerja memang nggak semudah dulu, semasa sekolah atau kuliah. Semasa sekolah ataupun kuliah hal tersulit saat merencanakan liburan adalah menentukan waktu dan biaya, sekarang kesulitannya bertambah satu lagi: menyamakan jadwal. Maklum, pekerjaan dengan tiga shift memang sulit untuk disatukan jadwalnya, apalagi berbeda institusi.

Alhamdulillah, kami bersepuluh yang datang dari background yang berbeda-beda, yang sama-sama jenuh dengan rutinitas sehari-hari bisa bertemu di tanggal 18 November untuk pergi menyambangi ‘mbah’ Bromo. Selain teman kuliah, ada teman kerja, teman kos, dan teman SMA (yang sekarang kerja di Kalimantan) berangkat dengan satu mobil tanpa kerempongan yang berarti (ini jiwa adventure banget).

Oke, ini bukan perjalanan pertama saya ke Bromo. Pertama kali ke Bromo saat dulu jaman kuliah pas KKN. Tapi, karena rumah yang kami sewa dekat dengan Bromo, jadi kami bisa dengan santai berangkat kapanpun bahkan hanya dengan sepeda motor. Tapi sekarang berbeda, kami bangun jam sebelum jam 3 dini hari berangkat dengan mobil jip khusus yang disewa. Bayangkan saja, jam segitu kendaraan yang berjumlah kurang lebih 500-an itu sudah mengantri panjang untuk menuju puncak (demi pemandangan) dan akhirnya mobil kami pun tidak bisa sampai ke puncak tertinggi. Nggak apa-apa, yang penting bisa menikmati ini nih…

38

Selamat pagi!

Kesalahan saya sih… seharusnya pake jaket yang lebih tebel dan gak cuma pake kaos tipis… sumpah dinginnya pengen bikin turun. Saya dan satu temen saya udah gak fokus aja sama foto-foto dan pemandangan. Cuma bisa duduk menghangatkan diri sementara temen-temen lain ketawa foto-foto. Ah, sial…

Abis dari puncak situ, kami turun dan naik ke kawah. Jadi gunung Bromo yang selama ini dianggap gunung yang ini:

39.jpg

itu salah, sebenarnya, gunung Bromo itu kawah yang sebelah sini:

42

Nah… saya dapet tantangan dari temen nih: menghitung anak tangga menuju kawah. Katanya, banyak orang yang menghitung dengan jumlah berbeda. Saya sempat menghitung, ah lupa tuh kan berapa… 169 kalo nggak salah (lupa banget). Nggak semua temen yang naik ke kawah, cuma ada 4 orang. Dan satu orang di antara kami tadinya diejekin karena badannya bongsor (wkwkwk…) nggak mungkin sampe atas, kata mereka. Faktanya? Dia justru yang naik sedangkan yang lain cuma tinggal di deket mobil. Hehew… dan ini naik ke kawah yang ke-2 buat saya.

70

Turun dari kawah, lanjut ke bukit teletubbies…

120

Bukit Teletubbies ini adalah kumpulan bukit-bukit yang dikelilingi padang rumput. Kebetulan kami datang di musim kemarau, jadi warna rumputnya kecoklatan dan kering, nah kalau sudah panas begini rawan terjadi kebakaran spontan karena gesekan. Kalau misalkan datangnya pas musim penghujan, warna rumputnya hijau banget dan bagus jadinya, beneran seperti bukit teletubbies.

Setelah itu, sebenarnya ada satu lokasi ‘pasir berbisik’. Pernah denger filmnya? Karena kami sudah lumayan lelah, jadi kami skip lokasi ini. Sebenarnya lokasinya hanya hamparan pasir yang cukup luas. Yang jadi pembeda, terkadang kita bisa mendengar suara pasir seperti seruling atau bisikan angin. Makanya, disebut ‘pasir berbisik’. Saat kami lewat kebetulan ada beberapa angin yang sedang menari-nari. Hehe… unik banget.

So, ada yang tertarik ke Bromo? Saya sudah dua kali! ^^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s