Menjelajahi Dieng Sehari

Big thanks to @kawanjelajahtour
Oke karena sudah diobrak-obrak tentang cerita ke Dieng kemarin, nih baca baik-baik ya…

Sebenarnya gak ngepasin, tapi tahun lalu juga solo travelling di bulan September ke Jogja, tahun ini di bulan yang sama berjodoh ke Dataran Tinggi Dieng. Bedanya, tahun ini ikut open tripnya Kawan Jelajah. Mereka sering open trip, buat yang penasaran tengok IGnya ya. Berawal ditag sama @raniramoen tentang trip ke Dieng dan dilengkapi dengan kebutekan jiwa dan raga, niat ke Dieng jadi afdol. Kali ini saya cerita tentang Sikunir dulu ya. Saya gak ada pikiran sama sekali kalau pergi ke sini mesti hiking. Pengetahuan saya tentang Dieng nol putul, yang saya tau Dieng cuma DATARAN TINGGInya. Baru H-sekian WA-an sama Rani trus dia bilang soal hiking. Oh… hiking ya… Saya nih termasuk golongan manusia yang diajak makan ayok, olahraga ogah.
BTW saya berangkat dari Gresik pukul 16.00 start di Masjid Nurul Jannah Petro, naik mobil HIACE. Mematuhi prosedur kesehatan, kami disemprot desinfektan dulu sebelum naik mobil. Sumpah mobilnya nyaman, sopirnya gak ugal-ugalan, tour guidenya jempolan. Tidur nyaman. Wkwkwk saya bantu promoin ya, karena recommended banget.
Berhenti di Rest Area KM-519 (kalo gak salah di Sragen) buat sholat dan ngopi. Teman-teman lain juga pada beli makan, tapi mendingan bawa bekal deh (thanks to Rani udah beliin nasi krawu) karena the price is so high… wkwkwk kayak makanan di bandara kata Rani. Kami cuma beli minuman anget (per cangkir 10K), saya juga beli kerupuk ikan yang harganya sama 10K. Lanjut ke Dieng, entah ada apa aja di jalan karena saya tidur wkwkwk…
Sebenarnya kami tiba lebih awal, tapi karena jadwal naik baru pukul 04.00 katanya kalau naik lebih awal udaranya dingin banget, kami parkir dulu dan lanjut tidur. Begitu mendekati jam 4 kami bangun dan mulai dimanjakan sama pedagang di kios kanan-kiri jalan. Mulai melek deh, karena dagangannya mulai beda dan belum pernah saya liat sebelumnya. Di sini kamu bakal disuguhi apa itu carica (pepaya Dieng), kacang Dieng, cabe Dieng, dll. Mulai awal liat, saya sudah niat bakalan beli kentang yang diolah pake semacam bumbu karamel (?) dan eng ing eng setelah melewati jajaran kios nampaklah tangga menuju Puncak Sikunir yang alamak… panjaaaang banget. Oh ya, sebelumnya, berbekal pengalaman hiking ke Bromo, dari berangkat saya sudah pakai rangkepan legging dan kaos. Jaket juga saya pilih yang tebel. Bayangin, dulu waktu ke Bromo dengan pedenya saya cuma pakai kaos oblong, jaket tipis, kayak mau jogging aja. Taunya temen-temen asyik foto lama, saya menggigil kedinginan sampe mau beku.

Naik ke Sikunir ini perjuangannya besar banget. Karena tinggi banget saya sempat beberapa kali berhenti karena takikardi. Pokoknya, jangan maksain. Santai aja. Menurut saya pendakian ini gak rekomended buat lanjut usia. Tapi itu menurut saya lho ya… nyatanya ada juga kok bapak-bapak dan ibu-ibu yang sukses sampai di atas. Di tengah jalur pendakian ada musholla yang lumayan buat ngaso bentar. Tapi jangan lama-lama, karena musholla semakin ramai. Banyak minusnya sih musholla ini. Terlalu kecil, jalur pria dan wanita juga gak dibedakan. Bayangin aja kalau sudah susah-susah antri wudhu trus kamu nggak sengaja nyenggol yang bukan muhrim. Susah dong antri lagi? Sebaiknya dibikinin yang agak gedean dengan pintu masuk berbeda. Tarif pemakaian air di sini 2.000 rupiah.

Dari musholla, kami lanjut ke pendakian lagi sekitar 200 meter. Lumayan dekat. Pokoknya, abis melewati musholla itu kita bisa legaan lah. Ada banyak spot untuk melihat sunrise. Kita bisa pilih mau lihat di sisi mana. Ternyata di puncak banyak yang bermalam pakai tikar saja lho!

Kebetulan kali ini peruntungan kami kurang baik. Kabut sangat tebal dan baru bisa melihat matahari sekitar pukul 6-an. Matahari sudah agak tinggi karena tertutup kabut. Saya sempat naik lagi karena tadinya turun dan ikhlas mataharinya nggak muncul. Orang-orang di puncak sudah pada teriak, “Huuuuuu…” lah dipikir matahari bakalan dengar apa ya kalo disorakin begitu? Nggak apa-apalah kebagian matahari di langit agak tinggi daripada nggak sama sekali. Berikut foto-foto saya di Sikunir:

Perjalanan turun tidak sesulit perjalanan naik. Waktu turun, ada beberapa pemusik lokal yang bernyanyi. Di sini saya misah sama Rani yang beli mie dan gorengan. Saya lanjut jalan sambil beli kentang yang saya pengen tadi (harganya 5.000/cup) dan pisang goreng serta arem-arem masing-masing 1.000 per potong. Abis gitu saya kembali ke mobil karena dikasih waktu sampai pukul 07.00 untuk sarapan di warung. Selanjutnya kami pergi ke Sikidang.

Favorite Quote/Dialogue

Favorit dialog sebenarnya pas Ikjun sama Songhwa sarapan di rumah Ikjun setelah Songhwa bermalam karena Uju demam. Pun saat Ikjun ikut acara makan departemen neurosurgery dan main game Truth or Drink, yang membuat dia mengaku bahwa dirinya menyimpan rasa kepada Songhwa. Intinya, aku suka semua interaksi antara Ikjun dan Songhwa. Tapi aku nggak dapet dialog fullnya. Beberapa quote favoritku yang lain sudah aku ‘abadikan’ lewat gambar:

Best Thing about The Drama

images (3)

Best thing about the drama?

Semua yang diceritakan di drama ini proporsinya seimbang menurutku. Yang tadinya aku mengharapkan banyak kasus medis yang dibahas, aku jadinya nggak keberatan disisipi banyak cerita persahabatan mereka. Plus, dibumbui dengan kode-kode yang misterius, maksudnya pemaparannya yang nggak secara langsung/implisit, yang memaksa penonton menyimpulkan sendiri maksud dibalik scene-nya. Aku juga sempat iri dengan persahabatan mereka, yang dibangun mulai tes masuk perguruan tinggi sampai jadi spesialis. Ya Tuhan, pengen banget punya temen seperti itu…

Aku juga sangat tidak keberatan dengan cerita Ikjun dan Songhwa. Menurutku itu adalah ‘penyemangat’ kenapa aku nonton drama ini secara maraton. Manis, tidak berlebihan. Bukan cerita cinta yang menye-menye ala ABG.

First Impression

fullsizephoto1182756

Seperti yang sudah aku ceritakan di postingan sebelumnya https://kikyrose.wordpress.com/2020/09/03/what-made-you-watch-hospital-playlist/ bahwa pertama kali nonton drama ini aku cuma ngintip dulu sebelum memutuskan drama mana yang harus aku tonton setelah Crash Landing on You: Itaewon Class atau Hospital Playlist. Episode pertama sebenarnya sudah membikin aku agak terobati karena kangen banget sama drama bertema medis. Jujur, ekspektasi awal adalah sama seperti drama-drama medis lainnya: aku berharap para tokoh di drama ini akan berada dalam satu divisi, misal unit UGD, Kamar Operasi, atau di Rawat Inap, intinya mereka adalah satu tim.

Namun kenyataannya, aku cukup dibuat bingung oleh episode pembuka drama ini karena ternyata tokohnya banyak dan mereka berada di divisi yang berbeda. Bahkan aku belum paham siapa saja yang merupakan tokoh utama dan tokoh figuran. Ya, aku memang belum melihat poster drama ini, jadi aku tidak tahu siapa-memerankan-siapa. Ternyata kelima tokoh utama ini benar-benar tidak ada yang berada di departemen yang sama: hepato-pancreatic-billiar surgery, neurosurgery, thoracoplastic, obstetry gynecologic surgery, dan pediatric surgery. Mampus. Kepalaku pun penuh saat itu juga karena artinya setiap dokter pasti punya pasien berbeda pula. Saat itu, pikirku ini akan menjadi drama yang multi-kompleks. Itulah kenapa aku meletakkan drama ini di posisi terakhir daftar tontonanku.

 

What made you watch Hospital Playlist?

Hospital_Playlist-P1

Lagi explore Hospital Playlist di twitter terus nemu 30 Days Hospital Playlist Challenge.

20200902_160121

Dasar akunya juga masih belum bisa move on, coba ikutan ah. Pertanyaan pertama Day 1: What made you watch Hospital Playlist?

Aku bukan penggemar drama sih ya. Kesukaanku sama Korea terbatas pada K-Pop dan Reality Show saja. Kebetulan 2020 ini banyak drama bagus. Awalnya aku cuma dengerin curhatan rempong dua teman kerjaku soal drama. Tau kan kalo orang-orang mulai menyukai tontonan yang sama: Ehm eh nonton ini gak, eh, eh semalem udah liat episode terbaru ini gak?

Plus, aku paling nggak suka nonton drama yang belum rampung. Kayak nunggu-nunggu episode selanjutnya gimana, ceritanya mulai klimaks, eh… abis. Makanya aku nunggu dengan sabar meskipun godaan menerpa satu drama selesai. Kebetulan teman-temanku mulai hype sejak Crash Landing on You. Mereka selesai nonton, aku baru mulai. Kemudian dijejeli lagi sama Itaewon Class dan Hospital Playlist. Ya, Hospital Playlist ini sebenarnya masuk urutan ke-3 Must to Watch Drama-ku. Karena temanya medis, aku ‘take a glimpse’ atau ngintip dikit episode pertamanya (mau ngomong first impressionnya gimana di Day 2). Sekedar tau aja, awalnya aku nggak tertarik makanya dia aku taruh di urutan ke-3.

Intinya, kenapa aku akhirnya nonton ini drama ya… karena:

1. Temanya medis, related sama profesiku.

2. Nggak ada tontonan lain 😅

Lempeng amat ya alasannya? Ya sejujurnya begitu… lalu kenapa bisa gagal move on dari drama ini? Kita lanjutkan besok. Masih ada 29 hari lagi kok. 🤗👐✌

Refleksi Diri

Sepertinya akhir-akhir ini saya kurang konsisten menulis di blog. Postingan terakhir saya pun di tanggal 4 Oktober tahun lalu. Kemudian saya berpikir, apa ya yang sudah saya lakukan sampai-sampai tidak lagi menulis secara teratur? Writer’s block, mungkin iya. Tapi dulu meskipun saya juga pasti mengalaminya, saya masih mau memaksakan diri untuk menulis. Apapun topiknya. Saya pun berusaha menjadi seorang yang kritis.

Dua, mungkin saja gadget sekarang sudah mengambil alih beberapa aktivitas sehingga kita teralihkan dan menekan sisi kreativitas. Dulu, sebisa mungkin sepulang dari kegiatan wajib misalnya kuliah dan kerja, saya memiliki bagian waktu tersendiri untuk mengetik cerita. Sekarang sepertinya karena ada kemudahan berbagai aplikasi streaming, kegiatan yang memacu kreativitas saya perlahan menghilang. Tidak bisa disalahkan juga sih beberapa aplikasi itu, harusnya kita pun bisa menyesuaikan diri. Kini saya sering bingung mengatur jadwal kapan menonton youtube, kapan streaming drama, kapan streaming reality show dan kegiatan produktif seperti membaca dan menulis kini tersisihkan. Novel dan majalah saya terus bertambah tanpa ada progresivitas yang berarti.

Apakah ada teman-teman yang juga mengalami hal yang sama? Apakah kalian menyalahkan aplikasi streaming juga?

Perjalanan ke Malang: Antara Angkutan Online dan Offline

Siang kemarin saya memutuskan untuk kembali menggunakan jasa transportasi online. Sudah bukan rahasia lagi kalau di setiap stasiun/terminal ada suatu area ‘steril’. Karena saya tidak tahu di dekat terminal Arjosari area ini melingkupi mana saja, pas drivernya telepon saya sudah siap disuruh jalan ke mana. Ternyata sekarang di sebagian tempat sudah punya Pick Up &  Drop Off Point.

Sudah pernah lihat tempat seperti itu, kan?

Eits jangan senang dulu… Ada cerita yang mau saya kasih tau. Ngobrol sama drivernya, awalnya saya juga bilang, “Enak ya Pak, sekarang udah ada tempat seperti itu. Jadi deket kalau mau naik Grab/Gojek.

.

.

.

Ya, tapi… (Ini di Malang, nggak tau di kota lain) Ternyata meski Grab/Gojek membayar untuk tempat tadi, si penjaganya ternyata bukan dari dua perusahaan tadi. Orang biasa. Jadi, kalau ada seorang driver (mobil) masuk area tersebut, drivernya bayar sebesar Rp. 6.000,- setiap masuk. Si Bapak bilang, “Nanti mau ya Mbak paruhan sama saya bayarnya?”

Bukan masalah saya nggak mau bayar atau enggaknya itu duit Rp. 6.000,-, saya cuma heran aja…

Sebenarnya orang-orang yang jagain dan nerima duit di Pick-Up & Drop Off Point tadi kerja apaan?

Mohon maaf sebelumnya, kalau saya salah mohon diluruskan. Karena beberapa orang di dunia ini banyak yang ogah bergerak meski tahu dirinya salah. Gini lho, maaf ya, saya kok punya pikiran bahwa kita banyak yang melakukan hal-hal yang tidak perlu?

Menurut mereka mungkin mereka sedang menjaga keamanan… Padahal..? Rp. 6.000,- tadi (aduh sampe gak tahu mau nulis apa) malah bikin tekor rejeki orang bukan?

Tarif sebenarnya yang tertera di aplikasi adalah Rp. 30.000,- dan Rp. 6.000,- tadi di luar itu. Ampun saya geleng-geleng kepala… Tau kan maksud yang ingin saya sampaikan?

Apakah selama ini mereka merasa nyaman melakukan hal tersebut?

Sambil menunggu driver masuk kandang macan, mereka mah nyante ngopi, ngebakso…

Nggak cuma di situ. Si drivernya cerita kalo misal dia pick up penumpang di jalur yang dilewati angkotnya, sering dia kena labrak sopir angkot. Dia pernah ngalamin supir angkotnya turun dan ngedatengin dia. Saat itu dia langsung nge-cancel orderan sebelum mulai. Makanya dia lebih suka jemput di area perumahan yang masuk-masuk gang gitu.

Belum lagi kalo dia nganter/jemput ke mall. Beruntung sekarang mall udah nggak bayar kalo masuk buat jemput/ngantar semenjak ada Transmart (mall lain pada ikutan). Kecuali MATOS. Dia tetep bayar. Kalo jemput di pintu mana gitu bayarnya Rp. 3.-000,- kalo ke area mana lagi Rp. 6.000,-.

Spontan, saya langsung komen, “Ya ampun Pak, banyak bener aturannya?”

“Itulah Malang Mbak… Banyak premannya.”

“Padahal milih modal transportasi kan pilihan, Pak?”

Ya kan? Pasti lah banyak pilihan. Kalau mau yang lebih privasi gini kita pasti berani bayar lebih juga, kan? Mereka yang kerja di Grab sama Gojek juga kerja lo. Ngejar target juga, kan? Mau ngantriin kita beli makan juga. Wira-wiri juga. Mau dibayar non-tunai juga padahal mungkin dia lagi butuh uang tunai saat itu. Sama, tiap orang punya struggle-nya sendiri, euy!

“Makanya Mbak, orang yang udah paham mau pake jasa online turunnya sekarang jauh-jauh dari terminal.” Ah ya, ya. Tadi emang dadakan tiba-tiba kepikiran nge-Grab. Awalnya mau ngangkot tapi kok makan waktu banget langsung kepikiran kok nggak nge-Grab aja.

Belum lagi karena saya saat itu minta diantar ke stasiun…

Di stasiun nanti pasti udah ada yang nungguin. Para tukang parkir itu minta dijatah Rp. 2.000,- per kendaraan online.

Duh soro…

Saya nggak tahu menahu sih gimana Peraturan Pemerintah tentang kendaraan online ini. Menurut saya, masyarakat masih belum siap menerima persaingan seperti ini. Mereka membiarkan dirinya menjadi preman dan mengambil uang yang entah dinamakan apa itu?

Rasanya, omongan :

“Rejeki udah ada yang ngatur.”

“Rejeki gak bakal ketuker.”

Semua orang pada tau, udah sering dengar, tapi nggak banyak yang bisa ikhlas menerima.

Pas udah sampai di stasiun, drivernya minta maaf sama saya.

Saya bilang nggak apa-apa Pak, saya yang harusnya minta maaf. Ya kan… Jadi sama-sama nggak enak padahal nggak ada yang salah. Meski saat itu saya lebihin duit Rp. 5.000,- tetep aja kan bapaknya kayak masih tekor sama pungli. Di deket terminal Rp. 6.000,- + di deket stasiun Rp. 2.000,- jadi Rp. 8.000,- ye kan? Tapi bapaknya tadi bilang mau paruhan yang Rp. 6.000,-. Hm pusing dah tuh mikirin tarif pungli!

YANG HARUSNYA MEMANG NGGAK USAH KITA PIKIRIN!!!

Maaf maaf nih, nggak usahlah jauh-jauh kita protes tentang KPK dan para penjabat pemerintah yang korupsi.

Memberantas korupsi itu dimulai dari diri sendiri, dari yang terkecil. Kalo rakyat kecilnya aja korup, gimana jadinya kalo jadi wakil rakyat?

Day 3: Come Back to East Java!

I purposely save the third day to stayed in hotel because I aware I would have body sore, especially my leg. For my hand, it still burn and little bit pain. 8.30 I got my breakfast (I won’t make the same mistake like yesterday). I’ve done packing on 11.45 after had my pray (jamak Dhuhur + Ashar). I returned the motorbike in the hotel lobby, and ordered GrabCar. The driver was so nice (I think all the drivers I ordered so far were so nice) and asked me where I would go back that day. I said I’d go to Surabaya and he asked me again was I satisfied enough in Yogyakarta. I said Noooo. It was not enough exploring Yogyakarta just in two nights! There were so many destination that I hadn’t visited yet and I just realized that the location was near each other or I just found in a way.

The driver said, you’ll get enough exploring Yogyakarta if you took 3 days. Okay, Mr. Driver of course I would, but what about my work then? 😅

I arrived at station at about 12.30 and my train schedule was 2.35 pm. I bought some snacks and beverages. My hands were so full with souvenirs, my travel bag and a bag of my snacks and beverages. Lempuyangan station wasn’t like Gubeng because Lempuyangan was a small station so it was crowded and hot. I tried to wait calmly and just played with my phone. On 1.30 I moved near the railway while bought a package of chicken and rice for Rp. 20.000. I got my ticket checked and again, I waited.

An incident happen. I got in a Pasundan/179 train and sat confidently. But then I asked a mom (I never humble with people but thanks this time I started a conversation!) about where will she go. She named a station that I never heard and I asked where is that. She said Bandung! I asked again about the destination of the train, was it go to Surabaya and she said No! It was going to go to Bandung. God, I panic instantly, I got my bags and thanked the mom but the way to get down still crowded with people… I felt sorry because of panick, I think I crashed into some people and kids… 🙏

I put my bags and realize that my snacks and beverages weren’t on my hands… It was okay, I bought one more time: a bottle of tea, and a package of chicken and rice. I waited again and realize one thing:

THAT THE NAME OF TRAIN MAY CAN BELONGS TO MORE THAN ONE TRAIN. YOU MUST REMEMBER THE TRAIN NUMBER.

Like in my case, my train also named Pasundan but the number of my train was 180.

Okay, my train in fact was delayed. It came on 2.46 pm. Again, I felt it was okay but what made me feel annoyed was the staff was so hurry. The passengers weren’t already get down completely and we weren’t got in but they announced that the train will get off. I hate being hurry!!!

Plus, this train almost stopped in every station for 15 minutes.

I arrived in Gubeng at about 10 pm. I pay the parking fee for Rp. 34.000.

 

Here is my cost for 3D2N travelling to Yogyakarta (some of these are estimate because I’ve lost the bill):

Day 1 = Rp. 814.000

Train ticket (1 round-trip) Rp. 173.000 (I took economy class)

Hotel 2 nights Rp. 430.000 (of course you can choose the cheaper one but I think because I travel alone, I want a comfort room, not a creepy one)

Snack & beverages Rp. 19.000

Roti-O (with OVO) Rp. 20.000

Motorbike rent Rp. 80.000

CFC Rp. 32.000

GrabCar Rp. 15.000

Parking Fee @Tugu Rp 2.000

Parking Fee @Malioboro Mall Rp. 3.000

Dinner (Nasi Bebek) Rp. 40.000

 

Day 2 = Rp. 451.000

Snacks and beverages Rp. 19.000

Puncak Beteng Box Rp. 2.000

Parking Fee @Hutan Pinus Rp. 2.000

Hutan Pinus Ticket Rp. 3.000

CFC Rp. 30.000

Parking Fee @Prambanan Rp. 3.000

Prambanan Ticket Rp. 50.000

Motorbike Fuel Rp. 22.000

Parking Fee @Malioboro Mall Rp. 3.000

Souvenirs Rp. 295.000 (it’s depend on you)

Parking Fee @Lempuyangan Station Rp. 2.000 (some of souvenirs I bought available there)

Dinner (Bakmi Jawa) Rp. 20.000

 

Day 3 = Rp. 210.000

Addition of motorbike rent Rp. 80.000

GrabCar Rp. 15.000

Snacks and beverages Rp. 31.000

CFC and Chicken & rice Rp. 50.000 (with OVO Rp. 20.000)

(Remember I bought twice because I’ve lost one in the wrong train)

Parking Fee @Gubeng station Rp. 34.000

 

So, the total of the cost is Rp. 1.475.000

Or you can estimate Rp. 1.500.000 for all.

Is it worthed? You can evaluate me.

I think you can reduce the fee for hotel and motorbike rent.

 

 

 

 

 

 

 

Day 2 at Yogyakarta

Day 2

Before I told my journey, I want to tell you about parking ticket in Malioboro Mall. It can be the perfect place to park your motorbike when you walk along Malioboro. You will pay Rp. 2.000 for the first hour but then they will ask you Rp. 1.000 per next hour. Maybe it will make you to not to stay too long in the mall? 😂 Plus, they won’t ask STNK for the prove.
I woke up at 5 for Subuh but I slept again 😂 because my concept for travelling is “ENJOY YOUR TIME”. I don’t like to go rush that’s why I made some list for destinations. I got little bit annoyed because my list a bit mess. I want to go to indoor destinations first because I won’t get sweat, but those places not opened yet.
I started 2nd day journey without breakfast (I rarely had one, but then I realized that I must got my breakfast from hotel but I didn’t take it 😭). I went to Museum Affandi that opened on 9 am. I arrived there before it opened so I went to Indomaret just for bought some Sari Kacang Ijo and tea pack (the main idea is to change my money). I waited until 9.08 but the museum is not opened yet. I didn’t want to wasting time, then I go to Sonobudoyo Museum that had an art event, but it also not opened yet. Hmmm… The third indoor destination is Mogus House but I won’t go because I’m afraid it will be the same (when I went there in the evening, I couldn’t find the place). Unlucky me for the indoor places…

 

(Museum Affandi)

So I change my destination to Mangunan (Puncak Beteng Jatisari).
1. Puncak Beteng Jatisari Mangunan
It was a little bit far, the way was up and down to the mountain (or hill?). I arrived on about 10.30 and took photos until 10.45. I spend a little time because there was almost no one there. The ticket was free but they took a box if you wanna give money. It was hooot already, so I took a sip of my drinks, then I opened my Google Map to find another destination near there. Because I think the way was far, if I went back already it just wasting time, right? It was out of my list.

 


2. Hutan Pinus Imogiri
It was not far from Puncak Beteng. I arrived there on about 11. Thank God I made it here. The parking fee was just Rp 2.000 and the ticket to the forest  was JUST Rp. 3.000 per person! It was so coooool! So I sit down and wrote part of my blog there. I planned to stay there till Dhuhur.

 

After cooling down in the forest, I set my Google Map back to Yogyakarta. I felt I must get my lunch everywhere I could go. Again, I choose CFC 😔 because it was easy to find. I went to a departement store called Progo. Again, I can’t connect my GoPay. Hmmm… What happen with the connection? There, I found that my hand had burn and that little bit pain.

IMG20190921140451.jpg

At about 2.30 pm I set my Google Map to Candi Prambanan.

3. Candi Prambanan

I think it will be the highlight for my journey. That was so far enough and the traffic was a little crowded at some points. I rode my motorbike so slowly for the safety and I felt I was on ‘another land’ so I must be careful. When I arrived, it already Ashar. At about 4 pm I went in the temple area. The ticket was Rp. 50.000 for adult. I had an hour before it closed.

 

After had Ashar pray, I back to hotel and fill the motorbike tank. I refreshed myself until Isya then I went back to Malioboro to bought some batik and souvenirs.

The Way I Am

Live everyday as if it was your last

MAT

Mathematics + Assessment + Technology

Another Side About Princes Bee

Sebuah Cerita tentang seorang Princes Bee - yang akan kuukir dalam sebuah tulisan. Satu cerita dengan beribu warna dan berjuta rasa di dalamnya

The Ordinary Trainer writes ...

tidak bohong - tidak nyontek - tidak jorok

seagirll

Travel

Cristian Mihai

builds stuff

Shannon A Thompson

Author. Speaker. Librarian.

Grady P Brown - Author

Superheroes - Autism - Fantasy - Science Fiction

Critical Dispatches

Reports from my somewhat unusual life

On The Heath

where would-be writer works with words

SHINe!

Back Again ^o^

my colorfull life

make your dream come true

Kioro

Street Photography & Travels

yusridacassie0217's Blog

The greatest WordPress.com site in all the land!

mriixah

The greatest WordPress.com site in all the land!

ngocsn2695

A topnotch WordPress.com site

MuseBoxx

Space to Create

titykim's Blog

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever