Dendam Positif

Dendam positif punya sasaran yang konstruktif (membangun), bukan destruktif (merusak)

…pentingnya hijrah untuk memutus mata rantai jaringan di otak yang seringkali menghambat perubahan. Di momen yang sangat khusus, terkadang nekat dibutuhkan untuk memotong mata rantai. Tentu saja tujuannya bukan untuk memutus silaturrahim, tapi untuk memberi ruang bagi munculnya pemahaman diri dan kesadaran diri akan pentingnya perubahan.

Dalam buku Ihya Uluum Ad-din, Al-Ghazali menulis sejumlah pintu masuknya setan ke dalam diri manusia, yaitu:

  • Marah yang kebablasan, reaksi yang di luar kontrol
  • Syahwat biologis yang tak terkendali
  • Ambisi yang berlebihan sehingga menghalalkan segala cara
  • Mengagungkan budaya hidup hedonis (menuhankan kemewahan materi)
  • Tergesa-gesa atau suka menempuh cara yang instan untuk mencapai tujuan
  • Gila apresiasi dari manusia
  • Berburuk sangka
  • Mengenyangkan perut sampai membuat kita malas berbuat baik
  • Punya pandangan hidup yang cenderung kompromi pada hal-hal negatif

Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menuliskannya di pasir supaya mudah terhapus dan ingatan kita kembali jernih, seperti terhapusnya tulisan di atas pasir. Tetapi ketika seseorang melakukan kebaikan buat kita, kita harus mengukirnya di atas batu agar kita bisa mengingatnya sepanjang masa.

Seperti kata Eleanor Roosevelt, ‘Justice cannot be for one side alone, but must be for both.’

Kalau melihat kesimpulan Daniel Golemen, promotor kecerdasan emosional (Emotional Quotient = EQ), seperti yang ia tulis dalam buku Kecerdasan Emosional (Adzakaa’ Al-thify), yang ia sebut orang dengan EQ tinggi bukanlah orang yang semata cepat menyadari emosinya, tetapi orang yang bisa mengontrol emosinya dan bisa menggunakan emosinya untuk memotivasi diri, menjaga keseimbangan, mencapai tujuan/menjaga hubungan.

Paul Scheele & Dr. Susan Lark, keduanya adalah konsultan pengembangan diri, pernah merilis temuannya & dikutip oleh sejumlah lembaga konsultan pengembangan diri. Temuannya antara lain menyebutkan bahwa salah satu ciri orang yang gagal di karier adalah ketika ia terus ingin pindah (tidak bahagia dengan pekerjaannya saat ini), tapi tidak juga pindah.

HOBBO adalah Hang Out But Building Option. Maksudnya, kita tetap menjalani profesi/pekerjaan yang ada, namun berusaha membangun opsi yang lebih banyak untuk mendinamiskan batin.

Sedangkan SOBBO adalah Stay Out But Better Off. Ini kita hijrah total. Kita hengkang ketempat lain, kita pindah pekerjaan/ganti profesi.

Thomas Alva Edison menyimpulkan bahwa kejeniusan seseorang diciptakan dari 1% inspirasi & 90% kemauan.

(Anwar, Ubaydillah. 2015. Dendam Positif: Mengubah Kebencian Menjadi Kemenangan. Sinergi Aksara. Jakarta.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s