‘Naega Wae Ironeunji?’ (Mengapa Aku Seperti Ini?)

cats

Dimuat di ASIAN BEAT Vol. 6 Tahun I 2013

  1. Title     : Naega Wae Ironeunji?[1]
  2. Author: Kinanthi Rosyana
  3. Genre  : Mistery                                  Rating: G/PG-13/Teens
  4. Cast     : f(x) Amber, Super Junior Donghae, SNSD Yuri

Seorang mahasiswi tomboy terburu-buru masuk ke toilet. Ia bukannya merasa ingin buang hajat di sana, tapi dia tahu kalau perasaan seperti ini datang, itu artinya ada sesuatu yang akan mendekatinya. Untunglah toilet yang ia datangi sedang tidak ada orang. Ia pun meletakkan tas di gantungan dan menghadap cermin. Perasaan seperti ini biasanya hanya ia rasakan saat sedang sendiri di rumah. Awalnya ia takut dan memilih untuk keluar rumah mencari tempat terbuka sekedar mencari kenyamanan. Tapi sudah seminggu ini dia merasa terganggu dengan perasaan itu dan sekarang ia sudah merasa kebal. Biasanya, ia akan merasa merinding di sekitar tengkuknya kemudian merasa ada hawa dingin di sekitarnya. Kalau sudah seperti itu, ia tinggal mencari cermin untuk melihat sosok itu. Kali ini ia ingin sekali marah karena sosok itu sudah berani mengganggunya di kampus.

“Keluarlah! Aku tahu kau sedang menguntitku. Sekarang pun seharusnya aku bisa melihatmu melalui cermin seperti kemarin di rumah”, ucapnya kemudian sambil menahan emosi. Kemudian secara perlahan di cermin muncul kabut putih dan sosok samar-samar seorang wanita cantik. Kalau dilihat dari paras wajahnya, mungkin sosok itu hanya selisih beberapa tahun dengannya. Sosok itu masih muda, masih cantik. Melihat sosok itu, seketika amarahnya pun sirna. “Aku tidak tahu apakah kita bisa berkomunikasi atau tidak, aku juga belum pernah mencobanya, tapi aku sangat ingin tahu kenapa kau mengikutiku? Aku masih bisa menolerirmu ketika kau menggangguku di rumah, tapi kenapa kau juga mengikutiku sampai ke kampus? Siapa kau?”

Sosok itu tersenyum dengan manis. Bukan senyum sinis yang dibayangkan oleh Amber, si mahasiswi tomboy itu. “Akhirnya…”, suaranya lembut. Rasanya sosok ini tidak jahat, pikir Amber. “Akhirnya kau mau juga berkomunikasi denganku. Akhirnya kau sudah tidak punya rasa takut padaku, Amber”.

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Itu tidak penting. Aku senang akhirnya kau melenyapkan rasa takutmu, dengan begitu kita bisa berkomunikasi. Hanya itu satu-satunya syarat supaya aku bisa berbicara denganmu. Perkenalkan, namaku Yuri”.

Yuri? Rasanya aku pernah mendengar nama itu, pikir Amber. “Yuri…kau ini…sebenarnya apa? Dan kenapa selalu menggangguku?”

“Aku sudah lama ingin menceritakan ini padamu. Ceritaku panjang, apa kau punya waktu sekarang?”

Amber melirik arloji di tangannya, “Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu”.

“Amber…semua yang terjadi padaku begitu tiba-tiba. Aku masih ingat, seminggu yang lalu dengan tiba-tiba aku muncul di rumahmu. Aku pikir aku masih hidup dan tersesat di rumah orang, tapi kemudian aku ingat bahwa jasadku sudah dikubur beberapa hari sebelum aku muncul di rumahmu. Aku pikir aku sedang berada di surga dan mencoba untuk berkomunikasi dengan orang-orang rumahmu tapi tidak ada satupun yang meresponku. Kemudian aku menyadari bahwa badanku bisa menembus benda-benda di rumahmu dan bayanganku tidak muncul di kaca sedangkan kalian melakukan aktivitas manusia biasa. Barulah aku menyadari kalau aku masih di dunia manusia. Kemudian aku mendapati seseorang yang kukenal di rumahmu. Dia kakakmu, Donghae. Dia adalah sahabatku sejak TK sampai kami duduk di universitas yang sama sekarang. Aku mencoba untuk mendekatinya dan ingin meminta tolong padanya. Aku ingin tahu kenapa aku masih terjebak di dunia ini. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa mendekatinya sejauh satu meter, lebih dari itu aku terpental. Semacam ada tembok yang memisahkan kami. Aku merasakan sesuatu yang salah di antara aku dan Donghae. Kemudian aku mulai mendekatimu”.

“Jadi kau sahabat kakakku?”

“Ya. Kami masuk di sekolah yang sama sejak TK”.

“Aneh, lalu kenapa kau malah tidak bisa berkomunikasi dengannya? Lalu kenapa kau mendekatiku, bukan ayah atau ibuku?”

“Aku memperhatikan kalian dari hari ke hari, dan orang yang paling dekat dengan Donghae adalah adiknya sendiri, kau Amber. Untuk itu aku memutuskan untuk mendekatimu”.

“Hm…lalu?”

“Kemudian aku mulai menunjukkan diriku sedikit demi sedikit. Aku menggunakan banyak energi supaya kau bisa merasakan kehadiranku. Awalnya mungkin kau hanya merasa merinding dan udara tiba-tiba menjadi dingin, dan sekarang kau bisa melihatku melalui cermin. Kau hanya perlu merasa tenang untuk bisa melihatku, kalau adrenalinmu tinggi, kau tidak akan bisa berkomunikasi denganku seperti hari-hari kemarin”.

“Apa yang kau inginkan, Yuri eonni[2]?”, Yuri merasa tersanjung Amber memanggilnya eonni.

“Sejujurnya, aku hanya ingin tahu kenapa aku masih di dunia manusia. Begitu banyak teka-teki yang menggangguku saat ini, Amber. Aku tidak ingat bagaimana aku mati dan bagaimana aku bisa muncul di rumahmu. Aku sangat membutuhkan bantuan”.

“Aku baru tahu kalau hantu pun ternyata bisa mengalami amnesia…dan bahkan hantu pun membutuhkan bantuan manusia. Tapi…bagaimana caranya aku bisa membantumu?”

“Aku ingin sekali berkomunikasi dengan Donghae, tapi kau sudah tahu, aku tidak bisa mendekatinya. Aku harap kau mau membantuku menjadi perantara. Aku ingin kau menggali informasi tentang diriku darinya”.

“Baiklah…tapi bagaimana aku harus memulainya…”, kemudian terdengar pintu terbuka.

“Amber? Sedang apa kau di sini? Bukankah kelas sudah dimulai?”, tanya seorang teman sekelas Amber yang baru masuk ke toilet.

“Kau sendiri kenapa tidak masuk?”

“Aku mau buang air kecil. Kau mau membolos ya?”, ucap teman Amber sembari masuk ke kamar kecil.

“Tidak…”, lalu ia beralih lagi ke cermin. “Dia tidak melihatmu?”

“Tidak. Aku hanya memperlihatkan diriku padamu. Baiklah, kau harus masuk ke kelas. Kita bertemu lagi di rumahmu”. Yuri pun menghilang dari cermin. Amber mengambil tasnya dan keluar dari toilet. Dia berhasil masuk ke dalam kelas walaupun terlambat. Namun di dalam kelas ia tidak bisa fokus dengan pelajaran. Tentu saja pikirannya melayang ke kejadian di toilet tadi. Siapa sangka ia bisa berkomunikasi dengan arwah gentayangan? Mungkin inilah yang disebut orang sebagai arwah penasaran. Arwah yang masih terperangkap di dunia manusia, bahkan lupa bagaimana caranya dia meninggal.

Dalam hati, dia menyayangkan kematian Yuri. Amber merasa usia Yuri masih terlalu muda. Ia pun cantik. Yuri…sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Ada apa dengan Yuri dan kakaknya? Bagaimana bisa Yuri tersesat di rumahnya dan hanya mengingat Donghae, kakaknya, namun tidak bisa berkomunikasi dengannya? Ah, pikirannya terlalu rumit. Ia ingin sekali cepat pulang dan menemui kakaknya. Amber melirik lagi arlojinya. Masih lima jam lagi dia bisa bertemu dengan Donghae di rumah. Kakaknya itu juga pasti sedang kuliah.

Tunggu! Bagaimana jika…penyebab kematian Yuri adalah Donghae? Akankah Yuri membalas dendam kepada kakaknya? Haruskah ia membantu Yuri? Segala pikiran berkecamuk di dalam kepalanya.

Eomma[3]…aku pulang…”, ucap Amber ketika memasuki rumah.

“Oh, kau sudah pulang? Cepat makan, kau pasti lapar…”, jawab sang ibu yang sedang menyibukkan diri di dapur. Amber mendekati ibunya. Tidak biasanya pada jam seperti ini ibunya sibuk di dapur. Ini bahkan belum jam untuk menyiapkan makan malam.

“Apa yang sedang eomma lakukan?”

“Oh, eomma sedang membuat minuman jahe”.

“Hmm?”, tanya Amber heran.

Oppa[4]mu sedang demam. Ia tidak masuk kuliah hari ini. Sejak tadi pagi ia tidak turun dari ranjang”.

“Ha? Yang benar eomma?”, tanya Amber heran. Seingatnya, kemarin terakhir kali ia bertemu dengan Donghae, kakaknya itu terlihat baik-baik saja. Ibunya mengangguk menjawab pertanyaan Amber. “Apa…demamnya tinggi?”

“Terakhir kali eomma memeriksa, termometer menunjukkan angka tiga puluh delapan”. Amber terhenyak mendengarkan angka yang disebutkan eommanya. “Eomma tidak berani meninggalkan oppamu untuk bekerja, oleh karena itu eomma ijin hari ini”.

“Lalu eomma sudah memanggil dokter?”

“Sudah. Dokter berkata kalau ini hanya demam biasa…walaupun begitu, eomma khawatir karena panasnya belum juga turun”. Amber menatap gelas yang diaduk ibunya.

Eomma…bolehkan aku yang mengantar itu?”, tunjuknya pada gelas di tangan eommanya.

“Baik, Amber, bujuk dia supaya makan ya? Dia hanya makan dua sendok sejak tadi…”

Ne eomma”, Amber meletakkan tasnya di kursi dapur dan membawa gelas berisi air jahe ke kamar kakaknya di lantai dua. Seperti biasa, kamar kakaknya tertutup rapat. Kakaknya sangat menjaga privasi di kamarnya. Bagi kakaknya, kamarnya adalah dunianya sendiri. Kali ini pun, sebelum memasuki dunia kakaknya itu, Amber mengetuk pintu kamar Donghae. Karena tidak ada jawaban, Amber membuka kenop pintu dan melongok ke dalam. Ia memasuki kamar Donghae dan memperhatikan sekeliling.

Kamar kakaknya ini terlalu rapi untuk ukuran kamar seorang laki-laki. Kakaknya sangat detail untuk urusan kerapian. Amber menemukan Donghae sedang tergeletak lemah di atas ranjang. Ia tahu, kakaknya itu sedang tidak tidur. Donghae memijit-mijit keningnya sambil menutup mata. Ia banyak berkeringat. Amber meletakkan gelasnya di atas meja dekat ranjang kakaknya. Suaranya yang gemerincing membuat Donghae membuka mata dan melihat ke arahnya.

“Oh, kau Amber?”

“Emm…bagaimana keadaanmu Oppa?”

“Buruk…”, Donghae bangkit dan duduk bersandar.

“Bagaimana kau bisa sakit? Apa yang kau lakukan? Apa kau salah makan atau..?”

“Aku kehujanan tadi malam…”. Amber ingat semalam kakaknya pulang larut malam dengan keadaan basah kuyup. Sesampainya di rumah, Donghae sudah menggigil.

Oppa, sebenarnya kau dari mana tadi malam? Kau kan naik mobil, kenapa bisa basah kuyup?”

“Dari tempat temanku”, jawab Donghae singkat. Tampaknya kakaknya itu sedang malas bicara.

Eomma membuatkanmu air jahe. Kuletakkan di atas meja…”, ucapnya. Ia memperhatikan meja kakaknya. Amber menemukan potret di atas meja kakaknya dan terpaku. Ia berjalan mendekati potret itu untuk memperhatikannya lebih jeli. Potret itu sudah lama berada di situ. Kenapa ia baru sadar?

“Ada apa?”, tanya Donghae memperhatikan gerak-gerik Amber yang aneh.

Amber meraih potret itu dan semakin membuat penasaran Donghae. Amber memperhatikan baik-baik potret itu. Amber bisa melihat kakaknya dengan rambut masih pendek dan hitam, tanpa warna pirang seperti sekarang, mengenakan seragam SMP. Dan ia menemukan seseorang yang ia kenal di antara teman-teman Donghae yang lain dengan tulisan YURI. Ya, tentu saja ia pernah melihat Yuri…potret ini selalu ia perhatikan tiap kali ia memasuki kamar kakaknya. Bagaimana ia bisa lupa?

Ya[5]Amber-ah…ada apa? Kenapa tiba-tiba kau diam?”, tegur Donghae lagi.

Aniyo[6], Oppa…aku ingin bertanya sesuatu tapi sepertinya kau sedang ingin beristirahat…mungkin lain kali…”

Gwaenchana[7], apa yang ingin kau tahu?”, Amber masih diam karena ragu. Ia tahu, Yuri punya sesuatu yang juga membuat penasaran Amber, tapi keadaan kakaknya sedang tidak fit. “Amber-ah? Ada apa? Katakanlah, aku juga sedang bosan sendirian di kamar dari tadi. Mungkin kau bisa menemaniku?”

“Oh, eh…baiklah…”, Amber duduk di ranjang kakaknya sambil tetap menggenggam potret SMP kakaknya bersama teman-temannya. Di foto itu, hanya Yuri satu-satunya perempuan. Donghae meraih air jahe dan meminumnya sedikit. “Oppa…siapa ini? Yuri? Pacarmukah? Dia satu-satunya perempuan di foto ini…”

Donghae yang masih menyisip air jahe sedikit tersedak mendengar pertanyaan Amber. “Huh? Yuri? Dia…”

“Benar pacarmu? Kau tadi sudah berjanji mau menjawab pertanyaanku Oppa…”, rengek Amber.

“Baiklah…”, ucap Donghae sambil melirik ke arah pintu kamarnya. “Mungkin sekarang saatnya aku menceritakan kepada seseorang. Yuri…dia sahabatku sejak kecil, sejak aku duduk di bangku TK. Rumah kita memang tidak berdekatan, tapi dia mendaftar di sekolah yang sama denganku sejak TK. Akhirnya, setiap kali aku masuk di sekolah yang baru hanya dialah yang kupercaya. Sampai akhirnya di SMP, aku punya geng dan hanya dialah teman perempuan yang menjadi anggota gengku. Aku ingat sekali ternyata gengku itu begitu popular di sekolah dan banyak teman perempuanku yang iri pada Yuri. Kami berdua bahkan punya julukan YulHae…Yuri dan Donghae, karena kami selalu bersama”, Donghae tersenyum.

“Ya, aku juga iri padanya. Dia cantik dan dikelilingi oleh pria-pria tampan…”, ucap Amber sambil mengamati potret.

“Begitu? Yah…mungkin…”

“Lalu bagaimana kelanjutannya?”

Donghae menghela napas, “Kemudian salah satu temanku yang rumahnya berdekatan dengan Yuri tiba-tiba bercerita banyak kepadaku. Yuri banyak mempercayakan ceritanya pada orang ini, dia bilang kalau selama ini aku satu sekolah dengan Yuri itu bukan suatu kebetulan”, Amber mendengarkan dengan seksama, “Yuri memang sengaja mencari tahu di mana aku akan bersekolah. Karena itu, dia bekerja keras supaya dia bisa memasuki sekolah yang sama denganku. Aku kemudian bertanya padanya, apa alasan Yuri melakukan hal itu. Dia pun menatapku sebagai orang bodoh. Dia bilang, bagaimana bisa aku tidak tahu semua perhatian yang diberikan Yuri. Dia juga bilang saat itu kalau Yuri sudah menyukaiku sejak TK. Kemudian aku bertanya lagi apa yang membuat Yuri menyukaiku. Katanya, dulu aku pernah menolong Yuri supaya tidak diganggu oleh anak laki-laki lain. Hanya dari kejadian itu, Yuri mengumpulkan perhatiannya padaku. Dia tidak punya saudara dan saat itu dia merasa punya pahlawan yang melindunginya”. Amber kagum dengan cerita kakaknya. Ia tidak bisa menyela kakaknya satu kata pun. Ia ingin tahu cerita ini sampai akhir. “Sejak saat itu, aku pun banyak memperhatikannya”, pipi kakaknya bersemu merah tapi Amber tidak mau memberitahu kakaknya tentang hal itu. Dia ingin kakaknya terus bercerita, “Aku selalu memandang Yuri sambil berpikir, bagaimana bisa gadis secantik dia menyukaiku? Apa yang membuatnya bisa bertahan lama di sampingku, menjadi sahabat dekatku, memberi bantuan apapun yang aku minta tapi dia tidak pernah berbicara sekalipun tentang perasaannya itu. Menurutku dia juga bodoh, bagaimana aku tahu tentang perasaannya padaku kalau dia sendiri pun tidak memberitahu? Lama-lama aku merasa kagum padanya dan menyukainya juga…”, Donghae berhenti.

“Lalu lalu? Kalian berpacaran?”

Donghae menarik napas lagi, “Itu memang keinginanku. Sudah lama aku berpikir dan mengandai-andai, bagaimana kalau aku menjadi pacar Yuri? Suatu hari, aku sangat ingin memberitahunya tentang perasaanku. Aku tidak tahan lagi melihat dia selalu membantu dan memperhatikanku tapi ia menyembunyikan perasaannya. Ini sudah berlangsung lama sampai kami semua kuliah. Aku bertanya pada teman Yuri yang waktu itu, apakah Yuri masih menyimpan perasaannya padaku dan ia berkata bahwa perasaan Yuri masih belum berubah sedikitpun. Kemudian suatu hari, aku lewat di toko bunga. Aku ingin sekali membeli setangkai mawar untuknya, tapi mawar itu tidak pernah sampai ke tangan Yuri…”

“Hm? Apa yang terjadi…”

Donghae terdiam sesaat, “Aku masih ingat hari itu. Harapanku yang menyala berubah menjadi penyesalan. Aku orang yang tidak bisa mengorbankan diriku sedikit saja. Aku selalu banyak memerintah. Hari itu, setelah aku membeli mawar, aku menemui Yuri. Dia ada di seberang jalan. Aku menyuruhnya untuk datang kepadaku. Yang aku pikirkan hanyalah ingin cepat-cepat memberikan mawar itu padanya dan menyatakan perasaanku. Kusembunyikan mawar itu dan menyuruh Yuri menyeberang jalan. Padahal bisa saja aku yang mendatanginya…”, Donghae menunduk mengusap air matanya.

Oppa…kalau kau tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa…”, ucap Amber merasa bersalah. “Aku minta maaf memaksamu…”

Aniyo…gwaenchana…aku sudah lama ingin membagi cerita ini. Tidak ada yang tahu bahwa aku melihat dengan mataku sendiri kejadian itu. Yuri menuruti permintaanku untuk menyeberangi jalan itu. Dan aku sudah merasa sangat bahagia. Mungkin Yuri terlalu heran melihatku yang tersenyum-senyum sendirian, jadinya dia menanyaiku berulang-ulang sambil menyeberangi jalan ‘Ada apa?’ dan aku hanya bisa tersenyum sambil menyembunyikan mawar itu di belakang punggungku menunggu dia sampai di depanku. Tapi tiba-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi…”, Donghae terdiam lagi. Air matanya semakin deras mengalir.

Oppa…”, Donghae tidak perlu meneruskan ceritanya. Amber sudah tahu.

“Nyawanya tidak terselamatkan, kata dokter…dia mengalami cedera otak kecil…”

Oppa…mianhae[8]…”, sesal Amber.

“Kau sudah tahu semuanya kan sekarang?”, Amber mengangguk. Keduanya terdiam dan hening. “Semalam saat aku kehujanan, aku baru dari tempat Yuri”, Amber menoleh lagi. Kakaknya pasti sangat mencintai Yuri. Malam dan hujan tidak mampu menghalanginya. “Aku bicara padanya, aku masih belum bisa melupakannya. Aku masih merindukannya. Aku…aku berharap dia masih berada di sampingku”. Amber tersadar. Mungkin itulah yang menyebabkan Yuri masih tersesat di dunia manusia dan muncul di rumahnya. Ada sesuatu yang menahan arwah Yuri untuk tidak pergi ke alamnya. Dan itu kakaknya. Kakaknya masih belum bisa rela. “Amber…”, ucap sebuah suara yang bukan milik kakaknya. Ia melihat cermin. Yuri. Tampaknya, tanpa sepengetahuannya Yuri sudah hadir di sana dari tadi. Melihat sosok itu, Amber ingin sekali menangis. “Amber, terima kasih…aku sekarang sudah ingat siapa diriku, bagaimana aku mati dan aku sudah bisa ingat perasaanku kepada Donghae…aku ingin kau memberitahunya, aku tidak akan lupa akan persahabatan dan cintanya kepadaku tapi aku mohon relakan aku pergi…”

Amber menggenggam tangan kakaknya, dia mengatakan persis seperti apa yang dikatakan Yuri. Donghae pun berucap, “Yuri…aku akan selalu meningatmu…tenanglah di sana…aku akan menjaga diriku sendiri…aku akan baik-baik saja…”

Amber memperhatikan sosok Yuri di cermin sedikit demi sedikit menghilang dan ia merasakan energi Yuri mulai menghilang. Yuri tersenyum sambil menangis, “Terima kasih Amber…terima kasih Donghae…”

“Yuri eonnie…terima kasih sudah mencintai Donghae oppa…”, ucap Amber sebelum sosok Yuri benar-benar menghilang.

Donghae mengelus rambut adiknya, “Terima kasih, Amber-ah…”, dan Amber menitikkan air mata.

[1] Kenapa aku seperti ini?

[2] Kakak perempuan

[3] ibu

[4] Kakak laki-laki

[5] hei

[6] tidak

[7] Tidak apa-apa

[8] maaf

Advertisements

2 thoughts on “‘Naega Wae Ironeunji?’ (Mengapa Aku Seperti Ini?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s