Arti Tembang Jawa

Kinanthi; macapat yang menggambarkan rasa gembira, cinta, dan kebijaksanaan. Kinanthi bisa juga berarti bergandengan tangan atau nama bunga.

Kinanthi artinya pelipur lara. Obat untuk rasa sakit. Kinanthi itu juga salah satu tembang Jawa. Tembang Jawa itu banyak, sesuai dengan urut-urutan kehidupan manusia. Dari bayi sampai mati.

Tembang pertama, namanya Maskumambang. Menggambarkan jabang bayi dalam kandungan ibunya. Mas artinya belum ketahuan apakah dia akan menjadi laki-laki atau perempuan. Sedangkan kumambang artinya hidup jabang bayi itu mengambang dalam kandungan ibunya.

Tembang kedua namanya Mijil. Artinya, bayi tadi sudah lahir. Sudah duketahui laki-laki atau perempuan.

Selanjutnya, tembang Kinanthi. Asalnya dari kata kanthi atau tuntun. Artinya dituntun, supaya setiap anak manusia bisa berjalan menempuh kehidupan di alam dunia.

Tembang setelah Kinanthi adalah Sinom. Artinya kanoman. Bekal untuk para remaja supaya menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Selanjutnya adalah tembang Asmarandana. Artinya rasa cinta kepada seseorang.

Gambuh adalah terusan dari Asmarandana. Asalnya dari kata jumbuh. Artinya, kalau dua orang, laki-laki dan perempuan, sudah jumbuh, cocok, sebaiknya disatukan dalam sebuah pernikahan.

Setelah Gambuh, urutan selanjutnya adalah Dandanggula. Menggambarkan hidup seseorang yang sedang bahagia. Apa yang diinginkan bisa terlaksana. Punya keluarga, anak, dan harta yang cukup. Makanya, orang yang bombong atine, senang hatinya, dikatakan sedang ndandanggula.

Durma. Artinya weweh atau berderma. Seharusnya, ketika seseorang sudah hidup serbacukup, akan muncul dalam hatinya keinginan untuk berbagi. Keinginan untuk menolong sesamanya yang sedang mengalami kesulitan.

Setelah kita bisa bersikap durma, sebaiknya kita melakukan Pungkur. Artinya, menyingkir dari segala nafsu angkara murka. Hal yang dipikir adalah bagaimana menolong orang lain. Tidak lagi memikirkan kepentingan pribadi. Semua untuk orang lain.

Dua tembang terakhir, namanya Megatruh dan Pocung. Megatruh artinya putus nyawa. Seseorang harus rela kembali kepada Sang Pencipta, jika saatnya sudah tiba. Tembang terakhir adalah Pocung. Hidup kita akan berakhir dengan kain mori putih atau pucung kemudian dikubur.

(K., Tasaro G.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s