Mona Lisa Smile

255923_detCr: www.rottentomatoes.com

Ini cerita tentang film lawas, Mona Lisa Smile. Seperti yang Anda lihat pada foto di atas, film ini dibintangi oleh Julia Roberts.

Film ini bercerita tentang kehidupan di Universitas Wellesley. Yah, satu lagi film tentang pendidikan yang menginspirasi saya. Di sini, Julia Roberts berperan sebagai Katherine Watson, seorang dosen baru di bidang sejarah seni. Dia datang dari California menuju universitas paling konservatif di Amerika. Dia datang ke sana untuk membawa perubahan. Hm, sepertinya kita dibawa masuk ke jaman Kartini. Cuma bedanya, karena settingnya di Amerika jadinya seperti Kartini modern. Nah, di awal film kita akan dibawa menuju part yang paling saya suka. Part tersebut menggambarkan sebuah penerimaan mahasiswa setelah liburan musim panas (musim gugur tahun 1953). Para pengajar berbaris di dalam sebuah gereja sedangkan mahasiswinya akan menunggu pintu dibuka di luar gereja. Terlihat mahasiswi terpintar Joan Brandwyn berlari menuju barisan terdepan. Di dalam gedung, Dekan Universitas Wellesley menunggu di depan pintu yang masih tertutup. Joan kemudian mengambil palu dan mengetukkanya ke pintu gereja empat kali. Kemudian sang dekan menjawab ketukan itu, “Who knocks at the door of learning?” (Siapa yang mengetuk pintu pengetahuan?).

Joan I am everywoman” (Aku adalah setiap wanita) sejalan dengan percakapan ini, pintu gereja perlahan dibuka.
Dekan What do you seek?” (Apa yang kau cari?)
Joan To waking my spirit through my hard work and dedicate my life to knowledge” (Untuk membangun semangatku dengan kerja keras dan mendedikasikan hidupku untuk pengetahuan)
Dekan Then you are welcome. All the women who seek and follow you can enter here. I now declare the academic year began.” (Maka kau diterima. Semua wanita yang mengikutimu dapat masuk ke mari. Aku mengumumkan bahwa tahun akademik dimulai).

Maka Joan masuk dan menyalami dekan diikuti oleh mahasiswi lain. Ah, sungguh part yang saya suka. Andai setiap universitas melakukan ini, maka kebanggaan akan menjadi almamater sungguh tiada terkira.

Kemudian Katherine si dosen baru mencari tempat penginapan. Di tempat pertama, ia dibawa ke asrama mahasiswi. Peraturan di tempat itu membuat Katherine tidak bisa menempatinya. Memang sih, menurut saya peraturannya tidak masuk akal:

  1. Tidak boleh ada lubang di dinding (itu berarti saya tidak boleh menghias kamar saya)
  2. Tidak boleh ada hewan peliharaan (tidak masalah, karena saya tidak punya hewan peliharaan)
  3. Suara bising, radio, atau kaset setelah pukul 8 untuk hari biasa dan pukul 10 untuk akhir pekan (bayangkan, untuk mendengar musik pun diatur!)
  4. Tak boleh ada piring panas (mana tahaaaan?)
  5. Tak boleh ada pengunjung pria (wajar, namanya juga asrama)

Katherine pun mencari penginapan lainnya. Kali ini dia menuju penginapan dosen yang dikelola oleh dosen yang mengajar pidato, pelatihan, dan puisi. Pantesan, setiap gerak-geriknya tertata rapi sekali. Peraturan di tempat baru ini cukup ringan: makan malam bersama namun untuk sarapan dan makan siang disiapkan sendiri-sendiri, selain itu masing-masing memiliki rak sendiri di kulkas. Setiap orang memberi label pada raknya.

Part lain yang bikin saya kagum (walaupun sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi) adalah saat pertama Katherine mengajar. Di sini ia bertemu Amanda Armstrong si perawat sebelum masuk kelas. Entah kenapa (apa karena saya kuliah di jurusan perawat?) saya suka sosok Amanda Armstrong, seorang wanita yang independen menurut saya. Ia mewanti-wanti Katherine, “Be careful. They can smell fear” (Hati-hati. Mereka bisa cium rasa takut.). Yup, suatu ungkapan yang bagus untuk menggambarkan mahasiswi Universitas Wellesley. Katherine pun masuk memberi pelajaran Sejarah Seni 100 Tahun. Ada yang mempersiapkan slide, mematikan lampu, sebelum Katherine meminta tolong. Nah, saat sang dosen mulai menerangkan pelajaran, ia dibuat mati gaya karena seluruh mahasiswinya mampu menjawab semua pertanyaan. Bahkan, saat Katherine hanya mengganti slide, para mahasiswi langsung menyebutkan nama lukisan, pelukis, tahun, dan keunikannya. Setelah ditanya siapa saja yang sudah pernah kuliah sejarah seni sebelumnya, mereka semuanya menjawab belum pernah. Tapi, ketika ditanya siapa yang sudah membaca seluruh naskahnya, semua mengacungkan tangan. Wah, dosen di sini benar-benar jadi bulan-bulanan…apalagi ditambah dengan campur tangan para alumni. Namun Katherine mampu bertahan dengan memberikan subyek keluar dari silabus dengan pertanyaan ringan seputar seni, “Is it any good?” (Apakah itu bagus?). Tak disangka, pertanyaan ringan ini menimbulkan diskusi panjang apakah seni itu bagus, buruk, siapa yang berhak menilainya, dll. Membuat ia menjadi dosen yang dikagumi.

Masalah menjadi rumit ketika terjadi konflik antara dosen dengan anak-anak alumni, khususnya Betty Warren seorang mahasiswi yang juga editor. Ia membuat seorang Amanda Armstrong keluar dari universitas karena tulisannya. Lama-lama Katherine seperti membaca sesuatu di universitas ini, mereka seperti mempersiapkan mahasiswinya untuk menikah, mengurus suami dan bayi mereka. Yup, seperti tradisi lomba menggiring ban yang dipercaya jika memenangkan lomba ini, maka sang juara akan lebih dahulu menikah, belum lagi adanya kursus pernikahan. Maka, pada suatu waktu saat Joan mendatanginya karena ingin mengetahui mengapa Katherine memberinya nilai buruk, Joan membuat Katherine harus membaca filenya. Di sana tertulis bahwa Joan menginginkan sekolah hukum. Maka, Katherine bertanya sekolah mana yang akan ia ambil. Namun Joan hanya memikirkan menikah setelah lulus. Katherine pun menerangkan bahwa ia bisa melakukan keduanya. Joan pun berkata bahwa ia ingin masuk Yale. Dengan isengnya, Katherine menyelipkan formulir Sekolah Hukum Yale ke lembar jawaban Joan saat ulangan. Keadaan menjadi lebih rumit ketika si kritikus Betty menikah. Ia menjadi lebih seenaknya untuk tidak masuk kelas, bahkan mulai melakukan hal yang sama kepada Katherine, seperti yang ia lakukan pada Amanda. Hm, apa selanjutnya yang akan terjadi pada Betty-Katherine mengingat Betty adalah anak ketua alumni Universitas Wellesley?

Ada beberapa hal yang tidak saya sukai dari film ini, yaitu kebebasan dalam bergaul dan wanita yang merokok. Sepertinya ini hal yang biasa di Amerika, tapi sangat kontras untuk kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s