Bayangan

(diikutkan dalam Guerilla Quiz 3)

Aku mengikuti sebuah acara diklat OSIS dan harus menginap di sekolah selama 3 hari 2 malam. Tiba di hari ketiga, kata beberapa teman, ini adalah hari yang paling menentukan karena hari ketiga selalu menjadi hari tes paling mendebarkan dalam setiap diklat OSIS.

Malam pun semakin larut dan semua peserta dikumpulkan di lapangan basket. Kami dipanggil satu persatu untuk mengelilingi sekolah, sendiri. Bagiku, dipanggil lebih awal ataupun belakangan sama saja, hari akan selalu gelap di malam hari dan kakak seniorku tidak pandang bulu, laki-laki atau perempuan akan mendapat perlakuan yang sama.

Arlojiku hampir menunjukkan angka 12.

“Kinanthi Rosyana,” namaku disebut. Akupun berdiri dan berjalan menuju pintu gerbang. Kakak senior hanya membekaliku sebatang lilin dan sebatang korek cadangan yang kuterka akan segera habis sebelum aku melewati seluruh rute. Kakak senior membuka pintu gerbang dan mempersilahkanku masuk. Langkah pertama dari pintu gerbang, dengan cahaya lilin di tanganku, aku bahkan tidak bisa melihat apapun. Aku harus melangkahkan kakiku pelan karena selain bulu kudukku berdiri, aku harus menjaga lilin tetap menyala.

Entah bagaimana perasaanku, kuharap ini hanya imajinasi saja ketika kudengar suara hewan-hewan aneh dan gemerisik angin yang menggerakkan daun-daun, ranting, bahkan pintu dan jendela kelas. Aku tidak pernah berpikir untuk melihat keadaan sekitar atau sumber suara.

“Tunggu,” ucap sebuah suara. Aku yakin itu suara seniorku. “Ada temanmu sedang berhenti di pos, kau tidak boleh terlalu dekat.” Aku menuruti perintahnya dan mulai bernapas lega mengetahui ada seorang senior di dekatku, entah di mana tepatnya ia berada. Saat itulah aku mulai lengah, aku mengangkat wajahku dan memperhatikan sekeliling. Pandanganku terpaku pada sebuah bayangan yang terpantul dari kaca jendela ruang perpustakaan di depanku.

Di sana berdiri seorang perempuan berpakaian putih yang balik menatapku. Aku baru sadar kelambu jendela itu

hanya tertutup separuh. Gadis itu tetap menatap mataku dengan tajam. Seharusnya, aku tidak sembarangan menebar pandangan malam itu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s