Story, Write

Missing That Time

friendship_day_quotes_13

Cr: careergirlnetwork.com

Saya akan menulis tentang sekumpulan orang yang memilih untuk bersama. Memang, untuk diri saya sendiri mereka adalah sekumpulan orang yang juga tidak sempurna. Saya benar-benar bisa menemukan tempat di antara mereka. Di dalam kumpulan ini, saya benar-benar diperlakukan sebagai teman, sebagai manusia. Ketika saya bersama mereka, seakan-akan saya dibawa menyusuri tawanya, walaupun sebenarnya bukan diri saya yang mengalami kesenangan itu, tapi dalam cerita mereka seakan-akan sayalah peran utama yang mereka perbincangkan, dan itu membuat saya tertawa. Entah, perbedaan yang benar-benar mencolok di antara kami menjadi samar. Kami bisa berjalan sejajar dengan tetap memahami siapa yang berada di samping kami.


Padahal kami benar-benar tahu, masing-masing dari kami memiliki egois yang luar biasa besar.
Kami mengakuinya tanpa perlu menuliskan sebuah perjanjian.

Di lain sisi, saya pun mengalami waktu di mana saya merasa bahwa merekalah orang terjahat di dunia. Saya pun pernah merasa bahwa mereka orang yang tidak mau memahami saya.
Orang-orang ini terkadang cukup tertutup, cukup jahat untuk tidak berbagi dengan orang yang mereka anggap teman dekat.
Orang-orang ini terkadang cukup banyak alasan, cukup meragukan untuk disebut sebagai teman dekat.
Orang-orang ini terkadang terlalu banyak teman, sehingga cukup merepotkan juga untuk diajak berbicara sebagai teman dekat.
Orang-orang ini terkadang cukup pendiam sehingga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka.
Orang-orang ini terkadang terlalu memerintah, sehingga cukup lelah untuk mendengarkan mereka dan lebih memilih untuk menyerah saja.
Tetapi, orang-orang ini terkadang terlalu cepat hilang sehingga mereka cukup pantas untuk dirindukan.
Merekalah orang-orang pertama yang secara ‘lancang’ mengkritik diri saya secara ramai-ramai. Mereka yang dengan ‘lancang’ berkata apa adanya tentang diri saya. Membuat hati saya menciut, ingin marah, memberontak, tapi saya masih bisa tersenyum.

Namun, saya menjadi lega karena justru itu membuat saya mengerti bahwa saya belum benar-benar mengenali diri saya sendiri. Saya menjadi tahu siapa saya dan bagaimana saya. Itu membuat saya sadar bahwa sebenarnya:

  • Ketika saya merasa bahwa merekalah orang terjahat di dunia karena merekalah orang terdekat saya
  • Ketika saya merasa bahwa mereka orang yang tidak mau memahami saya karena saya memang benar-benar membutuhkan mereka

Bagaimanapun, soerang teman belum layak dikatakan sebagai teman ketika mereka belum mengalami konflik. Siapa bilang mereka rukun? Pertengkaran mereka jauh lebih sering dibandingkan kekompakannya. Satu orang membicarakan yang lain di belakangnya. Mereka berbicara tentang kelayakan, sifat buruk, sampai kemarahan yang jauh lebih jahat. Namun, seiring dengan waktu kami memang dipaksa untuk bersikap lebih dewasa. Kami akhirnya menemukan bahwa esensi dari hubungan ini adalah perbedaan. Kami menyebutnya keunikan. Ya, baik buruk masing-masing di antara kami memang itulah diri kami.

(Jumat, 06 Agustus 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s