Nursing Story: Mulutmu Harimaumu

Kali ini saya ingin menulis tentang senior dan junior, khususnya di rumah sakit.

Beberapa minggu lalu menjelang PBP di RS, saya selalu bersemangat untuk mendapatkan kompetensi baru. Sebenarnya dari PBP I semester lalu, secara tidak sadar masing-masing mahasiswa pasti ketar-ketir khususnya soal menghadapi petugas kesehatan yang galak. Yah, siapa sih yang nggak kuatir soal ini: mahasiswa baru yang masih belajar dihadapkan pada situasi yang dituntut untuk serba cepat. Apalagi SELALU saja ada isu yang sebenarnya tidak diinginkan namun menjadi suatu kenyataan kalau: mahasiswa D3 SELALU dianggap lebih terampil dibandingkan mahasiswa S1. Akhirnya kami SELALU memiliki benteng yang tak kasat mata untuk memaklumi dengan alasan bahwa rekan D3 SELALU terjun ke lapangan sedangkan kami harus belajar teori. Dan, saya benci untuk mengsayai bahwa dalam ranah keperawatan di jaman ini pun, status pendidikan masih terkotak-kotak.

Nah, entah kenapa semester ini setiap pulang dari rumah sakit perasaan tidak nyaman SELALU lebih besar dan kuat. Itu karena kotak-kotak tadi. Kotak-kotak yang menjadi pembeda, sehingga tindakan yang sedikit lebih besar dipercayakan untuk golongan tertentu, dan saya tidak pernah punya kesempatan untuk mencoba. Kotak-kotak yang membuat seolah-olah kami tidak hadir di tempat itu. Kotak-kotak yang membuat kami bingung, sebenarnya mau dibawa ke mana kompetensi ini…

Banyak hal sebenarnya yang membuat saya jengkel. Satu hal yang membuat hati lebih jengkel adalah, cara bicara yang kasar. Tidak satu-dua kali saya mengalami hal ini, namun pembicaraan yang paling terekam di pikiran saya adalah ketika membantu seorang rekan sesama mahasiswa (beda universitas) merawat luka seorang pasien. Dia mendorong trolley peralatan rawat luka sedangkan saya di belakangnya. Ia tampak kesulitan, sedang saya tidak tahu mau ke mana trolley itu didorong.

Dengan jengkel dia menyuruh saya, “Mbak, tolong ya didorong biar saya yang narik, gitu!”. Dengan sopan walau hati saya sudah tertusuk saya balik bertanya, “Memangnya mau dibawa ke mana?”, setelah dia memberitahu saya pun membantunya.

Tidak sampai di situ saja, saat mahasiswi tersebut menggunting kasa dan kesulitan, saya menganjurkan, “Disobek saja mbak, kasanya” (Saya pernah melihat dosen saya menyobek kasa tanpa gunting, dan sungguh, hasilnya masih lebih rapi dibanding guntingan mahasiswi ini, kata dosen saya, ‘Make your hand as a tool’, ketika berada di lapangan, sungguh, seni lebih diperlukan daripada teori).

Dan apa kata mahasiswi tersebut menanggapi saran saya?

“Apa? Disobek? Nanti kalau nggak rapi gimana? Kalau serabutnya ke luka pasien gimana?”

Sungguh, saya tidak memaksa suatu saran, dia boleh menerima atau menolak, tapi saya lebih-sangat-menerima-sekali kalau dia menyampaikannya dengan bahasa yang lebih halus. Sangat. Ketika ini terjadi, memang rasanya ingin menumpahkan segala kekesalan. Dada saya terasa sesak sekali diperlsayakan seperti itu. Bagaimana tidak, petugas ruangan saja masih sopan kepada mahasiswa, tapi mahasiswi yang satu ini sungguh…

Keterlaluan.

Oleh karena itu sahabat sekalian, saya menghimbau kepada Anda semua, marilah kita lebih memperhatikan nada suara dan gaya bahasa kita. Ketika Anda tidak satu pikiran dengan lawan bicara, gunakanlah nada yang halus. Anda mungkin tidak ingat telah mengeluarkan kata-kata yang kasar, tapi siapa yang salah kalau lawan bicara Anda sakit hati dan selalu mengingat kejadian itu? Ah…mulutmu – harimaumu.

Ok…welcome new year,,.

Kali ini aku ingin menulis tentang senior dan junior, khususnya di rumah sakit.

Beberapa minggu lalu menjelang PBP di RS, aku selalu bersemangat untuk mendapatkan kompetensi baru. Sebenarnya dari PBP I semester lalu, secara tidak sadar masing-masing mahasiswa pasti ketar-ketir khususnya soal menghadapi petugas kesehatan yang galak. Yah, siapa sih yang nggak kuatir soal ini: mahasiswa baru yang masih belajar dihadapkan pada situasi yang dituntut untuk serba cepat. Apalagi SELALU saja ada isu yang sebenarnya tidak diinginkan namun menjadi suatu kenyataan kalau: mahasiswa D3 SELALU dianggap lebih terampil dibandingkan mahasiswa S1. Akhirnya kami SELALU memiliki benteng yang tak kasat mata untuk memaklumi dengan alasan bahwa rekan D3 SELALU terjun ke lapangan sedangkan kami harus belajar teori. Dan, saya benci untuk mengakui bahwa dalam ranah keperawatan di jaman ini pun, status pendidikan masih terkotak-kotak.

Nah, entah kenapa semester ini setiap pulang dari rumah sakit perasaan tidak nyaman SELALU lebih besar dan kuat. Itu karena kotak-kotak tadi. Kotak-kotak yang menjadi pembeda, sehingga tindakan yang sedikit lebih besar dipercayakan untuk golongan tertentu, dan saya tidak pernah punya kesempatan untuk mencoba. Kotak-kotak yang membuat seolah-olah kami tidak hadir di tempat itu. Kotak-kotak yang membuat kami bingung, sebenarnya mau dibawa ke mana kompetensi ini…

Banyak hal sebenarnya yang membuat saya jengkel. Satu hal yang membuat hati lebih jengkel adalah, cara bicara yang kasar. Tidak satu-dua kali saya mengalami hal ini, namun pembicaraan yang paling terekam di pikiran saya adalah ketika membantu seorang rekan sesama mahasiswa (beda universitas) merawat luka seorang pasien. Dia mendorong trolley peralatan rawat luka sedangkan saya di belakangnya. Ia tampak kesulitan, sedang saya tidak tahu mau ke mana trolley itu didorong.

Dengan jengkel dia menyuruh saya, “Mbak, tolong ya didorong biar saya yang narik, gitu!”. Dengan sopan walau hati saya sudah tertusuk saya balik bertanya, “Memangnya mau dibawa ke mana?”, setelah dia memberitahu saya pun membantunya.

Tidak sampai di situ saja, saat mahasiswi tersebut menggunting kasa dan kesulitan, saya menganjurkan, “Disobek saja mbak, kasanya” (Saya pernah melihat dosen saya menyobek kasa tanpa gunting, dan sungguh, hasilnya masih lebih rapi dibanding guntingan mahasiswi ini, kata dosen saya, ‘Make your hand as a tool’, ketika berada di lapangan, sungguh, seni lebih diperlukan daripada teori).

Dan apa kata mahasiswi tersebut menanggapi saran saya?

“Apa? Disobek? Nanti kalau nggak rapi gimana? Kalau serabutnya ke luka pasien gimana?”

Sungguh, saya tidak memaksa suatu saran, dia boleh menerima atau menolak, tapi saya lebih-sangat-menerima-sekali kalau dia menyampaikannya dengan bahasa yang lebih halus. Sangat. Ketika ini terjadi, memang rasanya ingin menumpahkan segala kekesalan. Dada saya terasa sesak sekali diperlakukan seperti itu. Bagaimana tidak, petugas ruangan saja masih sopan kepada mahasiswa, tapi mahasiswi yang satu ini sungguh…

Keterlaluan.

Oleh karena itu sahabat sekalian, saya menghimbau kepada Anda semua, marilah kita lebih memperhatikan nada suara dan gaya bahasa kita. Ketika Anda tidak satu pikiran dengan lawan bicara, gunakanlah nada yang halus. Anda mungkin tidak ingat telah mengeluarkan kata-kata yang kasar, tapi siapa yang salah kalau lawan bicara Anda sakit hati dan selalu mengingat kejadian itu? Ah…mulutmu – harimaumu.

(Rabu, 19 Januari 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s